“Walaupun kecil tapi terus bergerak”. motto inilah yang selalu di pegang oleh sekumpulan anak muda yang tergabung dalam sebuah wadah bernama Ketjilbergerak. Ketjilbergerak adalah sebuah organisasi seni dan budaya independen yang kemunculannya berawal pada tahun 2005 yaitu ketika sekumpulan mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta memasang tulisan-tulisan di lorong kampus dan spot ruang public sebagai sarana menuangkan aspirasi. Mereka merasa bahwa diskusi saja tidak cukup untuk mewadahi kegelisahan mereka dan pada tahun 2008 dengan nekat mereka memberanikan diri untuk membuat sebuah pameran drawing sederhana di Beringin Soekarno, Sanata Dharma yang bertajuk “Ikonisasi Kardus” dan pada tahun 2009 mereka juga membuat pameran drawing lagi berjudul “Unpredictable” dengan konsep Human, Spirituality, Science. Tidak hanya mahasiswa Sanata Dharma, anggota komunitas ini juga banyak berasal dari Universitas terkemuka di Yogyakarta bahkan Pelajar SMA pun juga tak ragu melibatkan diri sebagai anggota dari Ketjilbergerak. “Memang beberapa dari kami memiliki latar belakang fakultas pendidikan, sepertinya kekecewaan kami terhadap metode pendidikan di Indonesia cukup mewarnai gerakan ini.” terang Vani salah satu founder Ketjilbergerak.
Komunitas Ketjilbergerak juga menggagas acara yang bernama “Revolusi organik” yang diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap para pemuda agar lebih aktif, kreatif, berani, dan mempunyai visi yang jelas. Revolusi sendiri berarti perubahan sosial dan kebudayaan yang dapat berpengaruh di masyarakat. Tanpa adanya pengetahuan kita tidak dapat menyerap perubahan dengan baik, pasalnya revolusi dunia bersifat dinamis atau cepat berubah.
Prof Damardjati Supadjar menyampaikan pesannya dalam acara Revolusi Organik
Hasil karya komunitas Ketjilbergerak
Dalam acara lain Ketjilbergerak bergabung bersama komunitas lain untuk berpartisipasi dalam acara FKY(Festival Kesenian Yogyakarta) yang diadakan pada tanggal 25 Juni – 5 Juli 2013 di Kompleks Pasar Ngasem. Acara ini adalah untuk menyemarakkan pesta yang diadakan setiap tahunnya dan untuk memperlihatkan pentas seni kepada masyarakat.
Ketjilbergerak mencoba menyuguhkan sebuah alternative pendidikan massa dengan metode seni sebagai cara menyuarakan uneg-uneg, komunitas ini merupakan wadah pertemuan bagi individu maupun kelompok-kelompok massa dari lintas disiplin. “Kalau singkatnya sih, Ketjilbergerak dalam tiga kata adalah terbuka, swadana dan lintas disiplin,” ujar Greg Sindana, yang juga salah satu founder Ketjilbergerak. Lebih lanjut Greg menambahkan, “Gerakan kami meski bersifat kecil namun sebisa mungkin provokatif. Kami berusaha member alternative-alternatif sudut pandang kepada masyarakat, yang diharapkan mampu menimbulkan konflik positif baik secara internal maupun komunal yang kemudian menghasilkan kebaruan dan ketercerahan secara konkrit.”
Ketjilbergerak menjalin kerjasama dengan elemen-elemen masyarakat yang memiliki karya dan pandangan yang berbeda-beda. Beberapa tahun terakhir, Ketjilbergerak berfokus pada penciptaan ruang bersama, ruang bertemu, ruang-ruang dialogis untuk elemen-elemen di masyarakat demi terciptanya komunikasi dan pengetahuan dialektis yang sehat, secara terus menerus dan berkelanjutan.
“Kita juga harus bias melihat bahwa memang ada perbedaan-perbedaan di masyarakat, dan kita harus benar-benar paham tentang itu, bahwa yang (sedang) dihilangkan dari masyarakat ini adalah kemampuan untuk bersatu menuju satu tujuan bersama. Kalau bukan generasi muda seperti kita siapa lagi yang akan membongkarpasang metode persatuan ini?” tutup Greg.