Saat kita mengunjungi keraton Yogyakarta dan kemudian ke keraton Surakarta pasti ada perbedaan yang mecolok. Keraton yogyakarta masih kental dengan karisma seorang raja dengan berbagai ritualnya sedangkan keraton surakarta aura sebuah keraton seolah kian hilang. Jika menilik sejarah awal pembentukannya keduanya berasal dari cikal bakal yang sama yaitu kasultanan mataram. Berlakunya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) menyebabkan Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta, dengan rajanya Pakubuwana III. Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, dengan rajanya Sultan Hamengkubuwana I.
Di Surakarta keraton menjadi pecah kembali Perjanjian Salatiga 1757 memperkecil wilayah Kasunanan, dengan diberikannya wilayah sebelah utara keraton kepada pihak Pangeran Sambernyawa (Mangkunagara I). Pertkaian terus terjadi saat Paku Buwana (PB) XII wafat pada tanggal 11 Juni 2004, pada saat itu terjadi perebutan perebutan tahta antara Pangeran Hangabehi dangan Pangeran Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai PB XIII, dua-duanya mengklaim pemangku tahta yang sah, dan masing-masing menyelenggarakan acara pemakaman ayahnya secara terpisah.
Konflik berkepanjangan dikeraton Surakarta yang tak kunjung usai membuat keraton surakarta menjadi terlunta-lunta tak terurus. Karena konflik yang tak kunjung usai pemerintah melalui pemkot surakarta juga menghapus anggaran 1,7 M untuk merevitalisasi keraton Solo. Terakhir konflik makin meruncing saat perayaan malam 1 Suro, hal ini berawal saat Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XIII menegaskan, kirab malam 1 Suro di lingkungan keraton ditiadakan. Sedangkan dewan adat tetap melakukan kirab kebo bule turunan kiyai Slamet tetap dilakukan tanpa pusaka keraton. Berkaca dari sejarah sebenarnya inti dari kirab adalah jamasan dan kirab pusaka dengan didampingi kerbau bule. Namun, paling tidak dewan adat masih mempertahankan adat keraton dengan menggelar kirab saat malam 1 Suro.
Jika konflik ini terus berlarut-larut tanpa ada penyelesaian maka tak ayal jika kelak keraton Surakarta tinggal cerita dan gambar saja karena bangunan dan kebudayaannya hilang dimakan zaman. Hal ini hendaknya bisa disadari oleh para penguasa keraton yang bertikai agar eksistensi keraton Surakarta tetap lestari sebagai pusat kebudayaan Surakarta.