10 Muharram, Momen Badai Mulai Hengkang dari Indonesia



Oleh:


M. R. Aulia


#Ditulis pada Kamis Pagi, 14 November 2013, dan diselesaikan pukul 09:06 WIB.



13843972451016365426

Ilustrasi: Bentuk Rasa Syukur, Semoga badai berlalu, Sumber: strawberismile.blogspot.com



Sebagian tanah dan hamparan daratan di belahan bumi tempat berpijak manusia modern saat ini, dulu ribuan tahun silam, pernah terjadi gelombang banjir yang sangat dahsyat melebihi badai-badai yang terjadi di abad ke 21 ini. Lebih parah dari badai Haiyan yang terjadi di Filipina baru-baru ini, dan bahkan lebih parah dari semua banjir dan gelombang Tsunami di Aceh dan tempat lain sekalipun. Seorang pemberani, sebelum banjir datang, sibuk membuat dan merangkai kayu demi kayu untuk membentuk sebuah kapal besar.


Pada waktu itu, atas ulahnya membuat kapal di daratan yang jauh dari laut, dianggap gila oleh kebanyakan orang pada waktu itu. Namun ia tetap yakin dengan pendiriannya, bahwa suatu saat akan terjadi genangan terdahsyat yang pada akhirnya menenggelamkan semua orang yang hidup pada masa itu, kecuali mereka yang berada di atas kapal bersama seseorang pemberani tersebut. Setelah sekian lama berlayar dan bertahan di atas kapal, akhirnya kapal besar tersebut mendarat di sebuah dataran tinggi yang bernama Judi, tepat pada waktu tertentu.


Dahulu, juga ada seorang anak manusia, dalam pengejaran zombi-zombi pada masa itu, seorang manusia yang tak ada pengawal sama sekali, berlari menyelamatkan diri dan akhirnya menaiki sebuah kapal. Namun karena dianggap penumpang ilegal, akhirnya seorang anak manusia tersebut melompat ke lautan lepas, dan akhirnya masuk ke dalam perut hiu selama beberapa waktu. Dapat dibayangkan, bagaimana tubuh manusia, bisa hidup di dalam sebuah perut ikan hiu, dan tepat pada hari tertentu, seorang anak manusia tersebut keluar dengan selamat dari perut ikan tersebut.


Di tanah tempat piramida berdiri gagah sekarang ini, dahulu juga pernah hidup seorang pemuda yang selalu bersitegang dengan penguasa pada masa itu. Penguasa yang mengaku Tuhan dari keturunan Firaun. Antar dua kubu tersebut saling memerangi satu sama lain, dan akhirnya dengan kekuatan yang tak mampu menandingi bala tentara penguasa tersebut, seorang pemuda dan pengikutnya berlari menuju laut dan membelahnya dengan tongkat ajaibnya. Sementara itu, penguasa dan bala tentaranya mengikuti dari belakang, dan ikut menyebrangi lautan. Tak disangka, mereka tak mampu mengikuti jejak pemuda tersebut dan pengikutnya, lalu penguasa yang mengaku Tuhan tersebut akhirnya tenggelam di tengah kumpulan jutaan tetesan air laut. Dan dikabarkan, kejadian tersebut tepat pada hari tertentu.


Lalu, kapan hari tertentu tersebut? Sebagaimana yang menjadi keyakinan para ilmuwan terdahulu, hari tersebut adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharam. Meskipun pada waktu itu, belum definitif nama hari dan bulannya persis sama dengan bulan hijriah pasca lahirnya Nabi Muhammad SAW.


Sepuluh Muharam, hari dimana banyak kejadian agung terjadi dalam sejarah umat manusia. Sebagian besar umat manusia merayakannya dengan referensi masing-masing. Tidak hanya umat islam saja, melainkan umat nasrani dan yahudi pun turut meyakini bahwa setiap tanggal sepuluh Muharam adalah hari yang sangat mulia.


Dalam sebuah riwayat yang dibawa oleh Ahmad, sepuluh Muharam adalah hari dimana kapal Nabi Nuh mendarat di atas gunung Judi dan selamat dari banjir bandang yang sangat dahsyat melanda seluruh hamparan daratan kehidupan manusia saat itu, maka sebagai rasa syukur Nabi Nuh berpuasa pada hari itu.


Sementara itu, dikabarkan pula bahwa Nabi Musa akhirnya dinyatakan selamat dari kejaran bala tentara Firaun dan Nabi Yunus berhasil keluar dari perut ikan hiu dan sebagainya.


Dari cerita yang sangat singkat di atas, dapat dicermati bahwa ketepatan tanggal dan bulan yang sama akan keluarnya para nabi-nabi yang mulia dari berbagai gempuran dan kejaran musuh-musuhnya, adalah pertanda bahwa sepuluh Muharram adalah hari dimana badai mulai berlalu meninggalkan mereka yang sedang diuji.


Dengan hadiah dan kelapangan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka, maka mereka memberikan contoh kepada kita umat Islam, dengan mempersembahkan rasa syukur yang mendalam, yaitu melakukan puasa Asyyura, yaitu puasa di hari kesepuluh bulan Muharam dan ditambah satu hari sebelumnya atau setelahnya.


Dan pada akhirnya, dengan masuknya hari kesepuluh Muharam, kita berharap menjadi momentum bagi bangsa Indonesia dapat keluar dari masa-masa krisisnya. Pertikaian demi pertikaian para penguasa politik dapat mereda dan akhirnya permasalahan yang mendasar bagi seluruh bangsa Indonesia, dapat terselesaikan dan menemukan jalan kelapangan. Sehingga manusia Indonesia dapat menikmati indahnya hidup di tanah yang katanya potongan tanah dari surga.


Pertikaian boleh terjadi, tapi, harus ada deadline muara keputusan bersama secepatnya. Salah satu karatan politik di Indonesia.




sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/14/10-muharram-momen-badai-mulai-hengkang-dari-indonesia-607770.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger