Apakah anda terdaftar sebagai calon legislatif di 2014 nanti?
Apakah ada orang tua, keluarga, sanak saudara atau famili anda terdaftar sebagai calon legislatif di 2014 nanti?
Apakah ada atasan, bawahan, rekan sekerja, teman atau orang yang anda kenal terdaftar sebagai calon legislatif di 2014 nanti?
Apabila jawaban anda semuanya; “Tidak”, artinya tidak ada alasan apapun untuk anda pada tanggal 9 April 2014 nanti datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk ikut memilih calon legislatif. Kita gunakan logika sehat saja, wong tidak ada satupun calon legislatif yang kita kenal ko kita pilih, apa belum kapok jika nanti kita dibohongi lagi oleh ‘mereka’ karena kebodohan kita sendiri? Ini cara cerdas kita yang pertama.
Jika kita sudah cerdas dengan cara pertama di atas, mari kita tularkan juga kecerdasan ini untuk orang-orang yang ada di sekitar kita karena tidak semua dari mereka di dekat kita membaca artikel ini kan? Kita tularkan kepada suami, istri, anak-anak, sanak saudara dan famili saat kita mengobrol, saat pertemuan acara keluarga dan saat-saat lain sebagainya. Jangan lupa, tularkan juga kecerdasan ini kepada teman dan orang lain di sekitar kita, untuk orang lain yang kita kenal dan kita anggap berpendidikan kurang yang biasanya menjadi target utama dari para oportunis-oportunis politisi busuk, mungkin bisa kita tambahkan pengertian seperti ini; “jika nanti ada orang yang mengajak untuk memilih seseorang dan orang tersebut memberi ‘sesuatu’, terima saja ‘sesuatunya’ tapi saat memilih tidak perlu dipilih karena seseorang itu sebenarnya sedang membodohi dan membohongi kalian”. Ini cara cerdas kita yang kedua.
Bilamana 2 langkah di atas dapat kita lakukan dan menghasilkan efek gelombang besar pemilih cerdas untuk tidak memilih saat pemilihan legislatif nanti, dipastikan peta kekuatan di DPR-RI akan berubah signifikan, karena pemilih yang ada hanya dari kalangan mereka sendiri terutama untuk partai-partai yang tergabung dalam koalisi partai pendusta rakyat pendukung pemerintah bodoh saat ini. Untuk PDIP jika benar nanti mencalonkan Jokowi menjadi Presiden dimungkinkan besar akan memetik bonus dengan bertambahnya pemilih dari “jokowi voters” dan swing voters, partai Gerindra-pun diprediksi akan lebih banyak lagi mendapat kursi di DPR-RI dengan semakin bertambahnya pendukung Prabowo Subianto dan swing voters, kemudian partai Nasdem juga minimal akan mendapatkan kursi di DPR-RI tahun 2014 nanti.
Dari hasil pemilu legislatif nanti, prediksi yang mungkin menguasai sebahagian besar kursi di DPR-RI adalah antara PDIP dan partai Golkar, disusul partai Gerindra kemudian partai-partai lain. berbicara mengenai Presiden dan Wakil Presiden adalah berbicara mengenai presidential threshold (PT) 20 persen setelah pemilihan legislatif ini, jika PDIP dan partai Golkar bisa mencapai presidential threshold (PT) 20 persen maka dipastikan mereka akan mengusung calon sendiri tanpa berkoalisi dengan partai lain dalam menentukan calon Presiden dan Wakil Presiden. Untuk partai Gerindra, jika mereka tidak mampu mencapai presidential threshold (PT) 20 persen, maka akan menjadi dilema besar untuk seorang Prabowo Subianto untuk tetap mencalonkan diri menjadi Presiden, bilapun menjalin koalisi dengan partai lain yang saat ini tergabung dalam koalisi partai pemerintah, dipastikan tidak akan banyak menarik peminat pemilih yang sudah antipati dengan partai-partai yang dianggap sudah menghianati rakyat walaupun tetap mengusung nama Prabowo Subianto sebagai calon Presiden.
Kemungkinan besar jika PDIP dan partai Golkar mencapai presidential threshold (PT) 20 persen, kemudian partai Gerindra dan partai Nasdem berkoalisi untuk mencapai presidential threshold (PT) 20 persen, maka akan ada 3 calon pasang Presiden dan Wakil Presiden dari masing-masing kubu. PDIP tetap akan mencalonkan Jokowi sebagai Presiden dengan pendamping yang belum dapat diprediksi atau JK-Jokowi, partai Golkar akan tetap berkoalisi dengan partai-partai yang tergabung saat ini dan jelas mengusung ARB sebagai calon Presiden dengan pendamping dari partai lain yang mempunyai kursi terbanyak setelah partai Golkar dalam koalisi tersebut, kemudian partai Gerindra yang berkoalisi dengan partai Nasdem tetap dapat mengajukan Prabowo Subianto sebagai calon Presiden didampingi oleh Surya Paloh. Tetapi bila tidak ada satu partai-pun yang berhasil mendapatkan presidential threshold (PT) 20 persen, maka dipastikan hanya akan 2 kubu dari partai-partai yang ada untuk melakukan koalisi yaitu kubu partai Golkar berkoalisi dengan partai-partai yang saat ini sudah tergabung dalam koalisi dan kubu PDIP yang berkoalisi dengan partai Gerindra dan partai Nasdem. Jika ini terjadi maka hanya akan ada 2 calon pasang Presiden dan Wakil Presiden yaitu dari koalisi PDIP muncul nama Jokowi-Prabowo (tapi rasanya tidak mungkin), atau Prabowo-Jokowi dan dari koalisi partai Golkar muncul nama ARB-partai pemilik kursi terbanyak setelah partai Golkar.
Jika sudah sampai pada tahapan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, maka kita akan kembali menjadi pemilih cerdas, dari prediksi-prediksi yang mungkin di atas, apapun alasannya tidak seharusnya kita memilih apapun yang ditawarkan oleh kubu partai Golkar karena pastinya itu semua hanya janji-janji manis saja seperti yang sudah kita lihat dan rasakan sampai dengan hari ini, apa belum kapok jika nanti kita dibohongi lagi oleh ‘mereka’ karena kebodohan kita sendiri?. Pilihan kita selanjutnya adalah dari koalisi PDIP, kemungkinan nama pasangan yang akan muncul bila partai Gerindra ikut dalam koalisi PDIP adalah Prabowo-Jokowi tetapi jika koalisi PDIP tidak termasuk partai Gerindra di dalamnya, kemungkinan nama yang muncul akan lebih bervariasi seperti JK-Jokowi, Jokowi-JK atau Jokowi-lainnya. Dari 3 nama pasangan tersebut, Prabowo-Jokowi, JK-Jokowi atau Jokowi-JK jika ada yang merasa cocok untuk dipilih maka pada tanggal 9 Juli 2014 silahkan datangi tempat pemungutan suara (TPS) dimana anda terdaftar sebagai pemilih dan coblos pilihan anda tersebut. Untuk saya, 3 nama pasangan terakhir ini sepertinya menjanjikan, mana yang akan saya pilih? Itu rahasia saya, terpenting saya sudah membagi trik untuk menjadi pemilih cerdas di 2014 nanti. Ini cara cerdas kita yang ketiga.