Pertemuan Pertama (Parkir Timur Renon)
Kami terlambat dari Aksi penolakan WTO yang diikuti para aktivis lintas negara (diorganisir Gerak Lawan). Saat itu 3 Desember 2013, tepat dimana Pertemuan Tingkat Menteri itu dibuka di Nusa Dua, di pinggiran Selatan Pulau Bali. Aksi penolakan ini dipusatkan di Renon. Namun sayang, kami dari Serikat Nelayan Indonesia (SNI) Bali, tiba sesaat setelah para peserta aksi telah membubarkan diri. Maklum, SNI Bali berpusat di Buleleng, kabupaten terluas di Utara Bali, dan harus menempuh kurang lebih 3 Jam perjalanan untuk sampai di Denpasar.
Saat kami tiba di Parkir Timur Renon, terlihat beberapa kelompok peserta aksi sudah mulai meningglkan lokasi dengan menggunakan kendaraan Bus. Ada juga sejumlah peserta aksi yang istirahat dengan membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Dari beberapa lingkaran itu, di sebelah utara, di depan sebuah kedai, terlihat Gendo ditengah-tengah mereka sedang asyik bicara.
Bagi saya pribadi, ini kali pertama melihat sosok Ketua Walhi Bali secara langsung. Selama ini sosoknya selalu muncul di media-media lokal Bali. Sosoknya selalu diidentikkan sebagai pimpinan oposisi jalanan, pemimpin gerakan ekstra palementer dalam melakukan perlawanan terhadap para penguasa di Bali. Terutama suaranya akan lantang terdengar saat menyaksikan kesewenang-wenangan industri pariwisata yang merusak lingkungan.
Ingin sebenarnya menyapanya, tapi sepertinya ia sedang asyik ngobrol dan sesekali terdengar suara tawa lepasnya yang cukup keras. Memperhatikannya dari jauh, terlihat wajahnya agak lebar dengan struktur rahang yang kuat. Model wajahnya tak seperti kebanyakan warga Bali yang agak kecil. Memperhatikan wajahnya, ia lebih pantas dari keturunan Makassar, atau Aceh, dimana rakyat dari kedua daerah tersebut dikenal dengan karakter perjuangan anak mudanya yang tak pernah lelah, pemberani, konsisten dan tangguh.
Warna kulitnya, terutama kulit wajahnya agak kehitaman. Bukan hitam dari asalnya. Tapi warna kulitnya menjadi demikian seperti bekas kobaran api. Ya, mungkin tubuhnya selalu terpanggang dibawah sinar matahari jalanan. Tubuhnya dijilati api-api perjuangan, yang darinya tersemayam kobaran semangat yang tak pernah padam. Saat itu, ia menggunakan kaos berwarna putih bertuliskan Bali Tolak Reklamasi. Warna kaos itu, sungguh sangat kontras dengan warna kulitnya.
Tak berselang lama, ketika saya membagikan nasi bungkus ke peserta aksi dari Buleleng, terdengar raungan motor matic kemudian melaju agak kencang meninggalkan lokasi. Saya perhatikan ke lokasi dimana Gendo duduk, ia sudah tidak ada. Pengguna motor itu ternyata Gendo, yang belum sempat saya bersalaman dengannya. Belum juga saya memperkenalkan diri jika diam-diam saya selalu mengikuti gerakannya, walau hanya melalui media massa.
Rombongan dua Bus SNI Bali kembali ke Buleleng sore itu. Sebagai perwakilan SNI Bali, dua orang termasuk saya tetap tinggal di Denpasar untuk mengikuti rangkaian kegiatan penolakan WTO hingga tanggal 6 desember.
Pertemuan Kedua (GOR Yowana Mandala)
Tanggal 5 Desember sekitar 19.00 Wita, dari penginapan saya langsung menuju GOR Yowana Mandala setelah mendapat kabar dari salah seorang aktivis, jika malam ini ada konser solidaritas dari teman-teman ForBali. ForBali sendiri diorganisir langsung oleh Gendo, untuk menolak rencana Reklamasi di Tajnung Benoa. Tentunya ini merupakan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Gendo.
Di dalam GOR masih sepi, hanya beberapa panitia yang mondar mandir. Termasuk juga Gendo yang terlihat sibuk kedepan dan kebelakang untuk mengecek persiapan konser. Sekali-kali ia ke panggung, mengecek operator, dan juka memantau stand dadakan para aktivis ForBali. Saya yang baru datang duduk di kursi belakang. Saat ia berdiri tak jauh dari tempat saya duduk, saya langsung menghampiri dan bersalaman dengannya. Say halo saja, sambil ia berbisik kencang ditengah riuhnya suara musik “mana yang lain? Kok masih sepi ya?” sayapun membalasnya dengan kencang “masih di penginapan bli”. Ia kemudian sibuk dengan Hanphonenya, lalu saya kembali ke tempat duduk semula.
Bagi anak muda seperti saya, dapat berjabat tangan dengan seorang yang selalu diperbincangkan di Bali adalah suatu kebanggaan. Bukan karena ketenarannya, tapi karena jiwa petarungnnya, setidaknya pada dirinya masih melekat idealisme. Mengenal namanya sudah bertahun kebelakang, baru kali ini dapat berjabat tangan, di denpasar, seratus kilometer lebih dari tempat tinggal saya.
Makin malam, makin ramai. Musisi lokal Bali bergantian naik ke panggung. Sekali-kali teriakan End WTO terdengar, tapi lebih sering teriakan untuk menolak rencana Reklamasi Tanjung Benoa, “Tolak Reklamasi!”. Hingga kemudian Gendo naik ke panggung menyampaikan Orasi politiknya. Semua terdiam, hanyut dalam orasinya yang menggemparkan ruangan. Sungguh ia memiliki kepiawaian dalam orasi publik, dapat menggiring audiens untuk bersatu dalam visinya.
“…enam bulan kami di jalanan, berbagai cara kami lakukan demi menolak Reklamasi, sampai hari ini tidak ada kala lelah bagi kami, saya tegaskan hai Penguasa Bali, kami tidak akan mundur sejengkalpun!” pekiknya, dan langsung disambut dengan teriakan-teriakan “Tolak Reklamasi!” “Hidup ForBali!”.
Kemudian ia turun dan dilanjutkan dengan penampilan Jrx SID yang tampil dengan Devildice nya. Jrx juga merupakan sosok yang konsisten dalam menyuarakan persamaan hak, melawan kesewenang-wenangan penguasa. Acara kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu Tolak Reklamasi secara bersama-sama.
Saya sengaja tidak langsung meninggalkan lokasi acara, keinginan saya untuk mengenal Gendo lebih jauh begitu besar. Terutama pada isu-isu hangat belakangan ini yang santer disuarakannya. Terus terang ada beberapa hal yang masih mengganjal. Sedianya, saya ingin menanyakan beberapa hal;
Pertama, selama ini isu-isu yang diangkat oleh Walhi Bali selalu mendapat porsi pemberitaan yang besar oleh media terbesar di Bali (Bali Post). Gendo sendiri selalu dimintai pendapat sebagai narasumber berita. Terlebih ketika Walhi secara terang-terangan menyerang sang Gubernur, akan diblow up besar-besaran oleh Bali Post untuk memojokan Gubernur.
Sebagaimana diketahui, jauh sebelum hingar bingar pemilihan Gubernur 15 Mei lalu, Media milik Satria Naradha ini pernah terlibat konflik hingga ke meja hijau. Dari sanalah pemberitaan Bali Post pada terbitan selanjutnya selalu tidak imbang. Terlebih pada menjelang Pilgub, dimana Balipost jelas memihak pada salah satu calon pesaing calon incumbent. Pemberitaannya terlalu kentara memihak. Sangat jelas ingin menjatuhkan Mangku Pastika. Hingga akhirnya, hasil Pilgub memenangkan kembali Mangku Pastika sebagai Gubernur untuk yang kedua kalinya. Pemberitaannya semakin menjadi-jadi untuk memojokkan Gubernur, dan isu Reklamasi ini sengaja diangkat sebagai senjata untuk menurunkan paksa Gubernur, sekaligus mempropaganda rakyat Bali untuk membenci sang Gubernur.
Nah, dari sana ingin saya menanyakan kepada Gendo, bahwa apakah tidak merasa dirinya dan organisasi yang dipimpinnya dimanfaatkan oleh Bali Post (Satria Naradha cs), akibat tidak terimanya pada hasil Pilgub kemaren?
Kedua, dalam posisi yang seperti itu, kebanyakan rakyat Bali sudah mengetahui keberpihakan Bali Post. Media paling berpengaruh di Bali ini sudah banyak ditinggalkan pelanggannya, sebab propagandanya yang tak berkesudahan dan cendrung tak obyektif. Posisi Media yang “dicap” tak lagi independent tersebut, justru Gendo “kerja” di Media ini. Kerap terlihat Gendo menjadi Host di beberapa acara Talk Show di Bali TV (Kelompok Media BaliPost). Padahal sosoknya sebagai simbol perlawanan rakyat, harus bisa menjaga jarak dari pihak-pihak yang sebenarnya bertarung untuk memperebutkan kekuasaan. Ingin sekali saya mendapat penjelasan darinya.
Namun, pertanyaan-pertanyaan itu tak dapat saya sampaikan pada Gendo. Ia terlihat sibuk membereskan sesuatu. Dari jauh terus saya perhatikan, ia mengambil tas ranselnya dan bersiap untuk pulang. Saya langsung menghampirinya dan meminta nomor telpon. Dengan ramah ia mendekte nomornya satu persatu. Saya ucapkan terimakasih, dan ia mengatakan “kapan-kapan kita ngobrol” sambil berjabat tangan, seolah ia tahu bahwa saya ingin ngobrol banyak dengannya.
(ditulis di luar Pulau Bali)