Dalam suatu pemerintahan tidak terkecuali pemerintah daerah sering kali tidak bisa dihindari munculnya kubu-kubu. Ini akibat adanya kelompok-kelompok yg memiliki kepentingan berbeda.
Kemenangan eNU pada Pilkada Bupati Tegal 2013 telah mengantarkan Ki Enthus - Umi Azizah sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tegal periode 2014-2019, munculnya kubu dalam pemerintahan ini kedepan sepertinya tidak bisa dihindari.
Setidaknya ada 3 kelompok yang akan mengerucut mewakili masing-masing kepentingan, yaitu kelompok santri, kelompok wayang dan kelompok tengah.
Tidak bisa dipungkiri kemenangan eNU lebih disebabkan karena solid dan optimalnya NU dalam mendukung pasangan tersebut, sekalipun NU bukanlah parpol tapi pada kenyataannya “mesin politik” NU lah yang bekerja maksimal ditambah figur Umi Azizah yang sangat kuat mendorong masyarakat NU Kab. Tegal bersatu memenangkan eNU.
Para pendukung dari kalangan NU inilah yang akan mengelompok menjadi kubu santri. Sekalipun menamakan diri Relawan Ikhlas, pada kenyataannya tuntutan terhadap Bupati baru mulai muncul, contoh saja keinginan berdirinya Radio Aswaja (NU).
Profesi Ki Enthus adalah seniman wayang tepatnya dalang, bukan hanya dikenal di Tegal tapi sudah menjadi aset nasional. Sebagian pendukung Ki Enthus dalam pilkada tentu saja para seniman di Kab. Tegal. Kelompok ini sudah pasti mempunyai harapan tersendiri dengan naiknya Ki Enthus menjadi Bupati, setidaknya kesenian daerah terlebih wayang bisa lebih diperhatikan eksistensinya. Memang keberadaan kesenian daerah di Kab. Tegal cukup memprihatinkan, tidak banyak lagi anak-anak muda yang menyukai kuntulan, kentrung, pedawangan, jaran lumping, apalagi wayang.
Kubu wayang akan menitipkan aspirasi pada Bupati baru Ki Enthus, misal saja rencana pendirian lembaga pendidikan kesenian daerah.
Kelompok terakhir adalah kelompok yg mendukung realisasi program-program pembangunan yg dikemas dalam paket Program Cinta Desa. Kubu ini yg akan mengawal dan mengawasi implementasi program-program yang pernah ditawarkan pada saat kampanye.
Idealnya ketiga kelompok kepentingan bisa saling sinergi karena mempunyai pemikiran yang sama yaitu menginginkan Kab. Tegal lebih baik, lebih maju baik secara ekonomi maupun mental spiritual. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan masing-masing kelompok justru terlalu bernafsu dengan proyeknya masing-masing yang bisa jadi justru menimbulkan gesekan bahkan potensial menimbulkan konflik.
Saran saja, dalam program 100 hari Bupati dan Wakil Bupati Tegal biarkanlah Ki Enthus dan Umi Azizah bekerja sesuai program yang sudah dirancang tanpa dibebani proyek-proyek titipan.
Salam Paseduluran.