ilustrasi : www.adelehorin.com.au
Cinta, kasih dan sayang antara sepasang kekasih, memiliki ekspresi yang berbeda pada usia yang berbeda. Pada kalangan anak-anak muda yang tengah pacaran, mereka memiliki ekspresi yang sangat ekspresif. Tampak pada cara mereka berinteraksi selama masa pacaran, cara berboncengan saat naik sepeda motor, cara bicara waktu telepon, cara berbahasa lewat sms, cara mereka kencan, dan lain sebagainya. Semua terekspresikan dengan romantis. Tampak ekspresi yang menunjukkan tanda-tanda orang kasmaran.
Pada pasangan pengantin baru, ekspresi seperti itu juga tampak, namun cenderung lebih “sopan” dibandingkan dengan anak-anak muda (atau orang tua) yang tengah pacaran dan jatuh cinta. Pengantin baru mengekspresikan cinta dengan “kebersamaan” secara fisik yang sangat kuat. Maunya makan selalu berdua, pergi selalu berdua, tidur harus berdua, mandi juga berdua. Gandengan tangan, pelukan, ciuman mesra, belaian, dan berbagai ekspresi yang sangat kuat segi fisiknya. Obrolan, canda, tawa, seakan tiada habisnya dan dunia menjadi milik mereka berdua.
Ekspresi Cinta yang Liar
Saya sebut lebih “sopan”, karena ekspresi cinta pengantin baru justru akan mereka batasi saat di ruang publik. Mereka beraktivitas bebas ketika di ruang privat, seperti di kamar atau di rumah mereka sendiri. Pada pasangan anak muda yang pacaran, tampak ekspresi yang “liar” dan tidak sopan ditunjukkan di ruang publik. Saya sering melihat pasangan anak-anak muda duduk berduaan di tengah keremangan cahaya lampu malam hari, di tempat-tempat yang sepi, duduk di atas motor yang diparkir. Di wilayah sekitar kampus, pemandangan seperti ini sering dijumpai di malam hari.
Setiap kali saya melintas di wilayah Kalibata, Jakarta Selatan, di beberapa ruas jalan yang sepi, tampak berderet-deret pasangan anak-anak muda yang melakukan aktivitas pacaran di keremangan cahaya lampu malam. Mereka duduk berdua, berpelukan, berangkulan, di pinggir jalan. Tampak motor-motor dan mobil parkir di pinggir jalan, dan tampak pasangan anak muda yang pacaran, berderet-deret di sepanjang ruas jalan tersebut. “Kurang forum”, begitu sering saya istilahkan. Di semua kota besar di Indonesia, pemandangan seperti itu mudah didapatkan.
Ekspresi seperti itu, hampir bisa dipastikan, tidak dilakukan oleh pasangan suami isteri. Yang sedang duduk berduaan di pinggir jalan raya, di tengah keremangan cahaya lampu malam, adalah pasangan anak muda yang tengah pacaran. Ekspresinya liar dan ditampakkan di ruang publik. Ini karena mereka belum memiliki ruang privat yang “sah”, karena memang belum menikah. Setelah menikah, mereka mengekspresikan hasrat hati di ruang privat, sehingga menjadi lebih sopan ketika di ruang publik. Pengantin baru sudah memiliki banyak “forum” yang sah, sehingga tidak akan kekurangan forum seperti orang pacaran yang takut ketahuan.
Situasi seperti itu yang disebut sebagai “mawaddah”, sebuah perasaan cinta dan kasih sayang antara suami dan isteri, yang bercorak sangat fisik dan sangat ekspresif. Biasanya terjadi pada pengantin baru dan pasangan suami isteri yang muda usia. Pada usia muda, ekspresi cinta bercorak sangat dominan aktivitas fisiknya, selain dipengaruhi oleh jiwa muda mereka, juga secara fisik memang sangat mendukung. Bentuk fisik yang masih sangat bagus, kekuatan fisik yang sangat mendukung, dan semangat yang meledak-ledak, membuat ekspresi cinta menjadi sedemikian membara.
Ekspresi “Tingkat Tinggi”
Pada pasangan suami isteri yang sudah tua usia, ekspresi cinta, kasih dan sayang di antara mereka sudah tidak bercorak sangat fisik. Yang dominan adalah ikatan hati, komitmen, kesetiaan, pengertian, dan pemahaman. Ini yang saya istilahkan sebagai “tingkat tinggi”. Mereka berdua bisa berkomunikasi tanpa mengeluarkan kata-kata. Mereka bisa saling mengerti tanpa harus menjelaskan sesuatu. Mereka saling memahami tanpa harus bercerita dan mengeluarkan banyak kata-kata.
Situasi seperti ini yang disebut sebagai “rahmah”, yaitu perasaan cinta, kasih dan sayang yang sudah berada di luar batas-batas sebab secara fisik. Tidak banyak aktivitas fisik, karena secara faktual memang sudah tidak mendukung. Bentuk fisik sudah tidak ideal, kekuatan fisik juga sudah sangat berkurang, ditambah hasrat yang juga sudah tidak menggebu-gebu. Pada pasangan pengantin lama, atau pasangan yang sudah tua usia, mereka memiliki ekspresi yang tampak sederhana, namun penuh makna. Anak-anak muda sering sulit memahaminya.
Di buku Chicken Soup for the Soul, Daphna Renan menuliskan kisahnya saat ia tengah berada di sebuah restoran dan asyik mengobrol berlama-lama dengan Michael, kekasihnya. “Sementara obrolan kami yang menyenangkan terus berlanjut, pandanganku melayang ke seberang ruangan dan berhenti di sudut. Sepasang orang tua duduk berduaan di pojok itu. Si wanita mengunyah outmeal dengan pelan-pelan, nyaris dengan susah payah”.
“Yang membuat pikiranku teralih kepada mereka adalah keheningan yang melingkupi mereka. Aku sekan melihat kekosongan melankolis melingkupi pojok tempat mereka duduk. Ketika obrolanku dan Michael mereda dari gelak tawa menjadi bisikan, dari pengakuan ke penilaian, keheningan pasangan itu mengusik pikiranku. Alangkah menyedihkan, pikirku, kalau tak ada lagi yang bisa diobrolkan. Tidak adakah halaman yang belum mereka baca dalam kisah hidup masing-masing? Bagaimana kalau itu terjadi pada kami?”
“Michael dan aku membayar makanan lalu kami beranjak hendak meninggalkan restoran. Ketika kami melewati pojok tempat pasangan tua itu duduk, dompetku terjatuh. Aku membungkuk untuk mengambilnya. Aku melihat, di bawah meja tangan mereka saling berpegangan lembut. Mereka makan dengan hening sambil bergandengan tangan”.
“Aku menegakkan tubuhku. Aku sangat tersentuh melihat tindak sederhana namun penuh makna yang mencerminkan kedekatan hubungan pasangan itu. Aku merasa istimewa karena boleh menyaksikan. Belaian lembut tangan lelaki tua itu pada jari-jari isterinya yang letih dan keriput mengisi tidak hanya apa yang sebelumnya kuanggap sudut yang secara emosional kosong, tetapi juga mengisi hatiku”.
“Keheningan mereka bukanlah keheningan yang tidak nyaman. Keheningan mereka adalah keheningan yang nyaman dan rileks, itu adalah ungkapan cinta yang lembut dan tidak selalu memerlukan kata-kata untuk mengekspresikannya. Mungkin telah bertahun-tahun mereka bersama-sama menghabiskan jam-jam seperti ini di pagi hari. Mungkin hari ini tidak ada bedanya dari kemarin, tetapi mereka menikmatinya dengan hati yang damai. Mereka saling menerima pasangannya apa adanya…”
Hmmmmmh…. Luar biasa ya kisah kakek dan nenek yang berpegangan tangan secara lembut sambil melewati pagi hari berduaan. Mojok di suatu restoran, tangan saling bergandengan, walau tidak ada lagi kata-kata yang hendak diucapkan. Mereka mampu merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan hingga usia senja. Anak-anak muda mungkin melihat hal itu secara asing, karena tidak ada canda tawa dari mulut mereka berdua. Namun mereka bahagia, dalam keheningan yang melarutkan jiwa.
Itulah ekspresi cinta tingkat tinggi. Pasangan suami isteri yang mampu merawat cinta, kasih dan sayang hingga akhir hayat mereka. Semoga kita bisa mendapatkannya.
Mertosanan Kulon, Potorono, Banguntapan, Bantul, DIY 55196