Model ”Cyber Guerrilla Opinion’‘ diakui pertama kalinya di Indonesia ini dipelopori oleh kelompok triomacan2000. Kelompok yang mengklaim kultwitnya berasal dari informasi yang masuk katagori A karena memperolehnya dari sumber-sumber intelejen itu, sempat membuat beberapa pejabat dan instansi Negara di negeri ini menjadi panas-dingin dibuatnya. Hingga hari ini pun sang macan ini tetap berkicau, meskipun kicauannya tidak lagi mendapat perhatian sebesar saat yang lalu. Dan, opini yang ditulis triomacan di tweet tentang majalah TEMPO seperti yang dipostingkan si ‘jilbab hitam’, sebenarnya sudah pernah dilakukannya pula jauh hari sebelumnya. Coba baca saja kultwit simacan berikut ini:
- Mayoritas Media Massa Nasional Jadi Pelacur Pembentuk Opini Palsu Jokowi by @TrioMacan2000
- “PENGECOHAN BUNDA PUTRI VERSI TM2000 OLEH TEMPO” BY @TrioMacan2000
- KEBOHONGAN (lagi duh) Majalah TEMPO dlm Laporan Utama “TERSERET SIMULATOR” by @TrioMacan2000
- Mistery Bunda Putri: TEMPO bagian dari Mafia Korupsi? By: @TrioMacan2000
Lahirnya bentuk baru jurnalisme dunia maya yang bertindak layaknya pasukan gerilya ini dalam membentuk opini publik, bukan tanpa alasan tentunya. Salah satu sebabnya adalah akibat rasa frustasi sebagaian anggota masyarakat yang sadar informasi, bahwa informasi yang beredar di tanah air belakangan sangat-sangat berat sebelah (asymetric information), akibat dikuasainya media mainstream pemberitaan di tanah air oleh pemodal besar. Kalau boleh menunjuk batang hidungnya, perusahaan media nasional belakangan ini hanya dikuasai oleh segelintir pemodal besar saja, sebutlah nama seperti Irsan Tanjung, Dahlan Iskan, Ical, Paloh, Harry Tanoe, dan kelompok Kompas-Gramedia. Dampaknya pun bisa diduga, yaitu arus pemberitaan hampir sebagian terbesar cenderung hanya berpihak kepada kepentingan pemodalnya semata. Ini menyebabkan munculnya istilah yang disebut sebagai ketidak-adilan arus pemberitaan (a symetric information), dengan pemodal besar pemilik media itu pada posisi yang mendikte arus informasi di masyarakat menurut kepentingannya sendiri.
Kehadiran media sosial (medsoc) sebenarnya mencoba mengatasi ketimpangan akibat dominasi pemberitaan oleh kelompok kuat modal itu, tetapi tetaplah terbatas ‘coverage’nya. Bahkan medsoc paling bebas seperti Kaskus ini pun, tak lepas dimiliki oleh kelompok pemodal kuat di tanah air, grup Djarum, sehingga kalau terkadang ‘kurang netral’, bisa dimaklumilah! Nah, semangat kelompok ‘keyboard warrior’ di internet pasti akan mencari jalan dan celah-celah untuk “menyeimbangkan” informasi pemberitaan itu, meskipun dengan melakukan gerilya opini. Tidak semua media on-line bisa dikontrol pemodal besar, dan akan tetap ada media-media sosial yang menjadi sempalan atas dominasi para pemodal besar di media itu.
Celah inilah yang belakangan mulai banyak dimanfaatkan oleh ‘keyboard warrior’ macam si triomacan atau si jilbab hitam diatas itu. Benar atau salah isi informasinya, tidak lagi menjadi penting bagi gerilyawan opini di internet itu, seperti yang diucapkan oleh seorang netter: “Kalau dengan gerilya opini di media-sosial bisa menang, kenapa harus terang-terangan (melawan arus besar mainstream pemeritaan yang dikuasai pemodal besar itu). Rasio kecil tapi daya rusaknya kan nendang banget, sampe tempo repot repot klarifikasi“. Tapi apa yaa dipercaya publik? Pertanyaan seperti itu tak penting lagi, sebab publik yang melek informasi pun sudah mengalami krisis kepercayaan dengan isi pemberitaan/informasi yang disebar oleh media mainstream (baik televisi atau media on-line) karena keberpihakannya itu. Mereka cenderung beralih mencari informasi alternatif seperti yang ditulis oleh ‘keyboard warrior’ di dunia maya. Toh tak sepenuhnya isinya bohong, HOAX atau fitnah. Terkadang banyak informasi yang disebar para ‘keyboard warrior’ itu yang sama sekali tak terfikirkan oleh kita semua. Dan kalau itu hanya HOAX, tak akanlah membikin kebakaran jenggot para tokoh dan lembaga yang sudah mapan dan ’status quo’ itu yang merasa terusik dengan beredarnya informasi seperti yang ditulis si jilbab hitam atau si triomeong itu, bukan? Makanya, saya menduga kuat, ke depan ini (terutama ketika pemilu dan pilpres semakin dekat), gerilya opini dunia maya seperti ini dipastikan akan semakin marak. Siap-siap ajalah kita menerima kenyataan seperti itu.