Daud Vs Goliath versi abad 21; anas cs Vs Penguasa


Ngeri membaca begitu banyak kejadian dengan analisis behind the scene yang beraneka rupa muncul ke permukaan. Gara-garanya, publik negara ini disuguhi sebuah tontonan yang bisa jadi, merupakan sebuah rekayasa besar dari penguasa yang marah pada common enemy -nya. Menganalogikan SBY sebagai seorang Penguasa, rasanya lebih tepat, ketimbang merepresentasikan Beliau ini sebagai Presiden negara RI. SBY memang representasi Indonesia di mata dunia, tetapi hal ini kemudian tanpa disadari terotomatisasi lebur bersama beberapa aktifitas si Bapak BY beberapa belakangan yang cenderung subyektif, tidak fokus dan -maaf, cengeng.


Kembali pada topik awal, keteracakan Penguasa dalam menggunakan segala kekuatan yang dimilikinya untuk meruntuhkan anas cs, sebenarnya nampak dari beberapa anti tesis (atau) reaksi yang sempat muncul di permukaan dan terekam dengan baik oleh dokumentator negeri ini. Bukan sebuah kebetulan, jika kemudian anti tesis ini memancing banyak reaksi pro kontra. Bak tontonan drama sabun dari meksiko, publik Indonesia kembali diberi tontonan berpotensi meraih rating tertinggi, yaitu KPK kembali menggumuli kasus Hambalang.


Tapi, bukan Anas jika tidak santun. Si muda yang sebenarnya digadang-gadang banyak orang akan menjadi salah satu tokoh potensial calon presiden muda Republik ini, melihat seluruh hal yang dituduhkan dan ditimpakan padanya dengan jawaban yang konsisten; Dan sebenarnya, jika masyarakat melihat tontonan ini dengan hati, bukan hanya mengikuti trend agar tidak ketinggalan berita, dapatlah disaksikan siapa sebenarnya mendzolimi masyarakat Indonesia. Iya, dalam perspektif saya, masyarakat kembali dibodohkan dengan sebuah conspiracy theory yang melibatkan banyak sekali aktor di dalamnya. Lebih parahnya, aktor-aktor ini pun bermain dengan sangat baik pula. Layak mendapatkan Razzie Award yang digelar oleh pegiat Hollywood untuk memberikan penghargaan kepada artist dengan reputasi ter-BURUK di masing-masing jenis pilihan.


Disini, Anas cs dapat disejajarkan dengan Daud; Kecil, bersenjata katapel, tetapi terus berpikir bagaimana cara untuk mengalahkan penguasa dengan sentuhan cantik dan tetap santun. Lalu pertanyaannya, apakah publik sampai dengan kejadian kemaren tetap menganggap Anas cs. santun? Sangat subjektif. Dan saya sendiri, melihat apa yang dilakukan teman-teman Anas yang mendapuk Anas untuk mendirikan sebuah ormas baru dengan nama PPI, sebenarnya sebuah langkah reaktif yang salah dalam ruang komunikasi politik. Pesan yang ingin disampaikan kepada publik atas berdirinya PPI, sampai hari ini saya rasa mayoritas, masyarakat menangkapnya adalah kelebay-an Anas Cs. untuk bersatu padu melawan Penguasa. Jikapun ini tidak benar, di negara kita yang lucu ini, toh media sudah kadung terlanjur memberikan pesan yang salah atas munculnya PPI.


Katapel Daud sebenarnya sudah cukup. Tidak perlu PPI. Katapel Daud buat saya adalah sebuah konsistensi Anas untuk membuktikan janjinya membacakan halaman demi halaman baru yang isinya tentu sebuah dokumentasi pribadi Anas selama berpolitik di Demokrat. Bahkan, mungkin saja, semenjak di KPU dengan kasus pengadaan komputernya.


Di sisi waktu, Pak BY sebagai penguasa, mungkin mulai ketar-ketir. Beberapa hal yang sebenarnya sebuah aib bagi beliau bisa jadi akan segera di-state oleh Anas cs dalam bentuk batu yang siap dibidikkan oleh Katapel. Dan bahan dari Batu ini yang menarik. Maklum, kurang dari 10 bulan Pak BY harus meletakkan jabatannya sebagai presiden. Undur diri dan mungkin kembali untuk menafakuri sisa hari yang Pak BY miliki dengan menimang cucu dan bersantai di kursi goyang yang mangkrak di Cikeas sembari bersenandung. Jika memang demikian inginnya pak BY, tentu Beliau tidak akan berlaku seperti yang dipertontonkan hari ini. Ada hal besar yang disembunyikan dari Publik. Hal ini kemudian direkayasa, dibelokkan dengan memakan banyak sekali kambing putih berubah menjadi kambing Hitam. Termasuk Anas dan Cs.nya.


Dalam konteks ini, Goliath yang sudah kalap, memang tindakannya tidak akan dapat dirasionalisasi. Serba emosi pasti, dan demi menyelamatkan anak sendiri? bisa jadi. Ini yang mungkin nanti akan menjerumuskan Pak BY sepeninggal jabatannya, ke dalam sebuah tuduhan yang siap dengan banyak bukti otentik; TERDAKWA. Hey..di negara ini, mana ada sih setiap ganti kepemimpinan tidak melakukan balas dendam dan penangkapan terhadap lawan politik secara sporadis.


Publik memang bisa menilai secara baik, jika media dalam melakukan pemberitaan pun tidak bersifat jamaah dan penuh subyektifitas. Media harusnya memberi sebuah sumbangsih pemikiran bagaimana usahanya untuk ikut mencerdaskan masyarakat Indonesia. Bukan hanya jual oplah, tetapi juga turut ikut menjadi juri yang adil, obyektif dalam memaparkan berita-beritanya.


Dan pertarungan ini masih panjang. Ini semua tak akan berhenti sampai Oktober 2013 mendatang. Akan menghabiskan banyak batu untuk menyerang si Goliath agar tumbang, tapi dengan sebuah perencanaan politik yang baik, bisa jadi batu yang menyerang si Goliath memang benar-benar batu berkhasiat. Yang begitu dibidikkan jika kena akan sakit. Bahkan bengkak.


Arena pertarungan Daud vs Goliath pun sangat luas; seluruh masayarakat dunia boo. tidak melulu masyarakat Indonesia. Penuh mata memandang, penuh mata menggambarkan kekecewaan. Kecewa pada si Goliath yang semakin Oon menjadi kepala negara, tauladan yang baik baik konstituen dan masyarakat Indonesia. serta kecewa pada keadaan si Daud yang terus dihajar bak teroris.


Semoga kebenaran muncul (.)



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/14/daud-vs-goliath-versi-abad-21-anas-cs-vs-penguasa-610487.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger