Jika dihitung mundur mulai (tanggal) hari ini, 62 hari lagi itu bukan waktu yang lama, tetapi apakah pak Prabowo tidak ‘melihat’ kesempatan itu ya? Atau mungkin melihat tetapi menganggap itu bukan suatu masalah, tetapi apakah benar berani bertaruh seperti itu ?
Beberapa minggu belakangan ini, dalam setiap kesempatan saya memberi komentar atas tulisan, berita di media online juga di media sosial facebook dan twitter mengenai partai Gerindra atau Prabowo Subianto, di akhir komentar sebelum saya menutup, selalu saya sisipkan paragraf seperti ini (saya kutip dari salah satu komentar saya di kompasiana); “Sebagai orang awam…., saya ingin menyampaikan pesan kpd pak PS, jangan sampai terlambat & hilang momentum yg sdh terbangun selama ini, krn saya melihat kecenderungannya menjadi turun. Bila momentum yang sekarang ada terlambat disampaikan, apalagi hilang…, kesempatan yang ada tdk akan datang untuk kedua kali dengan situasi & kondisi yang sama”, (mungkin) apalah arti dari pesan orang awam seperti saya, tetapi seawam apapun orang yang memberi pesan jika diniatkan karena kebaikan pastinya ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kita mundur ke tanggal 15 Oktober 2012, sebelum tanggal ini, jika kita mencermati elektabilitas tokoh nasional yang dianggap mampu memimpin negeri ini di 2014, yang terdengar teratas (apapun alasannya) adalah nama “Prabowo Subianto”, apalagi saat partai Gerindra dan PDIP bersama-sama mengusung nama Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, nama “Prabowo Subianto” makin terangkat dan nama partai Gerindra-pun ikut terungkit, sehingga setelah perhelatan pemilukada tersebut muncul istilah “pembonceng” yang disampaikan oleh (Alm.) bapak Taufik Kiemas karena alasan tertentu.
Setelah kita mundur dari tanggal 15 Oktober 2012, mari sekarang kita maju dari tanggal 15 Oktober 2012, setelah pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta periode 2012 – 2017, masih ada beberapa pemilukada lain yang juga diikuti oleh partai Gerindra, dalam beberapa kesempatan pemilukada ini beberapa kesempatan pula dalam mengusung calon kepala daerahnya, partai Gerindra ‘bergandengan tangan’ dengan partai-partai yang sudah dianggap rakyat menghianati amanah rakyat. Menurut saya (apapun alasannya) ini adalah suatu sikap keputusan yang keliru, karena dengan sikap tersebut masyarakat yang kritis dan antipati dengan partai-partai yang dianggap sudah menghianati amanah rakyat bertanya-tanya mengenai konsistensi partai Gerindra jika saat nanti diberi kesempatan menjadi the ruling party negeri ini. Bicara partai Gerindra adalah bicara tentang seorang Prabowo Subianto, artinya sikap keliru ini juga berimbas pada nama “Prabowo Subianto”.
Hampir 1 tahun saya tidak aktif dalam menulis dan membuka akun saya di kompasiana, beberapa minggu yang lalu saat saya mulai membuka kembali akun dan mencoba kembali aktif menulis di kompasiana, saya mengetahui ada akun resmi partai Gerindra di kompasiana. Saya membaca artikel-artikel yang ditulis dalam akun partai Gerindra tersebut, yang saya amati adalah admin akun tersebut lebih banyak menanggapi komentar-komentar yang bersifat mendukung dibanding sebaliknya tetapi bukan berarti tidak ada komentar yang tidak mendukung tidak ditanggapi oleh admin, seharusnya menurut saya untuk komentar-komentar yang bersifat tidak mendukung adalah tugas admin akun tersebut untuk lebih menanggapi secara baik dan benar hingga sang komentator merasa puas dan dihargai, lebih baik lagi sang komentator dapat menerima penjelasan-penjelasan admin atas komentarnya tersebut, jikapun tidak, sang komentator tetap akan merasakan perhatian atas komentarnya tersebut walaupun tidak dalam posisi mendukung. Pastinya hal ini akan lebih baik dibanding seorang komentator melihat komentar yang mendukung ditanggapi sementara komentar yang tidak mendukung tidak ditanggapi.
Sejalan dengan itu, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta sejak hari pelantikan 15 Oktober 2012 mulai membenahi Jakarta dengan gebrakan-gebrakan yang membuat mayoritas masyarakat Jakarta juga penduduk Indonesia ‘terkaget-kaget’, apalagi gebrakan-gebrakan tersebut ternyata dirasa banyak bermanfaat untuk masyarakat di jakarta, maka dengan cepat dan pasti nama “Jokowi-Ahok” makin dikenal bukan hanya di Jakarta tetapi juga di Indonesia. Banyak saya membaca di media online atau media sosial yang menginginkan seorang Jokowi untuk pindah ke daerah tersebut menjadi kepala daerahnya dan membangun daerah tersebut, tidak berhenti sampai disitu semakin banyak suara yang menginginkan agar Jokowi memimpin negeri ini di 2014 dengan menjadi Presiden. Jika sekarang kita melihat elektabilitas dan mengabaikan kapabilitas dari semua calon Presiden yang memungkinkan di 2014, nama “Jokowi” adalah yang paling teratas kemudian muncul nama “Prabowo Subianto” dan diikuti nama-nama calon lain di bawahnya, ini adalah realita yang ada dan bukan rekayasa.
Jadi pesan saya sebagai orang awam untuk bapak Prabowo Subianto adalah bukan mengada-ada dan jika ini diabaikan, saya khawatir seperti sebahagian yang saya kutip dalam pesan saya di atas; “Bila momentum yang sekarang ada terlambat disampaikan, apalagi hilang…, kesempatan yang ada tdk akan datang untuk kedua kali dengan situasi & kondisi yang sama”. Saya berangan-angan seandainya mungkin, ingin langsung bertemu dengan pak Prabowo Subianto dan menanyakan langsung kepada beliau seperti ini; “Apakah bapak melihat fenomena ini ?”, “Apakah bapak tidak khawatir hal ini akan ‘mengganggu’ elektabilitas bapak nanti ?”
Menurut saya, daripada partai Gerindra mengeluarkan pernyataan politik seperti Partai Demokrat yang menyarankan agar Jokowi fokus dulu mengurusi ibukota Jakarta atau lain sebagainya, hal ini malah berkesan karena rasa takut berkompetisi dengan seorang Jokowi atau membuat tayangan iklan seperti yang dilakukan oleh partai Golkar yang oleh sebahagian pemirsanya akan langsung dipindah saluran karena rasa muak yang hanya menganggap sebagai janji isapan jempol saja, atau hal-hal lain yang pada akhirnya malah merugikan partai Gerindra juga nama “Prabowo Subianto”, adalah lebih baik partai Gerindra dalam hal ini Prabowo Subianto melakukan sesuatu yang tidak terlalu besar tetapi mungkin memang agak sulit tetapi bila ini dapat dilakukan, semuanya ke depan akan lebih mudah. Sayangnya sampai dengan saat ini (mohon koreksi jika salah) saya masih belum melihat ada tanda-tanda dari partai Gerindra melakukan hal itu, maka dalam sebahagian pesan saya juga mengatakan; “jangan sampai terlambat & hilang momentum yg sdh terbangun selama ini”.
Bila seorang Prabowo Subianto sempat membaca tulisan ini, apakah beliau tetap akan menganggap pesan saya ini adalah adalah pesan tiada arti ?, semoga tidak dan saya berharap beliau akan memulai dengan apa yang saya maksud; “melakukan sesuatu yang tidak terlalu besar tetapi mungkin memang agak sulit tetapi bila ini dapat dilakukan, semuanya ke depan akan lebih mudah”, karena waktu 62 hari lagi dari sekarang adalah waktu yang sangat cepat dan jika ini berlalu begitu saja maka (khawatir); “kesempatan yang ada tdk akan datang untuk kedua kali dengan situasi & kondisi yang sama”.
“Gemas Saya Dengan Prabowo Subianto” atau “Surat Terbuka Untuk Prabowo Subianto”, mana yang cocok judul untuk tulisan ini adalah tidak terlalu penting, terpenting adalah ‘kegemasan’ saya sudah diketahui oleh bapak Prabowo Subianto. Terimakasih.