Dimuat di Rima News; Sabtu, 02 November 2013
foto layar; www.rimanews.com
“Lebih baik ateis karena berpikir bebas daripada ateis karena tidak berpikir sama sekali. Ya, walaupun sama-sama jelek.” – Ahmad Wahib (hlm. 24).
Ungkapan Wahib di atas secara tegas mengingatkan kita bahwa sebagai mahluk yang “berakal”, sungguh keliru ketika kita kerap beranggapan: “Berpikir tentang Tuhan itu HARAM (hukumnya)!” Ungkapan “Speaking of God not speaking for God,” tampaknya senada dengan apa yang diusung oleh Wahib dalam Pergolakan Pemikiran Islam-nya. Kita boleh berpikir tentang segala hal yang menyangkut Tuhan, mempercayai atau tidak, menjelek-jelekkan berdasar pemahaman akal, semua tidak menjadi masalah. Tetapi sungguh teramat keliru ketika kita berbicara dengan mengatasnamakan Tuhan! Hal yang terakhir ini kerap dilakukan oleh mereka yang katanya mempunyai otoritas tertentu, kerap melontarkan kata-kata “haram” terhadap mereka yang dianggap berbeda.
Bahwa mempersoalkan segala sesuatu, baik yang nampak dalam realitas dunia indrawi, apalagi yang tidak nampak sama sekali, sudah menjadi kewajiban mutlak segenap insan. Pentingnya pembaharuan pemikiran adalah seruan utama bagi Wahib. Pembaharuan haruslah dimulai dari kebebasan berpikir. Kebebasan yang demikian ini, kata Wahib, bukan saja sebagai hak, tetapi lebih merupakan kewajiban.
Kebebasan yang demikian ini tentu merupakan sesuatu yang mutlak adanya, menjadi sebuah keharusan oleh setiap insan yang nota bene memiliki hasrat untuk berpikir. Membatasinya, berarti hidup dalam kepura-puraan, hidup dalam kemunafikan lantaran ketakutannya terhadap realitas yang nampak pada dirinya.
Ahmad Wahib dalam catatannya tersebut, mencatat berbagai kekeliruan yang dianulir oleh para penentang kebebasan yang demikian, di mana mereka menyatakan bahwa kebebasan berpikir bisa menjadikan seseorang “salah” karena kebebasannya. Mungkinkah? Lantas untuk apa akal ini diberikan? Orang yang berpikir saja bisa salah, apalagi yang tidak berpikir sama sekali, bisa salah-salah jadinya (banyak salahnya).
Menafsir pernyataan Wahib, akal memang ada batasnya, tapi siapa yang tahu sampai di mana batas akal tersebut? Akal dan pikiran sendiri pun nyatanya tak pernah menggambarkan yang demikian. Dalam pernyataan tenarnya Rene Descartes semisal, “Aku berpikir maka aku ada,” ataupun pada Heidegger, “Aku ada maka aku berpikir,” sungguh menunjukkan bahwa berpikir merupakan kebutuhan yang paling dasar sekalipun. Pada akhirnya, keberanian untuk berpikir membuka wacana tentang berbagai hal, justru akan membantu manusia dalam memurnikan motivasinya untuk mengikut pada sebuah kebenaran. Demikian juga oleh Wahib. Cinta pada kebenaran, berarti cinta pada kebebasan berpikir.