Pemilu Legislatif beberapa bulan lagi akan digelar. Tepatnya jatuh pada hari Rabu, tanggal 9 April 2014. Geliat para calon legislatif sudah sangat terasa. Dari mulai isu penggandaan uang, ‘uang merah’ sampai dana talangan. Dari sosialisasi uang hijau atau biru sampai tembak langsung KPU. Semuanya mengarah pada pemenangan kursi DPR dari Kab/Kota sampai RI. Dan semuanya mengarah kepada rakyat yang nantinya nasibnya diperjuangkan oleh para anggota dewan yang terhormat di stratanya masing-masing.
Tapi benarkah tujuan para caleg begerak dilapangan mensosialisasikan dirinya, tentu saja visi misinya dan partai yang menjadi alat untuk mencapai tujuannya benar- benar untuk rakyat? Rakyat yang mana? Kalau kita dalami dan kita ikuti pergerakan para caleg di lapangan, akan tampak adanya kesenjangan antara tujuan sosialisasi dengan keinginan rakyat yang tentu saja harapannya akan tercapai. Apa sih, keinginan rakyat yang hakiki.
Saya sederhanakan saja bahasan tentang keinginan rakyat saat ini. Tahukah para caleg bahwa rakyat ingin mereka diperhatikan kemakmurannya, kesejahteraannya dan ingin bisa hidup aman sentosa?
Kenyataan di lapangan, tanpa sadar para caleg justru berperilaku yang menunjukkan bahwa kesenjangan antara rakyat biasa dan caleg adalah nyata. Rakyat tidak merasa memiliki wakil karena mereka tidak pernah merasa pernah bicara dari hati ke hati. Mereka tidak pernah merasa pernah mengeluhkan masalahnya. Kenapa? Karena mereka hanya bertatap muka dengan banner dan baliho yang mereka tahu pasti mahal harganya.
Ketika mereka bisa bertatap muka dengan para caleg, ternyata mereka tidak mendengar ada harapan hidup lebih baik ke depan karena mereka membuat janji yang mengulang janji lama yang tak pernah terwujud. Kenapa para caleg harus terseret arus yang lebih mengedepankan ‘moral hazard’ dengan memanfaatkan perilaku sekelompok oknum masyarakat yang lebih memilih menerima hadiah uang hijau, biru atau merah? Rakyat miskin mana yang tidak mau menerima uang? Padahal mereka tahu yang mereka inginkan selain uang adalah perbaikan nasib yang harapannya bisa diperjuangkan oleh anggota dewan yang terhormat. Lingkaran keterpurukan yang tidak mungkin berhenti jika pemerintah tidak segera menghentikan praktek sosialisasi caleg yang melenceng dari tujuan awal yaitu mensosialisasikan visi misi caleg dan partainya.
Para caleg, mulailah mengubah cara sosialisasi dari yang pencitraan ke sosialisasi dari hati ke hati. Dari rakyat untuk rakyat. Semangat!