Dua Ilustrasi Pagi Ini


1384457489480955438Pagi ini (15/11), disela menyelesaikan tugas, saya sempatkan menyaksikan berita dari sebuah stasiun televisi swasta.


Berita ricuh pasca sidang sengketa pilkada Maluku di Mahkamah Konstitusi menjadikan mata saya segar kembali meski tanpa segelas kopi. Dalam streaming yang saya saksikan, tampak aksi berani sekelompok orang dari pihak penggugat, merusak beberapa fasilitas yang ada di dalam ruang sidang MK sebagai bentuk kekecewaan atas hasil keputusan sidang.


Secara tidak langsung tindakan sekelompok orang itu berdampak pada anggaran belanja negara, yakni mengganti fasilitas yang telah dirusak.


Di urutan kedua, lagi-lagi berita kericuhan. Ratusan massa dari ormas Islam mengepung Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara kemarin (14/11). Mereka menuntut pembubaran acara Haul 10 Muharram yang digelar Jama’ah Ahlul Bait Nasional.


Seolah menggambarkan si pengepung adalah kelompok yang terbenar, dan yang dikepung adalah kelompok yang tersalah.


Indonesia belum bisa jauh dari budaya menekan (pressure) dan mengandalkan kekerasan (violence). Tidak rela dengan hasil keputusan, sekelompok orang yang merasa dirugikan segera mempressure pengambil keputusan. Tidak sesuai dengan ideologi, ormas mengajukan keberatan dengan cara yang cenderung massif dan violence oriented.


Tidak ada yang salah dengan usaha sekelompok orang untuk mencari keadilan. Sah-sah saja, selagi menggunakan cara yang absah. Tidak perlu saya sertai referensi teoritis tentang dampak psikologis ketika kita menghadapi tekanan.


Hampir bisa dipastikan respon yang sama, ketika dipressure maka yang pertama kali kita butuhkan adalah perlindungan. Selama masa berlindung itu, kita akan berfikir ulang apakah keputusan itu layak untuk direvisi atau tidak. Pengecualiannya adalah bagi orang yang jantan dalam menjunjung tinggi kejujuran dan memiliki integritas,tidak akan goyah dengan pressure level apapun.


Dua ilustrasi diatas sengaja saya jadikan contoh, agar kita dapat menarik pelajaran, bahwa kita belum dewasa menyikapi perbedaan. Biarlah pihak-pihak yang terkait yang menangani pelanggar hukum, tanpa pikiran buruk kalau pihak berwajib itu juga melanggar hukum.


Meskipun demikian, bukan berarti dari ujung timur-barat dan utara-selatan isi keseharian bangsa kita hanya didominasi oleh aktivitas kekerasan.


Masih banyak dibagian Indonesia lainnya yang mengusung perdamaian, menghargai perbedaan dan membangun Indonesia dengan cara dan karyanya masing-masing, yang tidak haus pencintraan, perhatian media, maupun dokumentasi yang membanggakan.


Karena kehadiran mereka untuk Indonesia, bukan untuk kepentingan sesaat lagi sesat. Dan diantara kita adalah bagian dari mereka. Semoga. [asg]



Sumber gambar : Google Image



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/15/dua-ilustrasi-pagi-ini-609492.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger