Sankt Martinsumzug atau perjalanan mengiringi St. Martin, menjadi tradisi tahunan di sekitar tempat kami tinggal di Jerman wilayah Schwarzwald. Sekolah selalu mengundang keluarga untuk berduyun-duyun mengikutinya. Tentu saja sebelumnya ada kegiatan membuat lampion lucu atau lentera unik di sekolah.
Undangan dibagikan sekolah kepada tiap anak. Masyarakat yang tidak mendapat undanganpun tetap boleh ikut. Bagaimana pengalaman kami mengikutinya? Dan siapa sih St. Martin itu?
Umzug
***
Perjalanan mengiringi St. Martin
Beberapa hari sebelumnya, tradisi St. Martin telah didahului kegiatan hobi prakarya membuat lentera dari kertas. Mulai dari TK sampai SD, semua membuatnya baik di sekolah maupun di rumah. Mengundang kreativitas yang apik. Tidak melulu beli!
Tepat tanggal 11 bulan 11. Tradisi St.Martinumzug di wilayah black forest, Jerman dimulai. Hari senin itu, hari masih saja dingin. Bulan menjadi saksi.
Hai, bulan …
Laterne,Laterne … Sonne,Mond und Sterne.
Anak-anak dikumpulkan di depan taman kanak-kanak. Pukul 17.30, rombongan yang terdiri atas bayi hingga lansia itu menuju gereja melewati jalan yang meliuk-liuk bak ular. Tangan-tangan mungil memegangi tongkat penyangga lampion hasil kreasi sendiri. Sesekali grup berhenti dan bernyanyi diiringi musik. Wow, melatih anak mandiri sejak dini untuk berjalan kaki dan tegar menembus malam yang gelap dan dingin!
Tepat di halaman gereja, semua berdiri mengelilingi sebuah tali yang dipasang sebagai pembatas antara pemusik dan pemain teater.
Mengelilingi batas tali
Pegang lampion erat-erat ….
Pengemis ada di tengah-tengah lapangan
Seorang pria yang memerankan pengemis berada ditengah-tengah. Tanpa jaket. Pasti dingin sekali. Di depan sana, musik mulai mengalun: “Laterne … Laternee … Sonne, Mond und Sterne“ (Lampion … Lampion … matahari, bulan dan bintang). Para pengunjung ikut bernyanyi.
Seorang asisten pastor bergegas mengucapkan selamat datang kepada hadirin dan mulai bercerita tentang tradisi perjalanan St. Martin, St.Martinsumzug.
Siapakah St. Martin?
Martin adalah seorang pria dari Tours. Pria kelahiran Hungaria itu pemeluk agama kristen. Agama yang pada jaman Romawi amat berkuasa. Namanya amat dikenang rakyat Jerman sehubungan dengan kasihnya pada seorang pengemis.
Pada suatu malam yang dingin, dimana salju berserakan, Martin naik kuda dan bertemu dengan seorang pengemis. Sang Martin bertanya mengapa pria itu tak punya baju hangat dan duduk diatas salju.
Pengemis mengiba dan mendapatkan selimut dari slayer yang menjuntai kebawah dari pundak St. Martin.
Tepat pada tanggal 11 November itulah, tentara romawi yang akhirnya menjadi biarawan itu berhasil menyelamatkan nasib pengemis dari kedinginan. Hari itu menjadi sebuah tonggak pelaksanaan puasa 40 hari sebelum natal.
St. Martin meninggal pada tahun 300 an.
***
Asisten pastor yang tanpa jubah itu mengakhiri ceritanya lantaran pemeran teater St. Martin sudah siap.
St. Martin datang … horeee ….
Sekian menit, St. Martin pergi ….
Anak-anak sudah terpesona melihat datangnya kuda. Sayang hanya sebentar saja. Teater memang berlangsung tak lama. Hanya sekian menit. Itu saja sudah pada kedinginan. Brrr … jepret pakai HP, tangan jadi kaku.
Kepala TK berambut pirang itu mengucapkan terima kasih kepada para ibu yang telah menyumbangkan makanan kecil untuk dijual di kedai yang disediakan (meski tak ada makanan tradisional yang terkenal seperti Martinsgans si daging angsa, Martinswecken-roti, atau Martinsbrezel-roti berbentuk gelung). Disanalah para tamu bisa menikmati makanan dan minuman usai acara. Tapinya … bayar! (G76)