IDE REVOLUSIONER PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


Apakah itu pembangunan berkelanjutan? Apakah artinya sama dengan yuk lanjut membangun apa saja? Hemmm, kita simpan dulu pertanyaan kita itu. Mari kita menguntit bersama maksud tulisan ini. Istilah pembangunan berkelanjutan merupakan cetusan refleksi kritis dari model pembangunan modern yang agresif dan rakus. Pembangunan ekonomi modern disokong oleh kosmologi modern itu sendiri. Kosmologi/paradigma modern menghasilkan dunia modern yang sangat gemerlap dengan prestasi teknologinya. Ada asumsi pembangunan bahwa kemakmuran itu sejalan dengan kemajuan teknologi. Negera yang teknologinya maju, maka negara itu maju. Faktanya memang demikian. Namun, asumsi pembangunan yang kelihatan elegan ini, suatu saat akan berujung pada katastropik. Pembangunan ala mesin-mesin raksasa modern menguras sumber daya alam yang tak terkendali. Output-nya pun menyumbangkan efek negatif bagi kerusakan ekologi. Bila kita berpikir parabolik, kita akan mencemaskan, gimana yah nantinya kehidupan cucu-cucu bangsa kita ini, atau anak-anak kita sendiri, kalau alamnya hancur? Stop!, ini yang mau dijawab oleh pembangunan berkelanjutan, mari kita berdiskusi.


Pembangunan Berkelanjutan dalam Krisis Global


Krisis global sekarang adalah krisis di wilayah lingkungan hidup. Krisis lingkungan hidup sudah mulai mengusik para pemikir 60-an. Dari Era ini muncul para pemikir ekologi yang kemudian menjadi subyek studi dan gerakan ekologi tersendiri. Implikasi gerakan mereka seperti green economic, blue economic, ecoteknology, dll. Untuk sampai disini, para pemikir ini melihat bahwa, frame dunia kita yang dibentuk oleh rasionalitas dan empirisme yang sangat mengakar sejak abad ke 16 harus dikritisi kembali. Model paradigma linear, rasionalisme dan mekanis perlu dirubah secara total. Dari mana mulai berubahnya? Para pemikir sepakat dari filsafat sains. Filsafat sains model Francis Bacon, Rene Descartes, Newton, dan para filsuf empirisme, tidak memadai untuk dunia yang sudah globally dan perlu didekonstruksi ke pemikiran sistem dan ekologi.


Di bidang ekonomi, Schumacher, ekonom yang terkenal di Ameraka tahun 70-an, mengkritik model ekonomi kapitalis yang tidak memasukan nilai dalam sistemnya. Ekonomi kapitalis mementingkan kuantitas, profit tanpa melibatkan nilai-nilai kehidupan. Maka tak heran, tenaga kerja itu dipandang sebagai mesin-mesin produksi. Apresiasi masyarakat pada lingkungan lewat mitos dan kearifan juga menjadi mati. Alfa Mart dan Indomart menggusur pedagang kaki lima, daerah-daerah kepulaun menjadi obyek percepatan pembangunan , tanpa menunjukan hasil yang signifikan. Hutan rimba, ngarai dan sungai menjadi keruh di Kalimantan. Masyarakat tanpa malu dan kritis lagi membeli air Aqua. Inilah ironis negara kepulaun kita.


Disamping itu, globalisme ekonomi ini membungkus idiologi neoliberalisme. Sasaran empuknya adalah negeri berkembang seperti indonesia. Indonesia menjadi tujuan investor-invenstor karena selain kaya SDAnya, tenaga buruhnya murah meriah. Sistem ekonomi kapitalis ini juga sangat berdampak bagi generasi mendatang, khususnya persedian sumber energi masa depan.


Persoalan-persoalan yang mencakup seluruh kehidupam biosfer (mahluk hidup) ini menjadi pemikiran dan refleksi dunia menjelang akhir abad 20. Bahwasan demikian PBB memasukan pembangunan berkelanjutan sebagai agenda pembangunan abad 21. Pembangunan berkelanjutan merupakan semacam perisotrika dalam istilah Michail Gorbachev yaitu sebuah perubahan sistem secara menyeluruh. Pembangunan berkelanjutan juga adalah model pembangunan yang sangat memperhitungkan masa depan generasi manusia dan planet ini, memasukan nilai-nilai humanisme, ekologi pada sains dan teknologi. So, pembangunan berkelanjutan merupakan ide revolusioner yang mesti digalakan oleh siapa saja.


Apa yang mau ditularkan oleh Pembangunan Berkelanjutan? Pembangunan berkelanjutan memberikan aspek inovatif, kreatif bagi pengolahan SDA, supaya SDA menjadi persiadaan masa depan. Persiapan energi masa depan merupakan kewajiban dan tanggung jawab moril generasi saat ini. Apa yang kita buat sekarang menentukan eksistensi generasi yang akan datang.


Sampai di sini kita bertanya, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia masih dikuasai oleh ekonomi kapitalis. Banyak investor asing menguasai pengelolaan tata kelola ekonomi bangsa kita, mulai dari hutan dan perkebunan hingga industri-industri robot atau mesin-mesin. Situasi mencemaskan, angka kerusakan alam semakin meninngkat tetapi kesejahteraan bangsa tak kunjung berubah. Jadi untuk indonesia, pembangunan berkelanjutan berpesan, gunakan SDA dan SDM orang indonesia secara efektif demi kehidupan bangsa dan negara. Substansi pembangunan pun harus mengakar pada kebudayaan sebab pembangunan berkelanjutan tanpa mengakar pada kebudayaan, sama saja tidak berguna.








sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/19/ide-revolusioner-pembangunan-berkelanjutan--620792.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger