Ternyata tak banyak yang tertarik mengangkat isue kicauan ketua DPR semalam di ILC. Apakah disebabkan seringnya beliau keseleo lidah dalam merespon opini atau memang kicauan ini dianggap lemparan bola panas dalam upaya pengalihan isu-isu politik, hanya cara seorang politikus membela diri karena diserang, seperti media yang menerbitkan 5 artikel bantahan terhadap si jilbab hitam, atau beliau melakukan maneuver meningkatkan citra diri menaikkan elektabilitas sebagai salah satu peserta konvensi partai untuk calon presiden. Apapun motif beliau buat saya tidak penting sebab hal yang diungkap sangat menggambarkan ‘kelakuan’ oknum pejabat Negara di lembaga terhormat yang dimiliki bangsa ini. Artinya rakyat dapat info dari orang no 1 di lembaga itu oleh sebab itu perlu ‘dibedah’.
Secara gamblang digambarkan apa yang terjadi di lembaga terhormat yang dia pimpin dimana masing-masing pihak sudah sedemikian punya pola dalam menyiasati berbagai bentuk kegiatan yang ujungnya menggerogoti keuangan Negara (APBN). Saya punya keyakinan siapapun yang menjadi ketua dewan saat itu hanya ada dua kemungkinan ikut arus yang ada, atau bingung apa yang harus diperbuat dan melakukan seperti bpk Marzuki Ali. Meski yang disampaikan adalah kejadian saat rencana pembangunan gedung yang akhirnya dibatalkan namun semua itu memberi gambaran yang jelas bagi bangsa ini betapa oknum pejabat Negara yang memiliki akses kuat terhadap berbagai bentuk kebijakan memiliki perilaku tak ubahnya bandit yang merampok keuangan Negara secara terstruktur bahkan rencana anggaran belum di setujui manuver untuk memuluskan rencana merampok uang Negara dengan cara mark up sudah bergerilya melalui lobi suap. Jika polanya seperti itu sangat mungkin yang mengerti betul cara ini adalah ‘pemain lama’. Ini memang kicauan yang sangat mengiris hati, mengusik rasa kebangsaan dan penimbulkan pertanyaan terhadap kualitas demokrasi yang kita jalani saat ini. Megitu mahalnya dana yang dihamburkan demi demokrasi hasilnya hanya sebagai legalitas bagi oknum pejabat negara untuk merampok uang rakyat. Betapapun seringnya pimpinan dewan ini keseleo lidah namun ada baiknya beberapa poin penting yang diungkap ditindaklanjuti karena hal ini adalah informasi yang diberikan oleh ketua lembaga tinggi Negara yang sangat dihormati. ‘tidak mungkin bohong’, meski untuk membuktikannya tidaklah mudah. Para uknum itu sudah demikian ‘profesional’ kalau hanya KPK yang menyidik ‘lewat’. Implementasi trias politika yang dijalankan di negeri ini perlu dikaji ulang untuk dievaluasi.
Suatu yang menarik disampaikan terkait KPK. Beliau sudah pernah melaporkan kasus lengkap dengan bukti yang disampaikan langsung dan sampai sekarang belum diproses KPK, ini dimaklumi karena kerja KPK baru kuat pada kasus tangkap tangan. Permainan yang disampaikan ketua MPR di ILC itu akan sangat sulit diungkap karena semua mengikuti prosedur. Jika seandainya ketua DPR tidak melakukan apa yang dia sampaikan di acara tersebut dan menyetujui ajuan dari BURT tidak ada yang dilanggar secara formal namun kerugian neraga akibat mark up ratusan milyar. Kebiasaan mark up anggaran inilah yang sebenarnya menjadikan APBN kita ‘sakit’ dan bangsa ini akan selalu merana.