Catatan Kampanye; Tentang Visi


Diantara pertanyaan penting bagi seorang Caleg ketika bertemu dengan konstituen adalah tentang visi. Ini pertanyaan penting tetapi ironisnya sudah jarang muncul. Saya sendiri sering dilematis menghadapi kata visi ini. Bukan apa-apa. Di tengah masyarakat yang semakin transaksional, visi sudah menjadi perhatian yang kesekian. Orang lebih banyak bertanya tentang siapa kamu dan apa yang akan mereka dapatkan sekarang dan nanti


Bahkan hasil riset lembaga internasional seperti yang dilakukan Gallup Poll, lembaga survei politik dari Amerika, menyebutkan bila alasan masyarakat memilih seseorang ternyata bukan karena visi dan misi yang dimiliki, tetapi lebih karena alasan kedekatan dan keterpercayaan saja. Tidak lebih.


Hal lain yang sering membuat saya malas-malasan menyiapkan visi karena masyarakat kita pada dasarnya sudah jenuh dengan kata itu. Beberapa kali kita melaksanakan pemilu dan masyarakat dijejali dengan berbagai macam slogan visi yang klise dan tidak pernah terrealisir. Coba saja saya tanya bagaimana respon anda ketika ada baligho calon anggota legislatif yang disana ada tulisan “Mengabdi Untuk Rakyat”, “Berjuang Demi Kemakmuran Rakyat”, “Berjuang Demi Bangsa dan Negara” apa reaksi anda?Kalau saya jujur saja melihat itu klise, tidak kreatif, membosankan dan omong kosong


Selain itu sebuah visi secara politis sering berhadapan dengan kenyataan di lapangan yang merugikan kita. Sebuah visi mesti fokus, definitif, tidak abstrak dan jelas operasionalisasinya seperti apa. Misalkan saja jika kita ingin fokus di masalah pendidikan. Nyatanya krisis multidimensi yang sedang kita hadapi mensyaratkan penyelesian permasalahan secara keseluruhan. Bagaimana mungkin saya membicarakan pentingnya pendidikan di tengah masyarakat yang sedang dikepung masalah banjir.


Sementara ketika visi itu kemudian kita rumuskan dalam bentuk kalimat abstrak dan klise seperti “Menciptakan Masyarakat Adil Makmur” “Kejayaan Bagi Negeri” ini menjadi kata-kata klise nirmakna. Tidak jelas operasionalnya seperti apa dan bagaimana. Ujungnya hal ini hanyalah menjadi pelengkap dan pemanis bibir semata.


Meski demikian visi tetap mesti menjadi bahan perhatian. Pertanyaan tentang visi memang jarang muncul tetapi bukan berarti tidak ada dan tidak penting. Selain itu visi ini juga yang kemudian menjadi guidance bagi saya akan apa yang mesti saya lakukan di kemudian hari nanti.


Lalu apa visi atau sesuatu yang akan saya lakukan jika terpilih nanti?Visi saya sebenarnya sederhana saja; Saya hanya ingin bisa berbicara. Yah itu saja. Saya hanya ingin bisa bicara. Tidak lebih.


Begini penjelasannya. Pada saat ini kita sedang berhadapan dengan budaya komunikasi yang akut. Kita ini baru bisa “bicara” kalau kita sudah jadi “orang”. Siapapun anda dan sebagus apapun pembicaraan anda, bila anda bukan “orang” maka pembicaraan kita tidak akan pernmah di dengarkan. Lihat saja bagaimana orang berbusa-busa tiap menit update status facebook dan nge twiit tentang kondisi negara ini, sering tidak berefek apa-apa selain menambah riuh dunia sosial media saja


Sementara di belahan bumi lain mereka mempunyai budaya komunikasi berbeda. Bagi mereka setiap orang mesti berbicara dulu setelah berbicara baru terlihat apakah dia orang atau bukan.


Jadi saya hanya ingin bisa berbicara saja. Bicara tentang gedung-gedung sekolah yang reyot, jalan yang tidak pernah diperbaiki, irigasi yang tidak pernah dibuat, taman bacaan masyarakat yang mesti dikembangkan, perpustakaan sekolah yang mesti ditambah bukunya dan lain sebagainya.


Waallahualam bishawab



http://www.delianur.com/note/2013/11/catatan-kampanye-tentang-visi



Bandung 13-11-2013



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/12/catatan-kampanye-tentang-visi-608849.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger