CALON PRESIDEN 2014 BUKAN SEKEDAR TEBAR PESONA
Oleh Casmudi, S.AP
Pemimpin bangsa Indonesia selama masa reformasi harus kita akui belum mampu mengentaskan berbagai masalah bangsa. Banyak kalangan yang memberikan argumen, bahwa ketegasan pemimpin bangsa ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah bangsa Indonesia di masa depan. Oleh sebab itu, pemimpin di masa depan adalah sosok pemimpin yang sudah terseleksi alam dalam mengatasi masalah baik nasional maupun internasional. Perlu diketahui, hal yang mendasar untuk menilai keberhasilan seorang pemimpin adalah menciptakan kesejahteraan rakyat tanpa mengorbankan kesejahteraan rakyat yang lain. Serta, tanpa adanya maksud tertentu, dengan dalih untuk mengambil keuntungan secara pribadi atau golongan. Rakyat sudah bosan dengan tebar pesona atau publikasi media dari calon pemimpin untuk membawa kapal bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Rakyat merindukan pemimpin yang tegas, jujur dan kapabel untuk mengatasi masalah bangsa baik di tingkat nasional maupun internasional yang sangat berpengaruh bagi bangsa. Pemimpin yang bukan hanya mengatasi masalah-maslah banjir atau kemacetan saja. Di luar itu, masih ada masalah yang lebih besar, seperti keamanan bangsa dari infiltrasi bangsa lain, mafia peradilan dan korupsi, human trafficking (perdagangan manusia), people smuggling (penyelundupan manusia) dan lain-lain. Semua itu membutuhkan penanganan yang cepat dari pemimpin yang tegas dan berpengalaman secara internasional. Kita tidak membutuhkan pemimpin yang tebar pesona yang selalu mengeksploitasi lewat media sebagai juru kampanyenya. Gaya blusukan Jokowi sangatlah menarik disimak bagi rakyat Indonesia dan selalu mengunggulkan dalam setiap elektabilitas Calon Presiden 2014. Tapi perlu diingat, bahwa kebijakan yang “merakyat” yang diambil mengakibatkan kesejahteraan “merakyat” lainnya dikorbankan. Dengan kata lain, “memanusiakan” yang satu, tapi “memanusiakan” yang lain tergadaikan. Jangan sampai ada pihak yang mengambil keuntungan. Semuanya demi kesejahteraan rakyat secara berkesinambungan.
Rakyat kita mudah “terpesona” dengan gaya tebar pesona calon presiden kita. Kita juga perlu mengetahui, seberapa murnikah apa yang mereka lakukan, cara-cara yang mereka lakukan, apakah visi dan misi mereka untuk kemajuan bangsa benar-benar sejati?. Kita jangan sampai memilih calon presiden, tapi ada pihak yang mem-back up atau menyetir dengan maksud untuk mendapatkan “balas jasa” setelah jadi. Betapa meriahnya pemilihan Presiden Barack Obama dielu-elukan akan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Amerika. Berbagai janji ditebarkan yang mengakibatkan beliau terpilih kembali. Namun apa yang terjadi, perekonomian USA pernah mengalami shutdown. Sebuah negara superpower yang tahan krisis pun terkena dampak. Pasti kita bertanya, ada apa gerangan? Berpihakkah kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya? Rakyatlah yang akan menilainya.
Saya pribadi selalu mencermati perkembangan politik, apalagi yang berhubungan dengan calon presiden 2014. Seperti elektabilitas Jokowi yang bagus pun belum mampu meluluhkan Ketua Umum PDI-P Megawati untuk mengetok palunya, agar Jokowi maju sebagai Capres 2014. Megawati pun tidak mau gegabah dalam hal pencapresan, karena harus menghitung angka-angka yang rumit. Seperti diwawancarai media pada saat acara di UI Depok beberapa minggu yang lalu, bahwa pengajuan capres dari kubu PDI-P sangatlah dibuat dengan kehati-hatian. Sinyalemen internal partai pun beredar, bahwa kapabilitas Jokowi dirasa belum mumpuni (baca: mahir) untuk memimpin sekelas nusantara ini. Banyak masalah yang lebih rumit dari sekedar banjir, macet, topeng monyet, PKL dan yang lain-lain yang ada di Jakarta. Memang kelihatannya sangat aneh sekali, partai-partai lain sudah semangat sekali mengajukan Capres/Cawapresnya. Tapi PDI-P kelihatannya masih bingung untuk mengajukan Capres/Cawapresnya. Saya meyakini, bahwa masalah Jokowi-lah yang membuat internal partai bingung untuk membuat keputusan. Di satu sisi, Jokowi mendongkrak elektabilitas partai, tapi di sisi lain masih ada tokoh elit yang bisa diajukan, termasuk Ketua Umumnya. Kita tunggu tanggal mainnya.
Gaya semiotika yang muncul di kalangan akar rumput “Piye kabare lek. Iseh penak jamanku tho?” (Gimana kabarnya nak? Masih enak jamanku kan?) dengan gambar Presiden ke-2 Alm. Soeharto bukanlah sekedar slogan saja. Kok bisa begitu?. Sebagai masyarakat, kita pasti merindukan calon pemimpin yang tegas dan benar-benar peduli rakyat kecil. Perekonomian ditingkatkan. Harga-harga sembako mampu dijangkau masyarakat. Mensejahterakan rakyat yang satu tidak mengorbankan kesejahteraan yang lain. Dengan demikian, sepertinya rakyat Indonesia merindukan calon presiden yang tegas dari kalangan militer. Tetapi tetap mengedepankan perekonomian rakyat, seperti mensejahterakan kaum petani. Hal itulah yang membuat elektabilitas Prabowo yang berasal dari kalangan militer selalu menguntit elektabilitas Jokowi. Kita mengetahui bahwa, Prabowo adalah sosok yang pernah mengurusi HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia).
Oleh karena itu, rakyat seperti ada kerinduan untuk membangkitkan memori lama jaman Soeharto. Di mana, kesejahteraan petani diberdayakan. Ada pepatah Jawa “yen pengin rakyatmu makmur, gawekno petani subur” (kalau ingin rakyatmu makmur, buatlah petani subur”. Itulah sebabnya urusan pangan adalah urusan penting bagi negara. Jika rakyat sudah berdemo masalah pangan, itu tandanya kesalahan fatal bagi seorang pemimpin. Jangan kaget, cara-cara kotor untuk memenangkan petandingan menjelang pemilu adalah dengan melakukan “serangan fajar” melalui pemberian sembako. Hal ini menandakan bahwa, calon pemimpin harus mampu memberikan perasaan nyaman golongan “tengah” (baca: isi perut). Kesejahteraan rakyat secara menyeluruh harus diberdayakan. Pemimpin bukanlah membuat rasa nyaman rakyat yang satu, tapi di lain pihak rakyat menangis dan tergusur dari rasa keadilan.
Pemimpin bukanlah membuat kebijakan yang mengatasnamakan rakyat kecil, namun di sisi lain kalangan pengusaha atau pejabat bermain di balik layar. Pemimpin adalah maestro “decision maker” tanpa peduli siapa yang berada di balik layar kebijakan, atau dengan siapa akan berhadapan. Saya sangat tertarik membaca cerita Prabowo yang masih berpangkat Perwira menengah yang menantang jenderal LB. Moerdani, karena LB. Moerdani membuat kebijakan yang memangkas rasa keadilan (hak azasi manusia). Yang terbaru adalah sang Wakil Gubernur Basuki Cahaya Purnama (Ahok) sebagai kader Partai Gerindra yang menantang atasannya Mendagri Gamawan Fauzi dan membuat merah telinga SBY. Seperti itulah pemimpin yang diharapkan bangsa. Berani menantang siapa pun yang mengkebiri keadilan rakyat kalau dirasa benar, meski nyawa pun taruhannya. Pemimpin harus bergerak cepat mengatasi masalah bangsa. Harus jujur, amanah dan tidak ada permainan yang berada di balik kebijakannya. Pemimpin yang baik tidak membutuhkan pihak manapun yang menyetir kebijakannya untuk meluluhkan hati rakyatnya. Pemimpin adalah murni dan suci dalam perbuatannya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Begitu kata jargon Calon Presiden 2014, Prabowo.