Mencari pemimpin masa depan tak ubahnya mencari jarum di onggok an jerami, di waktu malam, tanpa lampu pula. Ini sebagai ungkapan kias betapa sulitnya kondisi tersebut. Tetapi walau sesulit apapun, jarum itu harus dicari dan ditemukan.
Yang membedakan bahwa jarum sebagai objek adalah benda mati, sementara pemimpin sebagai objek adalah benda hidup, itu pun manusia. Tentu saja sangat sulit.
Kalau boleh disebutkan yang akan dicari ini manusia tanpa inisial, tidak tahu ia siapa, tetapi harus dicari. Dicari dari dua ratus lima puluh juta penduduk Indonesia. Manusia inilah yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah - masalah pelik bangsa ini.
Kalau sudah ketemu, maka ia akan bersaing dengan calon - calon lain di pemilihan kursi RI I. Mudah ditulis, mudah diucapkan, tetapi prakteknya sulit dilaksanakan. Namun sudah selayaknya partai - partai membuat loncatan dan berusaha memunculkannya.
Siapa Dia Siapa Nama nya ( ES DE ES EN ), diharapkan sebagai yang terbaik dari pilihan terbaik partai.
Tiga partai dengan pemilih besar, hingga sekarang yang masih belum menentukan capres tinggal PDIP. Seandainya Mega tidak mencalonkan diri , ES DE ES EN ini patut dicari, sehingga pemilih bisa berharap adanya calon alternatif. Lebih penting lagi, pemilih tidak terperangkap dengan jargon empat L.
Harapannya ES DE ES EN ini memiliki beberapa kualifikasi, diantaranya , ES tiga , TOEFL minimal lima ratus tujuh puluh lima, bila mungkin enam ratus ke atas plus menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris. Berpengalaman manajerial setidak – tidaknya sepuluh tahun, merakyat, bebas dari politik transaksional, memiliki : IQ, EQ tinggi, … dan Quotient terbaik lain nya.
Wooooow …. kalau persyaratan nya sedemikian berat, rakyat dapat berharap banyak terhadap sosok pemimpin masa depan ini.
Salah satu cara sederhana, namun tidak menyederhanakan adalah dengan model partisipatif. PDIP tiap propinsi mengajukan dua orang kader, plus daerah khusus ibukota empat orang, hingga jumlahnya tujuh puluh ( tiga puluh tiga propinsi + DKI Jakarta ).
Tujuh puluh orang ini diseleksi ketat oleh team PDIP, yang tentu saja diketuai langsung ketua Umum.
Bila jumlah kader yang akan diseleksi masih kurang, naik kan faktor pengalinya, tiap propinsi dikalikan tiga, empat atau lima. Dengan model mencari pemimpin demikian, diharapkan PDIP dapat menemukan ES DE ES EN itu.
Tentu saja kalau mengadopsi model ini, Jokowi di luar kualifikasi. Namun mandat politik PDIP menentukan capres ada di tangan Mega. Bisa saja Jokowi berpasangan dengan ES DE ES EN hasil seleksi itu. Tidak ada yang tahu.
Bila terjadi, akan menjadi keputusan terbesar yang akan dicatat oleh sejarah negeri. Semoga pilihannya adalah pilihan terbaik ….. Aamiin.
Salam, Haryono,-