Kata banyak
orang, tahun ini tahun politik, yang namanya politik ya penuh gonjang-ganjing politik sehingga kejadian apapun dapat dipolitisasi untuk kepentingan kelompok tertentu atau tujuan tertentu. Apalagi tahun 2014 nanti pesta demokrasi berlangsung. Jadi tidak heran banyak pihak melakukan pencitraan dan bermain politik untuk menohok lawan politinya. Lepas dari semua persoalan ekonomi dan sosial, politik tetaplah politik. Orang boleh saja berpolitik, namun jangan lupa mengedepankan etika dan norma serta kesantunan, dalam kaitannya dengan hubungan sosial. Jangan sampai karena persoalan politik maka interaksi sosial terganggu. Berpolitik secara sehat tidak lain menjadi landasan yang baik bagi proses demokratisasi. Demokratisasi yang berlangsung di Indonesia mungkin masih dalam proses pendewasaan, belum sepenuhnya sempurna. Malahan disana-sini masih jauh dari kesan demokratis. Orang masih menjadikan individu atau kelompok sebagai prioritas kepentingan yang utama. Ego sektarian masih jelas nampak, padahal tujuan dari demokratisasi dalam skala kebangsaan adalah semakin membuat solidaritas dan soliditas masyarakat semakin menguat. Dalam setiap Pemilu kepala daerah di Indonesia misalnya, hampir tidak pernah tidak ada konflik. Namun konflik sesungguhnya bukan untuk dihindari, namun sebaliknya konflik harus dikelola. Konflik merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Secara personal kita mengalami beragam konflik dalam hubungan sosial, ekonomi, dan politik, Konflik di sini tidak selamanya harus dimaknai permusuhan atau pertikaian, karena dalam kajian sosiologis, konflik itu juga bisa bermakna kompetisi, ketegangan (tension) atau sekadar ketidaksepahaman. Itu pula sebabnya, kehadiran konflik itu tidak selamanya harus dimaknai sebagai sebuah kekuatan yang menghancurkan – a necessarily destructif force, karena dalam banyak hal konflik itu juga bernilai positif, bahkan konstruktif, dan karenanya fungsional. Persisnya, dengan konflik dinamika lahir, dengan konflik kreativitas muncul. Bahkan menurut pakar sosiologi, konflik asal Jerman, George Mills, konflik adalah penggerak sejarah sekaligus sumber perubahan, dan karenanya, konflik akan besar sumbangannya dalam mencegah kebekuan sosial. The changes caused by conflict prevent society from stagnating, tegas Mills (1956). Jadi dalam proses kedewasaan berdemokrasi. Konflik bisa menjadi pisau bermata dua. Menyebabkan konflik yang lebih luas jika kita tak pandai mengelolanya, atau bisa pula bermanfaat- ada hikmahnya-, guna proses pembelajaran demokratisasi. Kedewasaan berdemokrasi harus mulai dilatih dari diri sendiri. Sehebat apapun pertikaian di forum debat, di ajang kampanye atau dalam hubungan sosiokultural, tidak boleh dibawa menjadi sentimen pribadi, dan semua pihak tidak boleh merasa benar sendiri, hindarkan ego sektarian, apalagi kalau kaitannya dengan kepentingan yang lebih luas : pembangunan wilayah, bangsa dan negara . Di Amerika Serikat, kampungnya demokrasi, kita bisa melihat sebuah contoh positif dari pesta demokrasi mereka. Barack Obama dan Hillary Clinton ” bertikai’ hebat dalam ajang kampanye dan debat Presiden AS ketika Obama maju sebagai Capres AS untuk kali yang pertama. Kampanye dan debat mereka berlangsung lama dan melelahkan, debat dan kampanye bukan tidak menimbulkan gesekan dan konflik, termasuk beredarnya kampanye negatif (negative campaign) di masing -masing kubu dan tim sukses mereka. Kampanye negatif dengan argumentasi yang sahih sesungguhnya bukan masalah, yang terlarang itu kampanye hitam (black campaign), kalau sudah begini urusannya kepada hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jadi semua ada ruang demokrasi untuk menyalurkan kepentingan politik kelompok dan ada batasan (constraint) kepada supremasi hukum. Demikian juga untuk masa kedua Obama maju lagi , kali ini berhadapan dengan Senator John Kerry di Pilpres AS. Tetapi yang hebatnya sebagai pribadi, hubungan mereka tetap harmonis dan saling menghormati. Siap menang dan siap kalah dan itu benar-benar dijalankan. Malah yang menang justru merangkul yang kalah, Obama mengangkat Hillary sebagai Menlu di periode pertama pemerintahannya. Lalu mengangkat Kerry ketika menang lagi di masa kedua administrasi pemerintahannya. Mereka bersama-sama solid membangun negaranya. Bagaimana dengan di Indonesia ?. Di beberapa daerah jalinan sikap demokrasi masih belum tumbuh, belum dewasa. Aneka konflik kerap terjadi, bahkan hingga muncul tindakan anarkis dan vandalisme di akar rumput. Rakyat di lapisan bawah masih rentan diadu domba, mudah dihasut, dan repotnya para elit politik juga kurang member pencerahan, berupa pendidikan politik serta berdemokrasi secara dewasa. Banyak pihak yang justru mengedepankan ego sektarian dan gampang “mutung” hingga memutuskan ikatan social yang sudah dibina lama. Militansi kelompok bahkan tak sungkan membawa label agama untuk politik praktis. Apapun dalam alam demokrasi sesungguhnya dimungkinkan, asal saja tetap berada pada batas-batas etika, norma kepatutan dan menghormati hukum yang berlaku. Dalam banyak kasus kalau disini yang namanya kelompok lawan politik atau oposisi, dipinggirkan atau malah meminggirkan diri karena sindroma kekalahan, lalu membawa sentimen pribadi kemana-mana tanpa alasan yang jelas hingga putuslah hubungan sosial. Hanya siap menang namun tak sudi kalah–Hal inilah yang tidak sehat. Demikian juga dalam persoalan transparasi, akuntabilitas, fair playing dalam perpolitikan sesungguhnya sudah tersedia akses ke jalur hukum, ada hak jawab, dan ada kebebasan berbicara, berpendapat, berkumpul dan berserikat yang dijamin oleh UU. Tapi yang namanya mental belum dewasa, maka karakter yang melekat tak ubahnya seperti jaman flintstones alias primitif laksana di jaman batu, lebih suka dengan “hukum rimba”, lebih terpancing kepada isu-isu non substantif dalam demokrasi dan main blokir serta boikot kebebasan berekspresi orang atau kelompok lain, tidak suka dikritik. Bahkan media yang seharusnya netral dan independen oleh sebab berada di ruang public, Nampak masih memihak pada kepentingan politik tertentu, ini juga tidak sehat dan tidak member pencerahan serta pendidikan kedewasaan berdemokrasi. Perlu kebesaran jiwa serta kelapangan dada menerima alam demokrasi, jadi pendidikan politik dan demokrasi itu penting, terutama bagi kelompok akar rumput (grassroot). Jangan sampai mereka justru termarginalkan oleh lahirnya pemimpin-pemimpin egois, yang hanya mau merangkul kroninya atau kelompoknya saja. Jika dikelola, konflik sebenarnya memiliki nilai positif bagi interaksi manusia. Masalahnya pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk mengelola konflik sering tidak dimiliki oleh mereka yang terlibat konflik ataupun yang menangani konflik. Akibatnya konflik tidak hanya tidak berhasil dikelola, dalam banyak kasus bahkan memperparah konflik yang terjadi, dan ini tidak boleh terjadi. Konflik yang melebar kemana-mana adalah pertanda belum tumbuhnya kedewasaan dalam berdemokrasi.. Demokrasi sejatinya mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara. Prinsip-prinsip demokrasi, pluralitas sosial, ekonomi dan politik, Nilai-nilai toleransi, pramatisme, kerja sama, serta muyawarah untuk mufakat. Sistem demokrasi yang ada di Indonesia belum seutuhnya sempurna (full democracy), karenanya perlu proses penyempurnaan dan pendewasaan para pelakunya. Pasalnya, walaupun telah lama perjalanan demokrasi dalam perkembangannya saat ini masih menekankan kepada demokrasi yang prosedural bukan demokrasi yang substantif. Penyebab kualitas demokrasi Indonesia masih rendah terletak pada lemahnya kualitas lima alat ukur utama. Diantaranya, Pemilihan Umum (Pemilu), pluralisme, kebebasan sipil, fungsi pemerintahan (birokrasi), partisipasi politik dan budaya politik (Irman Gusman 2013),. Sebagai negara yang besar, Indonesia sesungguhnya memiliki peluang untuk tampil sebagai negara yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Kuncinya adalah bagaimana memanfaatkan demokrasi untuk tumbuh sebagai negara yang mandiri, maju, adil dan makmur. Karena itulah menurut saya untuk menjadi dewasa secara politik dan demokrasi, harus dimulai dari sekarang dan sikap open mind, toleransi dan jiwa besar dari kita sendiri. (*).
Kalau Tak Bijak Dalam Demokrasi, Jangan Berpolitik !
sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/12/kalau-tak-bijak-dalam-demokrasi-jangan-berpolitik--609922.html