(sumber poto https://www.facebook.com/pages/Dukungan-untuk-FPI-indonesia-tanpa-JIL-Jaringan-Iblis-Lanatullah)
Lelucon di atas saya dapatkan dari kiriman seorang kawan, walaupun cuma humor tapi sebenarnya mengandung kebenaran yang tidak terbantahkan.
Indonesia di kawasan asia tenggara adalah Gajah yang sebenarnya,baik di ukur dari luas wilayah,potensi ekonomi apalagi jumlah penduduk.Sayang sang Gajah selama ini tidak pernah sadar dan merasa menjadi semut.Sedangkan semut-semut yang sebenarnya justru merasa dan bertindak layaknya peran sang Gajah.Mulai dari Australia yang selalu memandang sebelah mata,Malaysia yang menganggap walaupun satu ras (melayu) tapi ras melayu yang Indonesia adalah KW-2, bahkan Singapura negeri “setitik noktah” di Peta Asia Tenggara berani melecehkan sang Gajah.
Ada apa dengan mu Gajah?
Kenapa para semut memandang remeh sang Gajah?
Wajar….
Selama ini sang Gajah hanya bisa mengirimkan warga negaranya ke negara semut untuk menjadi TKI sebagai pembantu rumah tangga,buruh kasar di perkebunan atau kuli untuk membangun gedung di negara semut,sedangkan para semut mengirimkan warga nya ke negara Gajah untuk menjadi ekspatriat yang bergaji 100 x dari gaji warga negara Gajah.
Wajar juga, Karena selama ini potensi ekonomi baik yang ada diatas tanah apalagi yang tersimpan di perut Gajah semuanya di kelola para semut untuk membangun negara semut dan memakmurkan rakyat di negara semut dan sisanya baru disedekahkan kepada Gajah,padahal Undang-Undang Dasar negera Gajah sudah jelas menyataan segala kekayaan yang terkandung di perut Gajah semuanya milik negara dan dimamfaatkan untuk kebutuhan dan kesejahteraan semua rakyat negara Gajah.
Sangat wajar juga, karena selama ini rakyat di negara Gajah selalu merasa minder dan terlalu mengagung-agungkan budaya dan tekhnologi para semut.Semua yang dihasilkan para semut bahkan termasuk sampah dianggap bernilai sedangkan yang dihasilkan negara Gajah selalu dipandang sebelah mata. Dapat suami/istri dari negara semut adalah dianggap lebih terhormat daripada dapat jodoh sesama rakyat negara Gajah. Tamatan Universitas dari negara semut dianggap lebih berkualitas daripada lulusan perguruan tinggi di negara Gajah, sudah separah itukah inferioritas rakyat Gajah???
Tragedi belum selesai…
Pemerintahan di negara Gajah yang sudah silih berganti dengan jargon- jargon yang selalu untuk membela rakyat, mulai dari rakyat untuk rakyat, suara rakyat suara Tuhan,Jangan Korupsi (kecuali tidak ketahuan) dan ribuan janji-janji manis yang selalu diperbaharui ulang setiap lima tahun sekali (daya ingat rakyat gajah cuma 5 tahun,setelah 5 tahun lupa lagi). Tapi tetap saja Pemerintahan di negara Gajah mengirimkan rakyatnya untuk menjadi Pembantu Rumah Tangga ke para negara semut.
Alih-alih untuk memakmurkan rakyatnya,Pemerintah yang memerintah negara Gajah selalu tunduk dan disetir oleh negara-negara semut dengan pengawasan dan ancaman negara Kerbau. Bahkan pemerintah negara Gajah bisa tega memenjarakan rakyatnya yang dianggap negara Kerbau mengganggu kepentingannya. Pemerintah negara Gajah juga bisa pura-pura tutup mata dan merem melihat perusahaan dari negara Kerbau menyedot habis kekayaan perut Gajah sedangkan rakyatnya di situ menderita dan kelaparan.
Gajah..Gajah, kapan sadar bahwa dirimu adalah Gajah?