Pak Jokowi sudah tidak bisa dibantah lagi sebagai Capres yang paling potential memenangkan pemilihan presiden [mungkin malahan dalam satu putaran], banyak survey menunjukkan hal ini (kecuali tentu saja survey yang bias alias hasilnya sesuai dengan pesanan yang bayar). Dan pencapresannya tentu saja menunggu sabda sang penguasa partai “wong cilik”. Sementara Megawati nampaknya masih ragu-ragu untuk memutuskan siapa calon presiden dari PDIP. Kelambanan Megawati dalam memutuskan Capres PDIP menunjukkan kualitas dia sebagai pemimpin yang lamban dan tidak bijak dalam menanggapi aspirasi masyarakat yang menginginkan Jokowi sebagai presiden, dan bukan wakil presiden.
Berita terakhir mengabarkan bahwa Megawati masih ngebet untuk nyapres lagi, dengan alasan yang tidak logis yakni: Jokowi belum punya pengalaman untuk memimpin negeri ini. Suatu alasan yang absurd, dan sangat absurd malah, dengan alasan (1) Semua mantan Presiden RI (termasuk bapaknya) ketika pertama kali terpilih, tidak punya pengalaman sebagai pemimpin negeri (2) Tidak ada jaminan bahwa pemimpin yang berpengalaman akan berhasil dalam memimpin negeri, banyak contoh termasuk incumbent. Apakah periode ke-2 dari incumbent lebih berhasil daripada periode pertama? Jawabannya sangat tegas: tidaak! Kalau logika Megawati itu dipakai, maka semua capres yang ada tidak layak. Alasan ke (3) Megawati sudah tidak layak nyapres karena tidak akan terpilih, selain karena sudah tua juga karena gaya kepemimpinan Megawati yang sudah tidak cocok dengan alam sekarang. Alasan ke (4) suara PDIP akan beralih ke partai lain. Tentu saja apabila Megawati memilih mencalonkan diri kembali menjadi capres, akan menguntungkan Prabowo sebagai runner-up elektabilitas capres setelah Jokowi.
Saya melihat dilematis juga bagi Megawati. Kalau dia mendahulukan egonya, maka dia akan mencalonkan diri jadi capres dari PDIP, dan siapapun capresnya termasuk Jokowi sekalipun, Megawati akan menang … gung malu, karena sudah dapat dipastikan akan kalah telak dari Prabowo. Dan sudah tentu suara PDIP akan turun pada Pemilu 2014 dan akan tetap sebagai partai papan tengah dan mungkin juga tetap sebagai oposisi. Kalau ini yang terjadi maka saya memperkirakan Gerindra akan menjadi juara pertama pemilu disusul oleh Golkar. Golkar suaranya tetap bertahan, karena partai lama dengan pendukung tradisional terutama di daerah-daerah. Kebanyakan pemilih cerdas akan golput.
Kalau senario ini yang terjadi dan Megawati memilih Jokowi sebagai cawapres, saya sarankan kepada Pak Jokowi untuk tidak menerimanya, lebih baik Pak Jokowi jadi Gubernur DKI, karena lebih bermartabat. Ketika Pak Jokowi jadi wapres Megawati, Pak Jokowi tidak akan berperan banyak, selain sebagai pemadam kebakaran dari kebijakan tidak populis Megawati. Dengan demikian, potensi kepemimpinan Pak Jokowi tidak akan terlihat.
The better scenario menurut saya seharusnya Megawati meredam ego dan ambisinya untuk nyapres, dan deklarasikan segera Ir. Joko Widodo sebagai calon presiden dari PDIP untuk Pilpres 2014, dengan sedikit embel-embel dalam pengumuman pencapresan Jokowi: (1) katakan bahwa mendengar dan memperhatikan suara-suara masyarakat banyak yang menghendaki agar Jokowi menjadi capres (2) memperhatikan hasil survey yang ada yang menunjukkan elektabilitas Jokowi sebagai capres meroket dari waktu ke waktu (3) katakan saya mengharapkan dukungan kepada rakyat Indonesia agar dapat dengan leluasa mencalonkan Jokowi tanpa perlu berkoalisi dengan partai lain – apalagi partai yang tidak disukai oleh rakyat – Di sini artinya PDIP berharap agar suara untuk PDIP lebih tinggi daripada treshold untuk mencalonkan presiden tanpa koalisi. Kalau senario ini yang berlaku, keuntungannya adalah (1) Megawati akan dikenang sebagai the King Maker (2) Megawati juga akan dikenang sebagai negarawan (3) Suara PDIP akan menjulang tinggi menjadi juara pemilu legislatif (4) PDIP akan menjadi mayoritas di DPR dengan demikian Jokowi sebagai Presiden tidak akan direcoki oleh partai lain sebagaimana sekarang di DKI (5) Indonesia akan segera berbeda daripada kondisi Indonesia di bawah sang maha prabu Yudhoyono.
Skenario itu belum optimal, karena cawapres dari Jokowi adalah bisa siapa saja. Kalau mau lebih maksimal lagi cawapres dari Jokowi harus punya kompetensi, kebersihan dan kejujuran juga semacam Abraham Samad, Ahok, Mahfud MD, JK, DI, Ryamizard, Anis Baswedan. Cawapres lainnya termasuk dari keluarga Megawati (Puan atau Prananda) hanya akan mengurangi suara untuk Jokowi, walaupun Jokowi akan tetap menang.
Jadi untuk Pak Jokowi, kami (saya dan mungkin banyak orang) tidak akan memilih Bapak, apabila Bapak hanya menjadi cawapres dari Megawati. Dan kepada Bu Mega, sebaiknya Ibu tidak usah memaksakan diri untuk nyapres, karena Ibu akan kalah!.