Sungguh tidak disangka, kemesraan Ayu Ting Ting dan Enji yang seringkali diperlihatkan saat mereka belum menikah, ternyata harus berakhir begitu cepat, justru setelah pernikahan. Inilah antiklimaks dari sebuah misteri kata ‘Cinta’.
Cinta seyogyanya adalah sesuatu yang indah, penuh kasih sayang. Datang dari lubuk hati yang paling dalam. Cinta juga seharusnya penuh dengan keikhlasan. Karenanya menjadi tidak masuk akal, jika perpisahan mereka hanya karena ‘tidak disegerakannya resepsi pernikahan oleh pihak Enji, seperti yang diinginkan oleh keluarga Ayu Ting Ting’.
Pernikahan Ayu dan Enji sendiri, memang terkesan mendadak karena suatu sebab, bahwa Ayu diketahui ‘hamil’. Sehingga pernikahan pun harus segera dilakukan sebelum kandungan semakin besar. Pernikahan mendadak, jelas tanpa persiapan matang. Menjadi wajar jika kemudian Enji meminta Ayu untuk bersabar karena resepsi tidak bisa serta merta dilakukan. Enji meminta waktu untuk membicarakannya dengan keluarga besarnya. Sayangnya tidak demikian dengan keluarga Ayu yang menginginkan acara resepsi segera digelar.
Inilah ego manusia. Ternyata ‘acara resepsi’ bisa menghapus perasaan ‘cinta’ yang pernah tumbuh diantara keduanya, bahkan perasaan cinta yang pernah ada itu dibuktikan dalam bentuk ‘janin’ yang ada dalam tubuh Ayu.
Hanya karena ‘resepsi pernikahan’ yang tertunda, memupus kebahagiaan hidup bersama sebagai sebuah keluarga. Memisahkan calon bayi dari bapaknya. Tidak ada resepsi berarti perceraian. Kemana cinta itu pergi? Kemana rasa ikhlas itu? Ayu, tidak ikhlas menerima keputusan Enji untuk bersabar. Sementara Enji, hilang sabar karena desakan yang terus dilakukan keluarga Ayu, hingga perlu mengucapkan ‘talak’.
Akhirnya! Acara Resepsi jauh lebih penting dari Perasaan Cinta itu sendiri. Padahal sebenarnya masyarakat umum tidak terlalu peduli apakah Ayu dan Enji akan menggelar resepsi atau tidak. Tetapi karena dalam beberapa kali tayangan ‘infotainment’ dituturkan Ayu Ting Ting akan menggelar resepsi pernikahan besar-besaran, maka ‘janji’ gelaran acara tersebut (yang digembar gemborkan) menjadi sebuah ‘harga mati’, mungkin terkait dengan kehormatan dan harga diri.
Hilang sudah rasa cinta itu. Sekarang keduanya siap untuk bercerai. Hanya karena sebuah Resepsi yang Tertunda!
Bagaimana dengan anda? Apakah anda dan pasangan anda lebih mementingkan acara resepsi pernikahan dibandingkan perasaan cinta pasangan anda?
Saya jadi ingat, sebuah hadis Rasullulah SAW bahwa ‘sebaik-baik wanita, adalah yang paling ringan mas kawinnya’ (HR. Ath-Thabrani). Oleh karenanya permudahlah segala sesuatu demi ‘Cinta’ kepada pasangan anda.