Kehidupan bagai roda berputar. Terkadang diatas, terkadang dibawah. Terkadang memetik buah kesuksesan, terkadang menelan buah kepahitan. Terkadang kekayaan menjadi pilar utama menopang kehidupan dan mengalahkan belas kasihan. Dibiarkan kesejahteraan jauh dari harapan. Keyakinan akan kekayaan kantong pribadi menjadi andalan.
Pelajar berpanas – panasan demi menempuh jenjang pendidikan. Kini, hanya sebuah guratan. Biaya yang melambung tanpa mementingkan sebuah perasaan pada kalangan. Janji biaya murah dan gratis ditawarkan. Alhasil sekadar untaian manis yang tak lekang kenyataan. Sana sini butuh biaya untuk dikeluarkan. Kekurangan keuangan hanya menjadi jeritan yang luput dari pendengaran dan penglihatan.
Berada diatas, bak semilir angin yang menghembuskan senyuman. Tidak memikirkan akan keluhan. Keluhan kelaparan dan kehausan. Berjalan demi menghemat keuangan. Pandangan ditundukkan penuh pemikiran akan waktu perubahan. Kalangan terpandang seolah buta dan tuli dalam keegoisan. Lingkungan sekitar hanya menjadi hirauan. Melaju laksana tiada yang menyentuh perasaan. Bermandikan kesejukan kemewahan. Penyelenggara negara turut melakukan. Kampanye besar – besaran dana ditelan. Tidak terpilih, berusaha modal dapat terkembalikan.
Di luar sana, demi mencari penghasilan, rela berjemur seharian. Berjalan tanpa mengeluhkan keletihan. Sesuap nasi keluarga menjadi motivasi yang meringankan beban kehidupan. Berjualan sampai dapatnya perolehan.
Masih lagi, sungguh menyedihkan. Fasilitas dibangun dan didirikan untuk tujuan kebaikan. Namun, sayang, ditelantarkan. Sampah berserakan. Bangunan kusut ditelan, tiada perawatan. Pijakan retak hancur berantakan. Tiada perbaikan. Begitu banyak dana sebenarnya yang sudah dialirkan. Embel – embel pengajuan kemaslahatan.
Bukan hanya itu, bangunan perumahan tanpa memikirkan sebuah kebencanaan. Pilar menjulang tinggi tanpa bertolak pikir akan tanah sanggahan. Sudah semakin terkikis menurun secara perlahan. Selokan, tempat aliran tersumbat oleh puing – puing bangunan. Tertutup rapat tanpa celah diselipkan. Sampah pun dibuang sembarangan. Selokan seakan menjadi tempat pembuangan. Kebersihan menjadi nomor kesekian. Keuntungan diindikasikan dengan kekayaan.
Belum usai, penghijauan tiada disertakan. Sumber kehidupan, ditebang dan dieksploitasi habis – habisan tanpa pembaharuan. Ruang Hijau Terbuka perkotaan justru menjadi ajang penyuapan. Dana yang diturunkan mengalami penyusutan dan dibuatnya kepalsuan laporan. Penghijauan lagi – lagi impian belaka yang tak kunjung terealisasikan.
Pelajar menjadi sasaran untuk pembelajaran penyuapan. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme setidaknya menjadi bahan ajaran. Bagaimana tidak, biaya yang sudah dikeluarkan tentunya tak mau dirugikan di masa mendatang. Harus terlunaskan. Apapun cara pasti dilakukan. Jalan pintas menjadi peluang pilihan. Membangun kekayaan. Mendirikan tabungan masa depan. Bangunan berlomba – lomba ditinggikan dan dipugarkan. Kesombongan yang diperdebatkan. Tidak peduli halal atau haram, uang yang didapatkan. Yang penting, sukses dalam keduniawian. Akhirat nomor belakangan. Tangisan orang hanya menjadi candaan. Bekendara di jalanan pun tanpa patuhi peraturan. Hukum seolah bungkam tanpa suara dicetuskan. Kehidupan Jauh dari Kesejahteraan, Kebebasan Keterpurukan.
Presented by Ayu Yulia Yang
Ayu Yulia Yang