Indonesia sepertinya hanya DKI saja, padahal DKI adalah salah satu Propinsi dari 34 Propinsi yang ada di negeri tercinta Indonesia. Ungkapan itu lahir setelah mencermati konstalasi politik terkini yang menempatkan seorang Gubernur DKI Jokowi sebagai figur terhebat dan dianggap tak ada yang menandinginya.
Karena itu tak ada yang bisa dikritik dari kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, bahkan Presiden sekalipun dibuat babak belur oleh para pendukung Jokowi.
Tampaknya pengulangan keluhan Presiden SBY tentang kemacetan oleh para pendukung Jokowi akan menjadi titik simpul bagi lahirnya kekecewaan sejumlah pihak yang sangat menghargai konstitusi kenegaraan. Jokowi betapapun hebatnya bisa sedikit berlapang dada kenapa Presiden bisa mengeluh seperti itu.
Titik simpul kedua ketenaran nama Jokowi di DKI seolah-olah mewakili Indonesia secara keseluruhan, sehingga menempatkanya sebagai calon terkuat untuk menjabat Presiden periode mendatang. Padahal 33 Propinsi lainya di Indonesia ingin menguji ketenaran dan elektabilitas mantan Wali kota Solo itu.
Jokowi diakui memang tokoh fenomenal dan tampil apa adanya, pertarungan yang menghantarkanya menjadi Gubernur DKI setidaknya telah dipengaruhi oleh janji politik untuk mengurai kemacetan serta mengatasi banjir. Tetapi apakah janji-janji figur yang kini didorong untuk menjadi Capres itu sudah dibuktikan maka warga Jakartalah yang mengetahuinya secara pasti.