Kapankah datangnya masa pencerahan itu, age of illuminism?.
Selalu terdengar bahwa anak-anak muda generasi masa depan menjadi harapan untuk membawa perubahan, wind of change. Anak-anak muda ini katanya memiliki idealisme dan energi yang luar biasa untuk melakukannya. Bahkan Sukarno, bapak proklamator itu sampai menyebutkan begini :”berikan aku seribu anak muda yang nasionalis, maka akau akan mengguncang dunia”.
Dan sejarah telah banyak membuktikan itu. Sumpah pemuda, adalah ide orisinil dari anak muda yang mengandung visi jauh melampaui jamannya. Lalu pergerakan menuju kemerdekaan, di situ anak muda mengambil peran penting dan krusial.
Rezim orde baru berdiri oleh darah dan peluh keringat anak muda. Dan ketika anak muda merasa negaranya dikangkangi oleh pasar, mereka bertindak dan meletupkan peristiwa MALARI. Dan ketika orde baru sudah dipenuhi kolusi, korupsi, dan nepotisme maka anak-anak muda ini juga bergerak meruntuhkan orde baru dan mendirikan orde reformasi. Sampai saat itu, anak muda selalu berdiskusi dan berdebat terbuka yang dinamis, dan lalu turun melakukan aksi nyata di lapangan. Mereka melakukan tindakan nyata.
Bagaimana kini?
Orde reformasi menyebarkan virus KKN jauh lebih massif dan lebih terstruktur dibandingkan terhadap KKN pada rezim orde baru. Sebuah provinsi dikangkangi oleh satu keluarga, mulai dari gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil, DPRD dan BPK, dalam sejarah hanya terjadi pada rezim reformasi ini. Bahkan pada era rezim orde baru (pak Suharto) hal seperti ini tidak pernah ada.
Korupsi di era rezim orde baru terpusat di Jakarta. Tetapi pada era rezim reformasi korupsi menyebar dan meluas dari Sabang sampai Merauke, dari pusat sampai daerah, dari level tertinggi sampai lurah. Selain itu juga korupsi makin dalam, sehingga jumlah uang negara yang ditilep selama 10 tahun rezim reformasi sudah jauh melebihi jumlah uang negara yang ditilep selama 32 tahun rezim orde baru.
Pada rezim orde baru, kolusi birokrat-pengusaha terjadi di tingkat pusat. Pada rezim orde reformasi kolusi birokrat-pengusaha terjadi di semua level dan semua lini. Menurut Ahok, selembar ijin tambang bernilai 1 miliar rupiah, dan selembar ijin perkebunan sawit bernilai 10% dari biaya. Dan selembar ijin impor daging sapi bernilai 50 miliar rupiah, meski ijin itu mencekik peternak lokal. Kolusi birokrat-importir pangan membunuh para petani lokal, itu demi komisi per kilogram bahan yang diimpor.
Jumlah alasan untuk meruntuhkan rezim reformasi sesungguhnya sudah jauh lebih banyak dibanding jumlah alasan saat rezim orde baru diruntuhkan. Tetapi tidak ada yang bergerak ke Monas, tidak ada yang bertindak di bundaran HI, kampus-kampus sepi senyap, atau di mana sajapun, nihil.
HAI ANAK MUDA, DI MANA KALIAN ATAU KE MANA KALIAN?
Anak-anak muda kini banyak yang naik kelas menjadi kelas menengah sejahtera. Mereka memiliki Blackberry, ipad, tablet, mobil, dan terkoneksi ke jaringan internet global, nyaman. Kini anak-anak muda kelas menengah ini mengubah arena aktifitas politik dari lapangan Monas atau bundaran HI ke media sosial di dunia maya. Ciri khas mereka sekarang adalah trend yang sangat mudah berubah, opini yang dengan enteng berganti, dukungan yang mudah diberikan dan gampang dicabut. Kicauan di tweeter didominasi oleh suara mereka.
Dan itulah letak masalahnya. Trending topik mereka telah bergeser ke merek HP paling gress, mobil keluaran terbaru, pembantu yang mudik, merek parfum paling wangi, pakaian dan sepatu model terkini. Memang terkadang kicauan politik mereka di media sosial begitu riuh rendah dan terkesan sangat berani, dan tidak seorangpun dapat mempengaruhi apalagi mengaturnya. Tetapi kicauan saja tidak akan mengubah apapun, dan lagi pula topik kicauan akan dengan segera berganti saat Apple merilis ipad terbaru atau Samsung merilis tablet terbaru.
Anak muda kelas menengah ini kini terputus hubungannya ke kelas di bawahnya, akar mereka tidak lagi menghujam ke bawah tetapi menggantung ke atas dengan nyaman. Seperti burung peliharaan di sangkar emas yang diberi cukup makanan, dipelihara khusus untuk berkicau, ngetwit kata mereka.
Dunia maya menghasilkan hasil semu.
Ah, kau ini apatis dan pesimis. Masih ada anak-anak muda idealis dan nasionalis. Ya, itu saya tahu, tetapi jumlahnya teramat sedikit. Kalau memakai rumusan Sukarno, jumlah anak muda yang idealis dan nasionalis itu kurang dari seribu. Buktinya kita tidak bisa mengguncang dunia, tetapi dunia yang mengguncang kita.
Nyaman berkicau dari dalam sangkar emas, tidak ada yang ingin mengubah hal itu.
Simbol tweeter itu memang burung, ya kan?