Rumah Retak, Terancam Tidur di Teras


(


13873826901972943532

Longsor di Perumahan Dosen Unmul. Foto Pribadi



(Kesaksian Korban Longsor Perumahan Dosen Unmul)


PELAN tapi pasti, suara retak dan gesekan tanah terdengar dari bawah lantai dan dinding rumah yang dikontrak Agustina (37) dan keluarganya di Jalan Dayak Batu, Perumahan Dosen Unmul, RT 16, Kelurahan Sempaja Selatan. Firasatnya mengatakan ada tidak beres. Dan saat anaknya Dea (16) yang sedang menyapu tiba-tiba berteriak memanggilnya, firasat itu jadi nyata, jalan longsor tepat di depan rumahnya, Rabu (18/12) sekiar pukul 06.30 Wita.


TERIAKAN Dea menghentikan aktivitas Agustina. Dengan cepat, dia dan Dea keluar sambil memanggil tetangganya setelah melihat jalan di depan rumahnya bergerak lambat ke bawah. Dia dan beberapa warga melambaikan tangan dan berupaya menghentikan seluruh warga yang hendak melintas di jalan tersebut. “Berhenti-berhenti, longsor-longsor,” tuturnya ngos-ngosan.


Longsor yang bergerak lambat tersebut membuat warga sekitar terperangah. Longsor secara bertahap merobek badan jalan yang dibangun dari aspal dan membuat lubang besar setengah lingkaran.


“Awalnya anak saya bilang kok pohon dan alat berat (ekskavator, Red) itu berjalan lambat ke bawah. Saat menyadari terjadi longsor, saya dan keluarga saya secepatnya keluar rumah,” ungkap Agustina, sambil sesekali membenarkan jilbab hitam yang membalut kepalanya.


Firasat akan terjadi longsor sebenarnya sudah ada sejak dua pekan lalu, ketika pekerja menggerakkan alat berat mereka dan merobohkan setiap pohon yang dikatakan mengganggu proyek mereka. Padahal, warga sudah menentang penebangan beberapa pohon di pinggir jalan, yang memang fungsinya menahan agar tidak terjadi longsor.


“Saya kaget lihat pekerja merebahkan pohon-pohon yang sudah berdiri belasan tahun. Mau lebarkan jalan kok sampai harus mencabut pohon-pohon itu. Dalam hati saya berkata pasti akan longsor,” paparnya dengan wajah masih tegang.


Istri dari Tasman (41) ini cukup tajam, untuk menilai sebuah proyek yang dikatakan sejumlah warga tidak ada sosialisasinya. Bahkan, sebelumnya warga sudah mewanti-wanti pekerja agar tidak merebahkan pohon.


“Secara kasat mata memang ada yang tidak beres dengan proyek ini. Pelebaran jalan hanya dua meter, tapi kok pohon yang jauh dari jalan juga ikut direbahkan,” katanya.


Agustina menyaksikan setidaknya longsor tersebut terjadi dalam tiga tahap. Pertama ekskavator yang diparkir sejak dua hari lalu dan sebuah pohon bergerak lambat ke bawah. Selanjutnya pipa PDAM yang tertanam di bawah badan jalan patah dan airnya yang meluncur deras mengerus pasir di bawah badan jalan. Dan ketiga, aspal yang tidak lagi memiliki penyangga di bawahnya karena gerusan air, ambruk hingga ke teras rumah Agustina.


“Karena panik, saya tidak sempat menyelamatkan barang-barang saya yang ada di dalam rumah. Hanya pakaian yang saya bawa keluar rumah,” terangnya.


Karena pintu bagian depan rumah Agustina tidak mungkin lagi dibuka, terpaksa Tasman merusak pintu samping rumah yang terkunci. Agustina mengaku takut masuk rumah karena suara gesekan di bawah lantai dan dinding yang sudah retak tadi. Dia dan keluarganya berpikir ulang untuk menyewa rumah, padahal mereka baru dua bulan mengontrak dari satu tahun kesepakatan dengan pemilik rumah. “Kami tidak tahu harus tidur di mana. Ini saja kami menumpang di teras rumah tetangga untuk sementara waktu. Kalau tidak ada yang menampung kami, kami terpaksa tidur di teras,” ucapnya.



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/18/rumah-retak-terancam-tidur-di-teras-620649.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger