Tiap kali melihat foto Bung Karno, Bung Tomo, Panglima Sudirman, isi dada saya seperti muncul gelegar. Bergetar dan merasa lebih gagah dan tampan. Merasa lebih percaya diri dari sebelumnya. Ketika merasa pesimis akan kehidupan, langsung berasa bergelegar kembali.
Ah, saya teringat masa kuliah dulu. Ketika gugup menghadap dosen kala bimbingan skiripsi. Rasa panik dan takut gagal menghantui, membuat saya kondisi psikis saya kelimpungan. Seringkali ketika alami kondisi kejiwaan yang lemah, pesimis dan minder, saya hening sejenak. Membayangkan tokoh-tokoh bangsa. Saya bayangkan diri saya adalah Jenderal Ahmad Yani yang gagah. Atau Bung Karno yang lihai berdiplomasi. Dan, hasilnya selalu ajaib. Kekuatan psikologis saya bertambah.
doc–berdikarionline.com
Bahkan dalam urusan asmara, saya juga mempraktekkannya. Sering ketika saya dicekam rasa takut minder, dan pesimis ketika jatuh cinta pada wanita, sehingga gemetar untuk menembaknya, saya membayangkan Bung Tomo di atas podium. Sontak muncul gelegar takbir di dada, di dalam kepala. Dengan tangan mengepal saya kemudian bertakbir tiga kali, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Kemudian, berangkatlah saya dengan hati gagah perkasa menuju rumah wanita idaman :D .
Dalam urusan-urusan lain, ingatan akan para tokoh bangsa tersebut bagi saya—bak guru tak tampak. Mereka hadir dan memberikan dorongan, wejangan dan kekuatan harapan yang agung. Kegagalan, stres dan rasa frustasi akibat masalah tertentu, kerap berganti semangat daya juang yang kuat dengan mengingat beliau-beliau.
Betap menjadi gelegar batin, ketika saya terngiang pidato Bung Tomo:
selama banteng-banteng batin Indonesia masih mempunyai darah merahyang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga
Oh, amboi. Betapa semua itu, bagi saya berasa begitu hebat, kokoh, tangguh dan berkharisma. Saya tak benar-benar tahu apa penyebabnya. Mengapa ketika saya membayangkan diri saya seperti tokoh-tokoh tersebut, sontak mempengaruhi kekuatan jiwa. Barangkali, hal tersebut karena efek imajinasi. Kharisma imajinasi yang tumbuh dan berakar sejak masa kecil.
Sejak kecil, melalui dongeng, cerita-cerita pengantar tidur, buku bacaan dan televisi, kisah-kisah herosime para pahlawan selalu tak luput diceritakan ulang. Saya masih ingat, betapa heroiknya masa-masa sekolah dasar (SD) jika sudah menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Merinding semua bulu kuduk.
Bagaimana dengan Generasi Sekarang?
Sisi pembeda generasi zaman ini dan zaman sebelumnya adalah teknologi. Teknologi berkembang begitu pesat. Jika dulu para orang tua senang mendongeng, di malam hari orang tua zaman sekarang rata-rata lupa diri depan televisi dengan tayangan-tayangan super dramatis nan mustahal. Sedangkan di siang hari, mereka pagi-pagi sudah melesat ke tempat kerja.
Jika zaman dulu, anak-anak sibuk bermain di halaman dengan riang, kini mereka sibuk nan tegang di dalam kamar. Entah main gadget, game, atau malah nonton video mesum melalui handphone. Di sekolah mereka, seperti banyak diberitakan media, kerap bolos. Bahkan sepulang sekolah keluyuran tak jelas.
Ada banyak berita menyebutkan, mereka kedapatan bermain di bilik-bilik warnet dengan suara-suara yang aneh. Di panggung nasional, banyak para pemimpin menjadi pemberitaan buruk, korupsi, video mesum, adu jotos, sampai cara komunikasi yang sarkasme dan tidak mendidik.
Fenomena-fenomena zaman sekarang seperti tergambar di atas, adalah perkara umum terjadi di mana-mana. Bisa disimpulkan, bagi anak-anak zaman sekarang, tayangan televisi, internet dg segala rimbanya, dan buruknya keteladanan keluarga dan pemimpin adalah sumber ilham dan inspirasi nilai mereka. Semua itu menjadi guru atau pahlawan tak terlihat mata bagi mereka. menuntun dan membimbing pembentukan identitas.
Pertanyaan saya kemudian, apakah anak-anak zaman sekarang memiliki pahlawan? Pahlawan yang menggetarkan pikiran, pahlawan yang menginspirasi jiwa, dan pahlawan penuntun di alam bawah sadar mereka?
doc–guruhmuamarkhadafi.blogspot.com