Enigma Jilbab Hitam dan Kenikmatan Dugaan


Beberapa hari terakhir ini nama Jilbab Hitam mencuat di Kompasiana. Kita semua tahu apa penyebabnya. Ia menuliskan “pengalaman pribadinya” berkait sisi hitam jurnalisme, khususnya di tubuh Tempo. Saya sendiri sudah membaca tulisan Jilbab Hitam di sini . Sebuah tulisan yang isinya jika, sekali lagi jika benar, maka tentu merupakan sodoran memalukan ke hadapan kita. Sebuah sodoran yang tentu bukan hanya memalukan, melainkan juga mengingatkan bahwa siapa pun atau apa pun di dunia ini tidak imun untuk bebas dari permainan gelap seperti itu.


Saya menyebut tulisan Jilbab Hitam sebagai sebuah enigma karena ia telah menorehkan banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Kemarin saya membaca tulisan Pak Gunawan berjudul “Menguak Tabir Jilbab Hitam“. Tetapi isinya lebih berupa pertanyaan-pertanyaan ketimbang kuakan tabir. Tidak ada kuakan tabir sama sekali. Ke hadapan kita hanya tersuguh berbagai pertanyaan dan dugaan, sementara kita dibiarkan “sendirian” tanpa jawaban pasti.


Di sini, saya tidak akan menorot enigma itu per se. Saya tidak berkompeten dalam hal itu. Saya bukan ahli mengenai “jale”, sebuah istilah yang digunakan Jilbab Hitam mengenai kebiasaan mengharapakan, mencari, dan menerima gratifikasi di kalangan para praktisi jurnalisme. Saya juga tidak mengenal seluk beluk jurnalisme dengan segala kompleksitasnya. Itu berada di luar wilayah kompetensi saya. Dan saya yakin, banyak di antara kita, termasuk yang sudah menulis mengenai Jilbab Hitam pun tidak berbeda jauh dengan saya.


Lalu, apakah yang memikat kita sekiranya tulisan Jilbab Hitam sekadar sebuah enigma? Apakah yang merangsang otak dan kemudian itu tersalur ke tangan kita untuk mengetik tulisan mengenai Jilbab Hitam? Menurut saya, salah satu jawaban yang masuk akal adalah kenikmatan dugaan.


Sadar atau tidak sadar, kita menikmati ketidakjelasan. Ketidakjelasan memberi ruang bagi imajinasi dan perenungan yang judulnya tidak lain adalah dugaan. Kita hidup dari satu dugaan ke dugaan lainnya. Kita menuliskan dan mempopularkan dugaan-dugaan kita. Bukankah itu berarti kita menikmati ketidakjelasan? Kita mendapatkan pemenuhan aktualisasi diri dan kreatifitas menalar dengan mengendarai ketidakjelasan demi menghasilkan dugaan demi dugaan.


Dan menariknya, semua media, yang di dalamnya kepiawaian jurnalistime menempati posisi motoriknya, hampir-hampir tidak dapat menjual apa pun kepada publik, selain dugaan. Entah itu dugaan tanpa bukti, maupun dugaan yang berbasis bukti tertentu yang ditafsirkan sedemikian rupa sehingga membuat watak penikmat dugaan kita menjadi terangsang. Si A mengatakan B, lalu itu dikaitkan sana sini dengan segala tetek bengek motif, dsb., lalu itu menjadi konsusmsi publik. Konsumsi yang nikmat.


Saya tidak menyatakan bahwa media tidak menyatakan kebenaran yang substansial sama sekali. Itu bukan maksud saya. Saya sedang menyorot satu sisi milik bersama yang dimanfaatkan oleh media untuk meraup pembaca dan sekaligus meraup penghasilan.


Maka, ada baiknya enigma Jilbab Hitam, dimaknai sebagai sebuah alarm pengingat, bahwa kita sebenarnya tidak sekadar ingin menguak tabir. Sesungguhnya, pada saat yang sama kita mengejar dugaan dan mempublikasikan dugaan, demi memuaskan hasrat menduga yang kita nikmati dari waktu ke waktu.


Saya tidak dapat menyalahkan Jilbab Hitam karena ada kemungkinan ia benar. Saya juga tidak dapat membenarkan Jilbab Hitam karena ada kemungkinan ia bermotif buruk dan merekayasa “fakta” di dalam tulisannya. Siapa tahu? Tetapi saya berterima kasih kepada Jilbab Hitam karena ia telah meninggalkan sebuah enigma sehingga saya bahkan dapat mengendarinya untuk mengajak kita kembali mengingat dengan jelas bahwa dugaan, seberapa kuat pun itu, judulnya tetap dugaan. Kita hanya bisa berkata mungkin, namun mungkin itu sendiri pun adalah dugaan.


Bukankah itu manusiawi? Sangat manusiawi. Maka janganlah melahap dugaan seakan-akan itu kepastian dan jangan pula meresponsi sebuah kepastian seakan-akan itu dugaan.


Selamat siang Indonesia; Salam Kompasiana!



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/14/enigma-jilbab-hitam-dan-kenikmatan-dugaan-609290.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger