Dahlan Iskan Tak Sebanding Dengan Ahok


Ewuh pakewuh memang budaya ketimuran. Khas pula. Siapa pun tahu tentang budaya ini. Maknanya dalam pengertian bebas adalah bersikap segan kepada seseorang untuk menjaga hubungan, untuk menjaga perasaan seseorang, untuk menjaga kedamaian dalam suatu lingkungan, kumpulan atau organisasi. Ewuh pakewuh padanannya adalah sungkan.


Budaya ewuh pakewuh walaupun berasal dari Jawa, tapi sudah milik bangsa Indonesia. Orang Indonesia terkenal dengan keramahannya akan sikap tutur kata yang sopan dan selalu lembut. Karenya, meskipun kadang tidak suka, tapi tidak ditunjukkannya secara terbuka tentang apa yang dirasakan di hatinya.


Sebenarnya ewuh pakewuh itu baik, karena maksudnya untuk menjaga perasaan dan jalinan hubungan persaudaraan sesama manusia. Agar hidup nyaman, tenteram dengan tetangga, saudara, teman, atau bahkan atasan.


Namun, apa yang terjadi jika porsi penerapan budaya ewuh pakewuh tersebut terlalu berlebihan? Tentu ini akan menghambat pencapaian suatu tujuan organisasi atau apapun yang telah ditetapkan bersama. Contohnya, dalam kehidupan keluarga, jika ada anak yang diemaskan atau disayang secara berlebihan karena semata wayang, ketika salah tidak ditegur, atau misalnya seorang ayah tidak ditegur melakukan kesalahan karena dia satu-satunya yang mencari nafkah di keluarga itu.


Banyak misal yang terjadi di Pemerintahan adalah adanya perasaan hutang budi, karena diangkat oleh atasannya seorang Presiden, seorang menteri tidak berani menegur Presiden saat menteri itu melihat atasannya berbuat salah. Memang ewuh pakewuh seringkali menghinggapi bawahan kepada atasan. Ewuh pakewuh seringkali merugikan pihak orang itu sendiri yang dihinggapi oleh perasaan ewuh pakewuh. Sudah tahu akibatnya akan tidak baik buat dirinya ke depan, karena ewuh pakewuh kepada seseorang yang mempunyai budi, dia melaksanakan juga hal yang tidak dia senangi sekedar menyenangkan hati orang yang memberi budi.


Ketika rasa ewuh pakewuh ini dirasa sangat berlebihan, maka akan memicu seseorang untuk �ABS� atau �Yes Man�. Padahal fakta tak ada manusia yang sempurna, siapapun yang berbuat salah atau keliru harus dan perlu dikoreksi dan dibenarkan, agar kesalahan atau kekeliruan itu tidak terulang lagi.


DAHLAN ISKAN VS AHOK: Soal Ewuh Pakewuh


Dahlan Iskan dan Ahok mempunyai sikap yang berbeda terhadap atasannya. Keduanya tentu mempunyai rasa ewuh pakewuh pada atasannya, tetapi Ahok lebih bisa menempatkan rasa ewuh pakewuh di tempat yang semestinya dibanding Dahlan Iskan.


Ahok (Wakil Gubernur DKI Jakarta) berlawanan kata dengan Gamawan Fauzi Menteri Dalam Negeri yang merupakan pejabat di atas posisi Ahok di Pemerintahan. Ahok dengan berani menegur Gamawan Fauzi yang dianggapnya tidak memahami konstitusi saat komentar miring Gamawan terlontar terkait sikap Pemda DKI yang mempertahankan Lurah Lenteng Agung Susan yang didemo oleh orang-orang yang tidak setuju akan agama yang dianut Lurah Susan yang berbeda dengan lingkungan yang dipimpinnya. Ahok bersikap tanpa kompromi. Ahok tidak peduli walaupun sikapnya menyinggung Gamawan. Ahok berani karena dianggapnya Gamawan tidak pada tempatnya berkomentar miring terhadap urusan Pemda DKI terkait penempatan Lurah Lenteng Agung Susan. Demikian juga sikap plin plan Gamawan soal Ormas, Ahok melawannya.


Sebaliknya Dahlan Iskan sebagai Meneg BUMN karena ewuh pakewuh kepada atasannya Presiden SBY, Dahlan tetap mengikuti konvensi Partai Demokrat. Dahlan Iskan walaupun sudah diingatkan oleh para pendukung dan koleganya untuk tidak mengikuti konvensi Demokrat, tetapi memaksa ikut karena sungkan kepada SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat. Fakta terakhir memang membuktikan bahwa kesertaan Dahlan Iskan sia-sia. Alih-alih membuat elektabilitas Dahlan Iskan meningkat, malah kritikan banyak diarahkan kepadanya dari sebagian besar pendukungnya.


Dengan mengikuti konvensi penyaringan calon presiden tersebut, Dahlan Iskan membiarkan dirinya dalam dilemma yang merugikan dirinya, bahkan Negara serta bangsa. Dahlan Iskan pada saat yang sama harus menjalankan tugasnya sebagai menteri mengabdi pada Negara untuk kepentingan rakyat Indonesia, dan harus mencurahkan waktunya untuk kepentingan Partai Demokrat, karena dia mengikuti konvensi yang menyita tidak hanya waktu tapi pikirannya untuk konvensi yang seharusnya dia konsentrasikan untuk kepentingan Negara dan rakyat Indonesia sebagai Menteri. Saya yakin Dahlan Iskan paham hal ini.


Bahkan untuk survey cawapres pun Dahlan Iskan kalah oleh Ahok. Adalah Cyrus Network yang melaporkan survey yang diadakannya dua kali yaitu yang pertama 23 � 28 Agustus dan yang kedua 12 � 14 September 2013 dengan responden 1,020 orang dengan tingkat margin eror 3.1 persen, bahwa tingkat elektabilitas Ahok melejit cukup mengejutkan meninggalkan jauh tingkat elektabilitas Dahlan Iskan. Cyrus Network mencatat kenaikan tingkat elektabilitas Ahok**) paling tinggi yaitu 4.7% dibandingkan dengan calon wakil presiden lainnya yaitu Dahlan Iskan 2.5%, Hatta Rajasa 1.1%, Anies Baswedan 0.5% Hari Tanoe (tidak berubah)


Jika demikian, layakkah Dahlan Iskan menjadi Presiden atau Wapres 2014, jika dia tidak mampu memilih sesuatu yang dia sebenarnya tahu bagaimana harus bersikap?


Silakan pembaca menilai.


*) Penulis adalah Jokowi Lover yang lebih cinta Indonesia.


**) Angka persentasi tingkat elektabilitas didapatkan dari pengurangan persentase survey kedua dikurangi survey pertama (Merdeka.com, 7 Oktober 2013)



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/12/dahlan-iskan-tak-sebanding-dengan-ahok-610085.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger