Sabtu malam Minggu (9/11), pukul 21.50 Wib, istri sudah duluan tidur. Ia hampir saja tertidur ketika aku masuk ke kamar dan dengan sedikit teriak bilang gini. “Ma, Indonesia perang sama Australia!”
“Ah, yang benar, Pa?!” tanya istriku terhenyak. Ia langsung terjaga seketika lalu duduk. Agak hening beberapa saat. Mungkin membayangkan bagaimana nasib anak-anak saat terjadi perang antar negara. Maklumlah, istri tipe orang yang apolitis gitu orangnya.
“Maksudnya perang siber, Ma. Perang dunia maya gitu. Hacker Anonymous Indonesia telah menyerang 170-an situ Australia dan dibalas oleh pihak Australia. Indonesia memasuki fase perang siber melawan Australia sebagai balasan spionase penyadapan yang dilakukan Australia.”
Istri akhirnya tenang setelah mendengar penjelasanku. Ia kembali tidur lagi. Seperti biasa ia enggak peduli dan kurang tertarik tema pembicaraan teknologi dan politik begini. He-he-he.
Saat itu aku belum dapat informasi bahwa situs Bareskrim Polri telah diretas oleh hacker dan kemungkinan itu dilakukan oleh peretas dari Australia sebagai wujud aksi balasan. Wah, keadaan makin gawat. Serang menyerang telah menarget situs-situs lembaga intelejen dan keamanan dalam negeri.
Sebelum memejamkan mata sempat membayangkan beberapa kemungkinan. Karena serangan hacker Anonymous Indonesia acak ke situs-situs Australia, nah, bagaimana jika Anonymous Australia balik menyerang acak pula ke situs-situs Indonesia. Tarok kata kena ke situs Kompasiana, hayo, bagaimana?
Seberapa kuat Tim IT Kompasiana menghadapi kemungkinan serangan acak hacker Anonymous Australia. Andaikata terkena aksi peretasan apakah server Kompasiana punya daya tahan supaya arsip tulisan Kompasianer yang tersimpan di sana akan aman-aman saja?
Menjawab pertanyaan ini aku kembali berseluncur ke dunia maya pakai hape. Klik sana-sini dan sempat diskusi dengan beberapa rekan Kompasianer di Facebook. Gelora nasionalisme terasa kental sekali antar teman-teman ini. Hanya sampai di sana. Kira-kira pukul 23.30 Wib aku pun tertidur.
(Sutomo Paguci)