NKRI Mati Gaya?


Saung di pinggir danau itu terlihat sepi. Bagaimana tidak, waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Di sebuah pojok, dua orang pria duduk santai. Hanya saja, tidak untuk wajah mereka.Romannya tegang.


“Pesan apa, Pak?”,tiba-tiba seorang pelayan menyapa.


Kami celingukan. Kang Kamal, rekan saya yang anak seberang itu tiba-tiba terlihat gundah. Maklum, ialah yang bertindak sebagai tuan rumah kumpul-kumpul.


“Bentar ya, Mas, masih nunggu dua orang lagi, nih!”, jawab Kang Kamal sedikit terbata.


Tak berapa lama, muncullah Om Dizu, salah seorang rekan yang juga kami tunggu. Badannya tinggi besar, hamba negara yang gelisah dengan segala kenikmatannya.


“Wuah, sorry, terlambat, macetnya gak ketulungan!”, Om Dizu menjelaskan. Padahal, tak seorang dari kami memintanya.


Perbincangan terus berlanjut. Dari sekedar tanya kabar, saling ledek, sampai kemudian tak terasa perbincangan masuk ke ranah politik. Sesuatu yang memang tidak terhindarkan sepertinya. Rasanya hanya warga negara yang benar-benar terisolasilah yang sanggup tidak melibatkan diri dalam pemikiran kondisi negara yang luar biasa ini.


“Rasanya, kali ini NKRI sudah sampai pada titik ‘mati gaya’!”, celetuk Kang Kamal.


“Kok bisa begitu?”, saya menyahut memancingnya bercerita.


“Bayangkan saja, begitu banyak persoalan yang muncul, dan sedemikian sedikitnya persoalan itu bisa diselesaikan. Persoalan ditutup dengan persoalan lainnya. Pertanyaan dibalas dengan kemarahan. Perselingkuhan menjadi pilar perpolitikan!”


Woh, saya manggut-manggut. Meski nadanya tenang, tetapi pilihan katanya menggambarkan kemarahan. Dan itu wajar saya kira.


“Sebenarnya, ketika sampai pada titik seperti ini satu-satunya celah adalah ‘pembubaran’!”, tiba-tiba Om Dizu nyeletuk.


“Maksudnya, pembubaran NKRI?”


“Entahlah, yang itu kita maknakan sendiri-sendiri saja. Cuma jalurnya memang repot. Butuh waktu dan usaha yang luar biasa. Tidak sederhana, itu jelasnya!”


Saya masih menebak-nebak soal ‘pembubaran’ tersebut. Kalau yang dimaksud pembubaran NKRI, jelas itu sebuah masalah. Dan jujur, saya pribadi enggan untuk masuk ke wilayah tersebut. Sering memang ketika kekesalan ini sampai memuncak, keinginan seperti itu muncul. Hanya saja, setiap keinginan itu muncul, saat itu pula terngiang di telinga saya kalimat dari seorang kenalan,”Makna mencintaimu adalah memahami rasa sakit”.


Kalimat itulah yang mungkin membuat saya bertahan sampai saat ini untuk tidak sampai terkena hipertensi. Jujur saja, sebenarnya saya sendiri begitu ‘eneg’ setiap kali melihat pemimpin-pemimpin negeri ini saling melempar tanggung jawab, sibuk menjaga citra diri, dan seabrek tingkah menjemukan lainnya.


“Apakah tidak ada cara yang lebih elegan untuk menghentikan semua ini?”, saya mencoba memancing.


“Maksudnya?”


“Ya, seperti kita tahu, partai berkuasa sekarang kan sepertinya masih begitu ingin melanggengkan kekuasaannya. Bagaimana kalau kita hentikan saja kiprah mereka? Toh, saat ini mereka sudah sangat rapuh!”


“Ah, siapa bilang,”tukas Kang Kamal,”dalam Pilkada suara incumbent masih cukup tinggi, kok. Bukankah itu masih cukup berharga dalam Pileg?”


“Rasanya, kalau untuk daerah hal itu masih memungkinkan, tetapi tidak untuk nasional karena meski mereka sibuk meneriakkan sebagai partai yang anti korupsi dan membiarkan kader-kadernya ditangkpi KPK, tampaknya rakyat tidak juga percaya!”


“Andai bisa seperti itu, ya Om, lha dalam satu kebon sawit saja yang berisi 1000 orang pilihannya bisa sama, kok!”


Saya tertegun. Gambaran yang cukup membekukan sejenak aliran darah di seluruh nadi saya.


Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel saya.


“Wuah, gara-gara GPS, gue balik pulang, nyasar terlalu jauh. Jangan percaya GPS pokoknya!”, demikian bunyi pesan tersebut. Rupanya, teman terakhir yang kami tunggu membatalkan kehadirannya gara-gara nyasar tidak menemukan lokasi yang kami sepakati.


“Mas!,” suara Kang Kamal memanggil pelayan,”Mau pesan, dong!”


Sejenak muka pelayan terlihat bengong.


“Sudah habis, Pak!”


“Hah, maksudnya?”


“Ya, semua sudah habis. Kami sudah mau tutup!”


Seketika kami mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar saja, tinggal kami bertiga yang tersisa. Oh, sial, gara-gara teman yang tak jadi datang itu kopdar kami kali ini berjalan mulus tanpa makan-makan.


Saya melirik Kang Kamal. Romannya begitu kecut. Ahahaha…..mati gaya rupanya dia!



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/14/nkri-mati-gaya-607788.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger