Dewan Kesenian Tulungagung dan Matinya Seni Tradisi


Bertempat di kediaman Kolonel purnawirawan H. Komari, 9 Nopember kemarin, Dewan Kesenian Tulungagung [DKT] menggelar malam pertemuan bertajuk Sarasehan Seni Dan Budaya Tulungagung 2013, dalam rangka deklarasi DKT kepengurusan 2013-2018 dan peresmian sekretariat sementara DKT. Acara ini sekaligus untuk memeringati hari jadi kabupaten Tulungagung ke-808 yang jatuh pada 18 Nopember. Selain para pengurus inti, acara dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata, Bakesbang, museum Wajakensis, dan para seniman budayawan Tulungagung yang tidak masuk kepengurusan DKT.



Kumandang gagah lagu Indonesia Raya menjadi pembuka acara, disusul pembacaan deklarasi DKT kepengurusan 2013-2018 oleh sejarawan Haris Daryono Ali Haji, salah satu Pembina DKT, lalu Pembina DKT lainnya, Kolonel purnawirawan H. Komari, naik panggung menyampaikan kalimat sambutan atau orasi budaya. Selesai pemotongan tumpeng sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas bangkitnya DKT dan terbentuknya sekretariat sementara, acara disambung dengan rangkaian tampilan karya seni seperti musikalisasi puisi dan kolaborasi pembacaan cerpen dengan seni tradisi Mocopatan.



Selanjutnya puncak acara dibuka, Sarasehan Seni Dan Budaya Tulungagung 2013 dengan narasumber Untung Mulyono, pakar seni tari dari ISI Yogyakarta kelahiran Tulungagung. Banyak hal yang dibedah Untung Mulyono pada malam pertemuan itu, salahsatunya perkembangan seni tradisi Tulungagung.



Hampir semua daerah berbudaya Mataraman memiliki kesenian tradisi berupa wayang kulit, ketoprak, dan jaranan. Tulungagung juga demikian, memiliki tiga seni tradisi khas Mataraman itu. Akan tetapi Tulungagung memiliki seni tradisi yang khas seperti tradisi Ulur-Ulur, jamasan Tombak Kyai Upas, tarian Lelangen Beksan, Tiban, juga Kentrung. Bahkan sebagai daerah berbudaya Mataraman, Tulungagung memiliki kelebihan yang tidak dipunyai daerah berbudaya Mataraman lainnya, yaitu seni tradisi Reyog Kendang Tulungagung.



”Semua seni tradisi itu dapat menjadi ikon Tulungagung,” kata Untung Mulyono. “Hanya yang perlu diperhatikan, bagaimana segala seni tradisi Tulungagung bertahan hidup di jaman moderen ini. Untuk menahan kematian seni tradisi, para seniman harus memiliki keberanian menginovasi seni tradisi dengan unsur-unsur moderen.”



Masih menurut Untung Mulyono, keberanian dalam berkesenian di jaman moderen ini terasa sangat penting dan mendesak. Luntur dan punahnya seni tradisi, terutama disebabkan karena para pelaku atau pegiat seni tradisi kurang atau tidak memiliki keberanian menginovasi seni tradisi. Tak heran jika generasi muda banyak yang alergi atau menjauhi seni tradisi karena dianggap sebagai hasil peradaban jadul ketinggalan jaman.



Dosen ISI Yogyakarta yang hobinya jalan kaki itu juga menegaskan, bahwa kesenian dalam bentuk apapun, tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Sekali lagi, kata Untung, sebagai kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, seni tradisi berkemungkinan punah atau mati, jika sudah ditinggal seluruh penganut atau masyarakat pendukungnya. Dalam upaya menjaga kelangsungan hidup atau kelestarian seni tradisi, Untung Mulyono mengingatkan utamanya pada para pelaku seni tradisi Tulungagung yang hadir dalam malam pertemuan itu, supaya bersikap terbuka menyongsong perubahan jaman.



“Kita harus mengikuti konstelasi budaya,” tegasnya. “Perubahan jaman tidak dapat dibendung. Ia akan terus bergerak. Yang perlu dilakukan adalah mengikutinya tanpa harus terbawa arus. Seni tradisi harus menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Seni tradisi harus diinovasi atau harus ada warna baru, memasukkan unsur moderen, namun tetap menggunakan idiom-idiom tradisi.”



Bagaimanapun kebudayaan sebagai hasil peradaban manusia senantiasa berubah dari jaman ke jaman. Pada kesempatan itu, Untung Mulyono berpesan kepada jajaran pengurus DKT untuk senantiasa mengakomodasi segala potensi, tidak menutup sesuatu yang baru.



”Sebagaimana telah kita ketahui”, katanya, “bahwa seni tradisi berkemungkinan mati. DKT tak perlu repot menggali yang sudah lama mati. Yang perlu dilakukan adalah menjaga yang masih hidup. Tapi harus berani membangun wajah baru yang kreatif supaya kesenian tradisi Tulungagung tetap lestari seturut perkembangan jaman.”



13842545761175270825

Untung Mulyono menari di depan para senman dan budayawan Tulungagung dalam Sarasehan Budaya Tulungagung 2013.



Wajah baru yang diinginkan Untung Mulyono sebenarnya sudah ditampilkan malam itu melalui pembacaan cerita pendek berjudul Lingkar Serimpi oleh penulisnya sendiri, Bunda Zakyzahra Tuga dari Komite Sastra DKT, berkolaborasi dengan alunan tembang Mocopat oleh Handoko dan Retno dari Komite Tradisi DKT.



Perkawinan antara cerita pendek dengan Mocopatan, menurut Bunda Zakyzahra Tuga dan Handoko, merupakan salah satu setrategi melestarikan seni tradisi Jawa yaitu Mocopatan yang selama ini semakin terpinggirkan.



Meski batal diiringi alat musik gamelan, Mujilan, dari komite Tradisi unit Jaranan, juga tersentuh melihat cerita pendek yang notabene karya sastra moderen, ternyata mampu berpadu dengan seni tradisi Mocopatan.



Terkait pelestarian seni tradisi lokal, koordinator museum Trowulan untuk wilayah Trenggalek dan Tulungagung, Haryadi Pamungkas, berharap, DKT tidak pilih kasih dalam memajukan kesenian tradisi di Tulungagung. Misalnya, karena dalam kepengurusan DKT banyak pelaku seni tradisi Reyog Kendang dan Jaranan, yang dimajukan hanya dua seni tradisi itu.



”Jangan sampai ada penganaktirian dalam kesenian,” tegasnya. “Semua seni tradisi Tulungagung harus dikembangkan bersama.”



Sementara Cinde Laras bilang, masadepan kesenian Tulungagung sesungguhnya milik para generasi muda. ”DKT harus memiliki aksi mengakomodasi segala potensi mereka, seperti membuka ruang untuk pelaksanaan aneka lomba karya seni. Jadi eksennya ada lomba-lomba dan pengenalan seni tradisi dan budaya pada anak muda,” imbuh sastrawan yang pernah menjadi guru teladan tingkat nasional itu.



Terkait peran DKT, Untung Mulyono menekankan pentingnya komunikasi antara DKT dengan berbagai pihak, terutama pemerintah dan DPRD. “Semoga Dewan Kesenian Tulungagung mampu menjalin kerjasama dengan legislatif maupun yudikatif untuk mendapat dana secukupnya, menunjang pergerakan organisasi kesenian ini termasuk dalam pelestarian seni tradisi Tulungagung. Tanpa dana, meski mampu berjalan, tetapi langkahnya pasti pincang”.



Selain itu, DKT juga harus membangun komunikasi dengan semua komponen kesenian. Mengakomodir seluruh seni tradisi Tulungagung. Kaum kejawen, katanya, juga harus diperhatikan karena merupakan penjaga utama kebudayaan Jawa.



Menanggapi harapan itu, ketua II DKT, Galih Ahmad, menyampaikan bahwa DKT akan tetap eksis tanpa mengurusi hal-hal formal. Sekretariat sementara DKT di kediaman colonel purn. H. Komari, terbuka bagi siapa saja, untuk diskusi dan kegiatan lain yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan.



”Yang perlu kita yakini,” kata Galih Ahmad yang memang hobi ngocol, “meski bolehjadi sempat mampir neraka, akan tetapi seniman sejati dijamin masuk sorga, karena dalam setiap hidupnya senantiasa dibaktikan untuk menggembirakan orang lain. Karena pengabdiannya untuk kepuasan orang lain.”



13842546921942596331

Kelompok Macapat Puspita Laras Boyolangu bersama para sesepuh dan tokoh seniman Tulungagung.



Sampai akhirnya Sarasehan Seni dan Budaya Tulungagung 2013 ditutup penampilan kelompok Mocopatan Puspita Laras dari Boyolangu yang menembangkan Dhandanggula berjudul Babad Tulungagung.



Meski demikian, bulan Sabit malam itu, tetap setia ngintipi beberapa pengurus DKT yang setia bertahan jagongan sampai dinihari, membicarakan sejarah Tulungagung.




* * *



Siwi Sang-Komite Tradisi Dewan Kesenian Tulungagung







sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/12/dewan-kesenian-tulungagung-dan-matinya-seni-tradisi-608827.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger