BERAWAL dari update statusnya di Facebook, penulis berkenalan dengan tokoh pencinta budaya yang cukup gigih ini. Luluk Sumiarso, itulah nama pencinta budaya bangsa itu. Mengikuti sepak terjangnya dalam berkiprah di arena kebudayaan, ternyata tokoh ini punya prestasi yang mencengangkan. Kecintaannya pada budaya telah mencuatkan namanya di panggung internasional.
Pria kelahiran Ponorogo 1951, Jawa Timur ini adalah pendiri Yayasan Majapahit, Nusantara Institut, Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo dan kini menjabat sebagai Chairman & CEO at Indonesian Heritage Trust - BPPI, memang sudah diakui semangatnya dalam melestarikan budaya tradisional Indonesia. Diskusi-diskusinya cukup rame di halaman Facebooknya membahas seputar masalah warisan budaya Indonesia.
Usahanya dalam melestarikan warisan budaya bangsa memang tidak sembarang orang bisa menirunya. Luluk Sumiarso lulusan ITB, Teknik Elektro 1975 ini membeli tanah di Kampung Sawah Ciputat Banten kemudian dijadikan tempat untuk secara langsung merawat budaya warisan bangsa. Di tempat ini sering diadakan latihan berbagai kesenian. Tempat yang secara langsung bagi masyarakat bisa melakukan apresiasi dalam hal budaya nusantara.
Dari tempat inilah lahir group kesenian Puspo Budoyo yang aktif mengadakan pentas menyajikan kreatifitas para pendukungnya. Puspo Budoyo yang berdiri tahun 2003 itu pada mulanya menekuni kegiatan pentas seni campursari tapi kemudian secara berangsur mengadakan pentas kesenian ketoprak. Setelah mengadakan pentas kesenian ketoprak pada tahun 2006, pentas demi pentas berikutnya disusul di berbagai tempat dan penonton.
Acara terakhir yang cukup menonjol digelar di Sasono Langen Budoyo TMII pada tangga 30 Agustus 2013 lalu dan sempat dihadiri oleh Presiden SBY dan Ibu Hj. Ani Bambang Yoedhoyono. Acara yang diselenggarakan dalam rangka halal bihalal komunitas daerah itu ternyata menarik ratusan pengunjung. Dari pementasan inilah lahir ide untuk mendirikan universitas negeri di Madiun dan mendapat sambutan baik dari presiden. Usaha untuk mendirikan universitas itu saat ini masih dalam proses penggodokan. (Berita lebih lanjut bisa dilihat di sini.)
Puspo Budoyo yang punya tujuan melestarikan kesenian panggung tradisional menggaet kesenian lain selain ketoprak yakni wayang orang, ludruk, lenong dan sendratari. Memang kesenian ketopraklah yang selama ini sering dipentaskan di berbagai acara dan kesempatan.
Target penonton group kesenian ini memang tak terbatas. Kegiatan pentas yang diadakan tiap bulan tidak dipungut beaya bagi penonton yang tertarik. Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian nusantara yang kini kehidupannya makin kembang kempis.
Untuk melestarikannya memang perlu peranan kita bersama sebelum semuanya terlambat. Sebelum diklaim sebagai milik bangsa lain. Kasus kesenian reyog yang diklaim sebagai kesenian Malaysia adalah salah satu contoh saja. Jika kita menelantarkan sesuatu, tentu saja orang lain yang menemukan bisa saja mengklaimnya sebagai miliknya. Kita tidak sadar bahwa apa yang kita terlantarkan itu sebenarnya amat bernilai.
Luluk Sumiarso yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi dan Sumber Daya Manusia, ESDM (pernah menjadi Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi), maka kegiatan berkeseniannya tidak mengherankan jika juga melibatkan tokoh-tokoh penting di pemerintah untuk pentas ketoprak sebagai bintang tamu, termasuk Dahlan Iskan. Usaha melibatkan bintang tamu dari kalangan pejabat itu barangkali merupakan strategi untuk mengikis image bahwa kesenian rakyat adalah kesenian yang tertinggal jaman dan ndeso yang hanya melibatkan peranan kaum pinggiran.
Proses kesenian adiluhung (kraton) memang melampaui proses stilisasi secara bertahap dari hasil kesenian-kesenian yang ada di masyarakat atau kesenian pinggiran itu. Dengan proses stilisasi kesenian rakyat, maka nilai seni yang ada mengalami penghalusan dan terangkat pada tataran lebih tinggi.
Puspo Budoyo tidak hanya berhenti pada penonton dalam negeri, tapi juga memperkenalkan di dunia internasional. Sebagai usaha kampanye untuk memperkenalkan kesenian Indonesia bagi kalangan luar negeri. Siapa tahu ada kalangan dari luar negeri yang tertarik untuk mendalaminya sehingga ikut menduniakan kesenian Indonesia.
Selama ini Puspo Budoyo telah pentas di Belanda, Spanyol, Yunani dan ikut festival internasional kesenian rakyat (folkfore) di Chile dan Festival Asia di Barcelona. Pada awal bulan November kemarin Puspo Budoyo memenuhi undangan untuk pentas untuk mengisi acara “Monstra Indonesia” di Brescia, Itali.
Acara yang dibuka oleh Dubes RI di Vatikan, Budiarman Bahar pada tanggal 9 November 2013 kemarin dilaporkan oleh Luluk Sumiarso lewat update status Facebooknya, bahwa acara tersebut mendapat sambutan meriah dari penonton setempat.
Usaha memperkenalkan budaya Indonesia ke luar negeri memang pantas mendapat acungan jempol. Banyak kalangan dari negara lain mulai tertarik dengan kesenian kita selama ini. Namun sayangnya ketertarikan mereka kurang terakomodasi dengan baik sehingga hanya kalangan terbatas dari lembaga pendidikan saja yang lebih banyak mendalami kesenian Indonesia dan minim dari kalangan umum. Kita perlu eksport tenaga-tenaga akhli dalam bidang seni ke luar negeri untuk membina group-group kesenian yang sudah ada namun kurang berkembang karena terbatasnya tenaga terlatih untuk itu.*** (HBS)