Jadi..yang Milih Ahok, Mega, Bukan Prabowo?


Selama ini digembar-gemborkan bahwa Zhong Wan Zieng alias Ahok adalah kader pembelot dari Golkar yang membelot ke Gerindra. Dari tesis tersebut kemudian disebutkan bahwa Ahok adalah pilihan Prabowo (pemilik partai Gerindra) yang sekarang, setelah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, mengkonversi “agama” politiknya menjadi Gerindra, setelah sebelumnya pernah ikut juga Partai Indonesia Baru (PIB).


Sementara itu sedikit mengherankan karena pada awal kemunculannya di Jakarta, Joko Widodo, alias Jokowi, sang pasangan Ahok, memiliki sponsor utama yang juga adalah Prabowo. Bahkan ini sempat diprotes juga, ketika belum masa kampanye, Jokowi, yang berjanji tidak menggunakan spanduk atau banner, telah dipromosikan dimana-mana dengan mobil kampanye berhiaskan wajahnya, di seluruh penjuru Jakarta.


Pun setelah itu yang mengkampanyekan Jokowi di media TV nasional, dengan jargon “hegemonius” kandidat walikota terbaik dunia, adalah Prabowo.


Tidak mengherankan jika Prabowo bisa saja telah mengenal Jokowi sebelumnya karena jaringan antara PDIP, partai asal Jokowi dan Gerindra telah terbangun cukup baik sejak bersama-sama berkampanye menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, yang dipecundangi dengan telak oleh pasangan SBY-Boediono pada kampanye 2009 lalu.


Ahok yang tiba-tiba muncul, tanpa ada yang mengenalinya sebelumnya, adalah pertanyaan yang kemudian meski dijawab bersama secara politik oleh masyarakat.


Ahok ketika dicalonkan sebagai Wakil Gubernur adalah Anggota DPR-RI dari partai Golkar, Daerah Pemilihan Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung.


Tidak ada hubungannya dengan PDI-P, Megawati, Prabowo, Gerindra, apalagi Jokowi.


Tapi seperti diberitakan disini, http://news.liputan6.com/read/742425/megawati-ceritakan-penyatuan-jokowi-ahok-mau-tahu


Ternyata yang memutuskan pasangan Jokowi sebagai Calon Kepala Daerah DKI Jakarta adalah Megawati Soekarnoputri.


Tidak dijelaskan juga pola pikir dan pesan yang disampaikan Megawati mengenai berita yang sangat mengejutkan ini sebenarnya.


Megawati seperti biasa memang agak eksentrik proyeksi cara pikirnya. Ini juga yang menyebabkan masyarakat kemudian emoh lagi memilihnya, karena banyak diamnya, tanpa (rasanya) mengetahui apa-apa dan mampu berbuat apa-apa.


Kepemilihan Megawati atas Ahok pun mengherankan Tjahjo Koemolo, Sekretaris jenderalnya sendiri, seperti terdapat pada berita yang disampaikannya tersebut.


Dengan corak merah-hitam yang sedikit angker, dengan kader-kader bermasalah di seluruh Indonesia, walaupun memiliki beberapa kader potensial yang berintegritas politik tinggi seperti Budiman Soedjatmiko, PDI-P dengan Megawati adalah partai yang aneh.


Mewarisi kepopuleran trah Soekarno, menyingkirkan kakak-kakak dan adik kandung serta saudara tirinya di kejauhan, sesuai dengan prinsip Tirani Macchiavelli yang menolak Republik dan demokrasi dengan kekuasaan yang diwariskan, Megawati yang kali ini telah 2 kali janda ditinggal mati, setelah kehilangan Taufik Kiemas beberapa waktu lalu, memilih dan memutuskan Ahok sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan aneh. Jauh dari kata “Demokrasi” di bentukan nama partai “milik”nya,











sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/11/jadiyang-milih-ahok-mega-bukan-prabowo--607131.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger