Mengapa Elektabilitas Dahlan Iskan Masih di Bawah Jokowi…


Setidaknya itulah gambaran dari berbagai survei yang digelar menjelang pemilu tahun depan. Jokowi unggul di kisaran angka 30% – 40% mengalahkan Dahlan yang hanya dipilih sekitar 8% - 10 % oleh rakyat.



Posisi Jokowi saat ini adalah Gubenur DKI, meskipun PDIP belum secara resmi menetapkan siapapun sebagai calon presiden definitif tapi santer terdengar Jokowilah orangnya. Sedangkan posisi Dahlan lebih jelas, Dahlan adalah menteri BUMN yang juga merupakan kandidat Konvensi Presiden dari Partai Demokrat dengan rating elektabilitas 32%, paling tinggi diantara 11 peserta konvensi lainnya



Diantara keduanya manakah yang lebih unggul? Susah mengatakannya, dua duanya hampir bisa dibilang setara ( kecuali bagi pendukungnya masing - masing ), keduanya adalah pejabat publik, sama sama media darling & people darling dan juga news maker yang kutipan beritanya selalu diburu tiap hari.



Dari sisi kesederhanaan, kerja keras, integritas, kejujuran, sikap anti korupsi dan visi kedepan bisa dikatakan keduanya hampir mirip, Dahlan dengan visinya membangun BUMN menjadi perusahaan kelas dunia sedangkan Jokowi menjadikan Jakarta nyaman seperti Singapura.



Lantas kenapa elektabilitas keduanya berbeda?


Bisa jadi Pilgub DKI lah penyebabnya….



Jakarta dianggap sebagai sebuah miniatur mini Indonesia, pemilihan gubenur ibukota bisa jadi dianggap juga sebagai sebuah minitur pemilihan presiden berikutnya. Efek publikasi pilkada DKI demikian luar biasa sehingga masyarakat indonesia menanti nanti siapa pemenangnya.



Maka ketika pilgub DKI menghasilkan pemimpin seperti Jokowi yang sederhana, gemar blusukan, egaliter, merakyat memahami apa yang diinginkan rakyatnya, mau ngemong dan sebagainya, publik nasional pun terperangah. Rakyat terheran heran ternyata ada pemimpin yang mau turun ke bawah meskipun hanya sekedar menyapa mereka. Rakyat merasa memiliki karena merekalah yang memilih jokowi secara langsung.



Media pun memblow up habis habisan, tiada hari tanpa Jokowi. Tulisan tentang Jokowi pun mengalir deras di dunia maya, gudangnya ada di kompasiana. Opini pun terbentuk bahwa kalau Jokowi terpilih jadi presiden tentu akan ada perubahan. Perubahan akan kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera. Beberapa gebrakan Jokowi bersama Ahok pun makin menambah simpati publik, penertiban Tanah Abang, Waduk Pluit, serta lelang jabatan misalnya.



Meskipun ada kritik pembelian bus transJ built up dan monorel dari China dan isu adanya konglomerat gelap di belakang Jokowi, rakyat seolah tak perduli. Bagi mereka Jokowi adalah pemimpin pilihan rakyat, satrio piningit sejati. Media pun tidak bisa disalahkan karena berita berita tentang Jokowi selalu menempati rating tertinggi.



Maka ketika disurvei siapa presiden pilihan rakyat, mereka pun berteriak lantang : Jokowiii………!



Disinilah bedanya Dahlan dan Jokowi, Jokowi pilihan rakyat sedang Dahlan pilihan Presiden. Domain Dahlan beda dengan domain Jokowi. Kebijakan Dahlan erat berkaitan dengan perusahaan karena dia membawahi ratusan BUMN, sedangkan domain Jokowi lebih cenderung ke masyarakat karena dia gubernur pilihan rakyat. Masyarakat lebih mengenal Dahlan sebagai Pak Menteri bukan sebagi calon Presiden RI. Kebijakan kebijakan Dahlan banyak terkait dengan aksi aksi korporasi yang publik jarang mengetahui.



Sudah puluhan BUMN yang dulunya hampir mati kini bisa mandiri. Garuda kini sudah sejajar dengan maskapai maskapai kelas dunia lainnya. Perum Perikanan Indonesia (Perindo) dan PT Perikanan Nusantara (Prinus) yang pingsan bertahun-tahun mulai hidup kembali. PT . Semen indonesia bahkan sudah berekspansi mengakuisisi 70% saham Thang Long Cement JSC produsen semen yang berbasis di Vietnam.



Sebuah BUMN yang sehat dan maju akan menghasilkan setoran pajak dan deviden yang tinggi buat kas negara untuk selanjutnya masuk dalam pos pos pendidikan dan kesejahteran rakyat. Belum lagi dana CSR BUMN yang manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat , rakyat perlu tahu hal hal seperti ini. Dengan kapitalisasi pasar BUMN yang mencapai 7000 trilyun yang nilainya empat kali lebih APBN 2013, maka sebenarnya sebagian negeri ini ada ditangan Dahlan.



Sebagai menteri BUMN wilayah kerja Dahlan terbentang lebih luas dari Aceh hingga Papua, dari mulai sawit, sapi, tebu, semen, listrik, jalan tol, pesawat, kapal, asuransi, senjata, bahan tambang hingga gula semua dia kelola. Blusukan Dahlan bahkan dimulai sejak dia menjabat sebagai dirut PLN, hingga kini pun tidak berhenti.



Kalaupun tidak terliput media mungkin wartawannya tidak kuat mengikuti sambil jalan kaki. Kalaupun itu semua diganjar dengan elektabilitas yang tidak tinggi Dahlan juga tidak peduli, toh bukan itu yang dia cari. Sama dengan ketidakpedulian Dahlan ketika aksi aksinya nginap di rumah petani, buka pintu tol hingga bersih bersih wc bandara dianggap pencitraan, karena itu semua keluar dari hati nurani dia sendiri.



Jadi bila elektabilitas Dahlan tidak setinggi Jokowi, tidak usah berkecil hati toh masih sebatas survei, elektabilitas sebenarnya ada pada pemilu nanti.


Kalaupun Jokowi berelektabilitas tinggi pendukungnya juga tidak perlu tinggi hati, Foke pun yang digadang gadang menang atas Jokowi akhirnya malu sendiri.



Dahlan dan Jokowi keduanya pun sudah sehati berbaju hitam putih setiap hari, baju kerja..kerja..kerja.. bukan baju untuk berleha leha. Saat bertemu terakhir kali keduanya pun sudah saling mendoakan masing masing bisa jadi presiden suatu hari nanti.



Doa kebaikan seorang muslim untuk saudaranya akan diaminkan juga oleh malaikat agar berlaku juga kepada yang mendoakan. Jadi bila nanti Dahlan jadi Presiden maka sesungguhnya Allah telah mengabulkan doa Jokowi demikian juga sebaliknya. Dan bagi seorang muslim tiada kebanggaan dan kebahagiaan melebihi saat Allah berkenan mengabulkan doanya di dunia.



Salam…







sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/13/mengapa-elektabilitas-dahlan-iskan-masih-dibawah-jokowi-610372.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger