Sejak mencuatnya skandal sadap-menyadap yang diungkapkan ke publik oleh Edward Snowden, terus terang saya terganggu dengan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terkesan diam saja. Tapi lalu muncul pemikiran dalam benak saya. Ah, beliau pasti mempunyai pertimbangan matang dan strategi menghadapi ini.
Yang jelas strategi yang dipilih SBY adalah dengan melakukan protes di level Menlu. Marty Natalegawa gencar melakukan protes terhadap pemerintah Australia, memanggil Dubes Australia dan Dubes AS. Melalui Badan Intelijen Nasional (BIN), Indonesia juga melakukan komunikasi antar intelijen AS dan Australia.
Selain itu, masih via Menlu, Indonesia mendukung dan mensponsori resolusi PBB yang membatasi aktivitas intelijen dunia agar tidak melanggar kedaulatan negara lain. Di dalamnya juga berisi tentang pelarangan menyadap pemerintah negara lain.
Cukupkah kebijakan yang diambil SBY itu? Tentu saja tidak! Yang mengatakan tidak cukup tentu saja lawan politik SBY. Biasalah, ada saja yang punya kepentingan menjadikan isu ini menjadi komoditas politik dalam negeri. Apalagi menjelang 2014!
Mereka berteriak, mendesak, dan mencemooh! “SBY harusnya ngomong!” “Pemimpin Jerman saja bicara.” “SBY kalau masalah pribadi dan partai langsung ngomong. Kalau masalah kedaulatan bangsa diam saja.” Begitu kira-kira komentar-komentar yang berseliweran di media belakangan ini.
Jenderal SBY ahli strategi
Lalu mengapa SBY diam? Ini pendapat saya. Pertama, jelas SBY tidak diam. Beliau telah menginstrusikan Menlu Marty untuk mengambil langkah-langkah yang dijelaskan di atas.
Lalu mengapa SBY tak marah seperti Angela Merkel saat mengetahui AS-Australia melakukan penyadapan? Menurut saya, SBY enggan bersandiwara seperti Merkel. Ya Merkel bagi saya bersandiwara saja. Saya gak yakin tuh BND (Intelijen Jerman) juga tidak menyadap AS atau mungkin juga Indonesia?
Pendapat saya ini terinspirasi oleh komentar Muhammad Salahudin, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII). Didin mengomentari kelakuan para hacker Indonesia yang menyerang situs-situs Australia. Menurut Didin yang juga mantan hacker, apa yang dilakukan para hacker itu hanya akan merepotkan Indonesia sendiri dan dilakukan atas nama rasa nasionalisme salah kaprah.
Selengkapnya baca: http://www.merdeka.com/teknologi/id-sirtii-ulah-hacker-menyerang-australia-bikin-repot-indonesia.html
Dari sekian pernyataan Didin, ada satu pernyataan yang menurut saya sangat menarik. “Memangnya yakin, kita tidak melakukan hal yang sama, yaitu melakukan penyadapan ke mereka (AS dan Aus)?” ujar Didin.
Membaca itu, langsung saya ngeh mengapa SBY bersikap tenang dan tidak buru-buru marah-marah seperti Angela Merkel. Sekali lagi saya tegaskan, “yakin emang intel Jerman juga tak sadap AS atau Indonesia? Tak perlu pura-pura deh!”
BIN dan Lemsaneg bisa diandalkan
Alasan kedua mengapa SBY bersikap tenang adalah menurut saya, karena beliau mendapat jaminan dari lembaga terkait, dalam hal ini BIN dan Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), bahwa tak ada yang membahayakan dari skandal sadap menyadap tersebut.
Ini sejalan dengan pengakuan pengamat intelijen Universitas Indonesia (UI) Wawan Purwanto. Wawan memastikan intelijen AS dan Australia tak mampu membongkar dokumen Indonesia yang berkategori rahasia dan sangat rahasia.
Wawan lebih lanjut meyakini bahwa BIN dan Lemsaneg sudah mengetahui aksi penyadapan itu dan mampu mengamankan rahasia negara. Wawan bisa memastikan hal itu karena dia sendiri sudah mengecek langsung di Wikileaks dan sejumlah dokumen yang pernah disadap Snowden.
Wawan menjelaskan informasi yang berkategori rahasia dan sangat rahasia hanya ada 10 persen. Sedangkan yang biasa dan terbatas jumlahnya 90 persen. “Dilihat dari apa yang disadap dan dilihat asing, kebanyakan informasi yang terbuka dan sifatnya umum,” kata Wawan.
Wawan mengatakan BIN dan Lemsaneg selalu meningkatkan kinerja, tetapi untuk melaporkan secara gamblang ke publik, jelas tidak pada porsinya karena sesuai Undang-Undang, BIN dan Lemsaneg harus melaporkannya ke Presiden dan DPR.
Baca selengkapnya di http://strategi-militer.blogspot.com/2013/11/dokumen-rahasia-indonesia-aman-dan.html#more
“Tapi kalau kita mengatakan intelijen membiarkan gerakan asing dan malah sibuk memata-matai rakyatnya jelas itu menyesatkan. DPR pasti akan beraksi bila intelijen lembek dan ditunggangi penguasa,” papar Wawan menyindir tuduhan fungsionaris PDIP, Jeffry F. Silalahi (baca: http://www.rmol.co/read/2013/11/09/132532/Bukannya-Menangkal-Intelijen-Asing,-BIN-Malah-Digunakan-Memata-matai-Musuh-SBY-).
Ya politikus kayak Kangmas Jeffry ini termasuk kategori yang ingin memanfaatkan isu semacam ini untuk kepentingannya sendiri dan kelompoknya. Sementara itu, jelas Presiden SBY membuat kebijakan untuk menjaga harkat dan martabat bangsa!
Sekali lagi, kalem bro! Jangan salah kaprah dengan rasa nasionalisme Anda!