TIDAK terasa kurang dari setahun lagi kita akan melakukan pemilihan presiden kembali. Tidak terasa sudah sembilan tahun lebih SBY menggarap Indonesia. Dan dengan di bantu menteri-menterinya coba mengatasi keruwetan dan permasahan. Hasilnya adalah seperti yang kita rasakan sekarang ini, puaskah anda warga Indonesia? Menurut saya Indonesia bisa lebih dari sekarang, dari kualitas kehidupan rakyatnya.
Ketika harga-harga komoditi mahal seperti kedelai, daging dan sebagainya. Dan korupsi adalah penyakit akut yang masih merongrong kehidupan berbangsa kita. Hingga seorang menteri dari partai SBY sendiri menjadi pesakitan komisi pemberantasan korupsi. Melihat keadaan ini tentu ada satu kesalahan pada pengkaderan partai pemenang pemilu yang di gawangi oleh SBY itu. Bagaimana ia tak mampu memberikan kader terbaiknya untuk di persembahkan pada bangsa, rakyat dan Negara Indonesia. Yang bebas korupsi tentunya. Ini adalah salah satu pencoreng prestasi Demokrat sebagi partai pemenang yang seharusnya bisa berbuat lebih baik untuk Indonesia.
Bahkan yang juga perlu menjadi sorotan juga adalah masalah birokrasi Indonesia yang masih terkesan mbulet dan suka mingpong keperngurusan perizinan. Dan ini sempat di akui sendiri oleh SBY bagaimana kurang praktisnya kepengurusan investasi yang ingin masuk ke Indonesia. Yang berakibat pada lambatnya pertumbuhan ekonomi yang seharusnya juga ini bisa di atasi oleh pemerintahanya sekarang.
Bahkan terlihat semakin sengkarut jika di kaitkan dengan masalah korupsi yang melanda lembaga-lembaga lain di luar pemerintah seperti DPR dan pejabat dewa, seperti Mahkamah Konstitusi. Dan ada yang mengusik rasa keadilan, ketika seorang koruptor terbukti bersalah masih mendapatkan uang saku pensiun di hari tua. Yang sudah jelas-jelas mencuri uang rakyat. Inilah kondisi yang mewarnai Indonesia di bawah SBY.
Ketika kita masih di suguhi kerumitan segala urusan di rejim SBY, muncul angin segar di etalase Indonesia. Terpilihnya seorang Jokowi sebagai pemimpin Jakarta. Gebrakan-gebrakanya yang pro rakyat kecil menjadi pembicaraan semua warga Indoneisa. Baik yang dari dalam kubunya sendiri ataupun dari luar kubu partainya.
Di bawah kepemimpinan Jokowi selama satu tahun ia sudah banyak menyita perhatian public dengan segala program-programnya seperti kartu jakkarta sehat, kartu jakarta pintar, pemindahan pedagang kaki lima yang sudah berakar puluhan tahun di Tanah abang, relokasi penduduk dari sekitar waduk Ria-rio, dan pluit, pengerukan waduknya juga dan sungai penyebab banjir dengan massif. Merasakan program itu sepertnyai Jakarta masih punya harapan dari sebutan ibukota gagal. Atau kota yang gagal mengurus dirinya sendiri.
Jakarta ala Jokowi berjalan selama setahun ini ada harapan, bahkan program KJS akan di tirukan oleh pemerintah pusat dengan meluncurkan JKN, jaminan kesehatan nasional di januari mendatang.
Jakarta di bawah Jokowi memperlihatkan geliat bangkit untuk memperbaiki diri sendiri. Banyak sebelumnya berobat gratis oleh masyarakat kecil masih jadi kendala, kini mereka terus menjejali rumah sakit-rumah sakit pemerintah. Rumah susun yang selama ini di salah gunakan oleh para pembeli kaya, di peruntukanya bagi pemukim kumuh dari sekitar waduk yang sedang di keduk dan di bangun taman. Belum lagi program rumah deretnya untuk mengganti pemukiman kumuh di sekitar bantaran kali.
Perbaikan jokowi masih belum seberapa, dari segi hasil dan waktu. Namun sudah ada yang di rasakan warga Jakarta. Lalu sepak terjangnya di jakarta memberi harapan baru bagi rakyat. Mereka menginginkan pemimpin model jokowi untuk kepemimpinan Indonesia. Ini terlihat dari berbagai survey yang selalu menempatkanya di posisi teratas, untuk pilihan pemimpin di 2014 mendatang. Walau di Jakarta masih banyak PR yang harus di kerjakan. Seperti banjir tahunan yang selalu melanda, kemacetan akut yang masih syarat.
kini program pengurangan kemacetan kontradiksi dengan program mobil murah yang di luncurkan oleh pemerintah pusat pimpinan SBY. Di saat Jakarta dan wilayah lain berusaha memecahkan masalah kemacetan dengan mengurangi pemakaian mobil pribadi. Pemerintah pusat mengizinkan beredarnya mobil murah. Yang berakibat bertambahnya volume kendaraan.
Itulah Indonesia ala SBY dan Jakarta di masa setahun Jokowi. Setahun lagi pemilihan presiden, SBY tidak boleh mencalonkan kembali. Dan Jokowi, sebagai gubenur DKI belum mencalonkan jadi penggantinya, walau banyak kalangan mengharapkanya maju mencalonkan diri di pemilihan mendatang. Ia masih tetap loyal menunggu keputusan Megawati, sang ketua partainya. Sedangkan banyak tokoh lain yang sudah memproklamirkan maju kandidat presiden. Kita lihat saja di 2014 mendatang, Indonesia, akankah ala Jokowi, dan Jakarta ala Ahok. Atau Indonesia ala prabowo, ala ARB, ala Wiranto, ala Rhoma Irama, ala Farhat Abbas, atau, ala tokoh kuda hitam lain yang belum muncul. Kita tunggu saja.
Salam Sejahtera.