Masih menggema peringatan dan acara terkait Hari Pahlawan. Maka jangan tergesa berprasangka sepertinya saya mau bisara soal susu sebesar belanga. Tetapi susu sebanyak dalam belanga penuh yang rusak karena nila setitik saja.
Dari tulisan lomba seri Hari Pahlawan yang saya baca kebanyakan menawarkan gagasan tentang citra kepahlawanan. Citra itu disandingkan dengan citra lain yang berbeda bahkan bertentangan. Seperti Rekan Erwin Elwasir bercerpen tentang Pahlawan Senja dan Tukang Parkir yang perilakunya sebagai preman. Rekan Penulis TeBe dengan judul Salvo melukiskan suasana pemakaman dengan acara Tembakan Salvo, yang lazim diperuntukkan bagi anggota angkatan bersenjata yang meninggal dalam tugas. TeBe memaparkannya dikaitkan dengan citra pahlawan.
Yang terakhir saya baca tulisan Rekan Maria G.Soemitro, cerpen yang mengangkat Sosok Pak Iban dari kota Bandung. Ditulisnya antara lain : “ Dia bak pahlawan tampil di tengah kata-kata berbunga yang dilontarkan para pakar. Pak Iban memaknai kata dengan tindakan dimulai dari dirinya dan memberi contoh …. Sosok keteladanan yang bergerak tanpa pamrih. Bertindak nyata tanpa berharap sebutan pahlawan.( http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/ 2013/11/11/ hari-pahlawan-pak-iban-606942.html ) Kepahlawanan seperti ditarik untuk sebagai nilai yang pantas diamalkan dewasa ini. Dan itu menjadi lebih tegas ungkapan Rekan Aurosa Boreasilsa di http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/11/10/hari-pahlawan-pahlawan-di-lorong-waktu-608314.html . Ditulisnya : “Lihat saja orang-orang di sekitarmu. Bisa jadi salah seorang terdekatmu adalah pahlawanmu. Yang sudah memenangkan tiap pertempuran melawan keterbatasan dirinya sendiri. Yang sudah menyentuh lorong waktu yang tersembunyi dalam hidupmu. Dan membagikan cahaya bening hatinya untuk orang-orang tak sempurna seperti kita. Seperti kau. Seperti aku.”
Rupanya memang ada nilai kepahlawanan yang diaktualkan dari nilai yang historis dari saat-saat sebelumnya. Tetapi substasi itu semacam “perjuangan yang dilengkapi dengan pengorbanan”. Pengorbanan diri untuk orang lain dalam kelompok/bangsa atau apa yang bisa disebut kepentingan umum. Pada masa perjuangan untuk kemerdekaan bangsa perjuangan itu sangat sering ditandai oleh pengorbanan diri dalam kematian. Dalam sejarah agama kematian membela iman itu disebut mati sahid atau martir. Sedangkan hidup soleh belum sampai menderita kematian sahid biasa disebut Saksi-Iman. Saya melihat para Pahlawan kita dimasa perjuangan setara dengan para martir yang memperoleh kematian sahid demi perjuangan bangsa. Para Pahlawan Nasional yang tidak gugur dalam peperangan Dr.Wahidin Sudirohusodo, Dr.Sutomo, Mgr.Sugiyopranoto,dll itu ibarat Saksi Kesetiaan dalam Pengabdian penuh pengorbanan kepentingan sendiri.
Penentuan gelar dalam pemberian penghormatan serupa itu tentu disemua komunitas dilakukan dengan sangat teliti. Baik itu atas dasar kwalitas orangnya maupun kebenaran historisnya. Kwalitas kebenaran historisnya mungkin melalui proses adanya opnini masyarakat hingga ditandai oleh kesahan saksi-saksi yang ada.
Sehubungan dengan proses penentuan gelar pahlawan yang historis itu sekaligus dikaitkan dengan kriterianya saya menjadi khekhi, konyol dihati mengingat masalah para pejuang Republik kita yang kemudian menjadi pemberontak : seperti Simbolon, Kartosuwiryo, yang mungkin sebelumnya berjuang menentang Belanda akhirnya lebih memilih kepentingan kekuasaan daripada pengabdian. Selanjutnya Almarhum Bung Karno, Pak Harto. Gus Gur, lagi lagi bahasa dan semangat “kekuasaan” memberikan opini buram pada semua pihak. Tidak tertutup kemungkinan kebohongan public terjadi. Saya cenderung berfikir bahwa “Memegang Kekuasaan” bisa membuat mata rabun terhadap nilai hakiki dari kepahlawanan. Pada hal Kepahlawanan itu Keberanian, Perjuangan, Pengorbanan diri untuk Kepentingan Umum, pada prinsipnya. Tetapi ternyata ada nilai relatifnya yaitu proses pendapat masyarakat. Pendapat umum dan prosesnya juga menjadi dasar warna konsepsi dan proses pewarisan nilai. Dan Nilai-nilai dasar dan hakiki ini pun seperti Susu Sebelanga bisa rusak karena setetes nila saja. (cfr.Peri bahasa no.1732.Pamuncak K.St. dkk, Peribahasa, cet 2. Balai Poestaka Djakarta, 1946)
Dan patut serta pantas kita mendoakan agar para Pahlawan diampuni dosanya dihadapan Tuhan.