Salah Penggal Kepala Orang


Al Qaeda Suriah minta maaf karena salah penggal kepala orang, serta mengharapkan pengertian dari keluarga korban. Lalu berdoa agar korban bisa diterima di surga. Permintaan maaf ini diberitakan di berbagai media pada pertengahan November lalu. Beritanya DISINI.


Bagaimana menurut anda dengan kejadian ini? Salah dan khilaf itu wajar. Kita juga sebaiknya memaafkan orang yang minta maaf. Tapi salah penggal kepala orang itu namanya GUOBLOG.


Salah penggal kepala orang bisa saja terjadi jika sebuah tuduhan dialamatkan tanpa proses pengadilan, tanpa dasar hukum, tanpa bukti dan tanpa saksi. Dituduh, lalu dihukum. Pihak yang menuduh merasa paling benar. Padahal benar secara hukum itu bukan soal perasaan.


Begitulah hukum jaman batu.


Baru-baru ini ramai di Kompasiana, sebuah justifikasi serupa. Ajakan provokatif penggal kepala kompasianer MW. Dengan tuduhan menistakan Nabi. Banyak pihak marah. Menyerukan asma Allah, dan menghalalkan darah.


Namun tidak satupun yang menunjukkan dasarnya, apakah dari hadist, thesis, disertasi, wikipedia, library, maupun catatan dari lembaga terpercaya, bahwa MW salah statement, salah kajian sejarah. Tidak satupun.


Admin Kompasiana memenggal akun MW.


Setelah memuntahkan segala sumpah serapah, menuduh fitnah, menistakan, darahnya halal ditumpahkan, bunuh, gorok, akhirnya semua bermuara pada: “saya tidak tahu kajian sejarah yang sebenarnya, anda cari sendiri saja di internet”.


Hla tidak tahu kajian sejarahnya, kok bisa menuduh MW menistakan dan mengajak untuk membunuh MW?


Pendapat menarik muncul dari kompasianer Baladewa Arjuna dalam artikel Sutomo Paguci Diperlihatkan Kajian Sejarah, Malah Ngancam Bunuh . Di sini Baladewa Arjuna menyajikan ayat-ayat yang menguatkan bahwa pendapat MW justru benar, dan pendapat yang berseberangan dengan MW – so called eksekutor penggal kepala – justru melakukan pelanggaran ayat suci – jika tidak ingin disebut menistakan.


Selanjutnya seperti kita lihat, kajian sejarah tidak disambut dengan kajian sejarah. Tapi di sambut dengan argumen dulu MW begini, dulu MW begitu, lalu berkelit kesana kemari sambil marah-marah dan tidak satupun – saya ulangi: tidak satupun yang masuk pada materi diskusi. Malah berupaya membelokkan pembicaraan pada materi diskusi yang lain.


Berdiskusilah dengan bermartabat.


.


- Esther Wijayanti -



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/20/salah-penggal-kepala-orang-620109.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger