SBY Lawan Fitnah dengan Santun


Siapa sih yang tidak kesal jika terus difitnah? Dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukan. Dijelek-jelekkan tanpa dasar. Hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok politik tertentu.


Itulah yang dirasakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai seorang manusia biasa, kesabaran SBY juga ada batasnya menghadapi fitnah yang diarahkan kepadanya dan keluarganya.


SBY selama ini sangat terbuka dengan kritik. SBY bahkan menahan diri terhadap berbagai kecaman dan hinaan. Sampai-sampai SBY pun dipuji tahan banting dengan komentar-komentar miring dalam situs mikroblogging twitter. Menurut Direktur Pemberitaan LKBN Antara, Akhmad Kusaeni, SBY sangat terbuka pada usul saran, kritik dan bahkan kecaman.


Sejak diluncurkan pada April 2013, pengikut akun twitter SBY menembus angka 4 juta akun. Sebagai follower twitter Pak SBY, ujar Kusaeni, saya melihat postingan yang beragam terhadap apapun yang di-tweet Pak SBY. Komentarnya beragam mulai dari good, bad dan ugly.


Dengan pertimbangan itu dan pertimbangan SBY yang sangat melindungi kebebasan berpendapat, Antara pun memberikan anugerah kepada SBY. SBY meraih Antara Achievement Award 2013 karena dianggap sebagai pemimpin demokratis yang menjamin kebebasan berpendapat dan paling terbuka kepada rakyat Indonesia.


(baca: http://www.tribunnews.com/nasional/2013/12/18/pemimpin-demokratis-sby-raih-antara-achievement-awards-2013)


Asal bukan fitnah!


Penghargaan dari Antara itu menjadi bukti nyata bahwa SBY deorang demokrat sejati yang sangat menghargai kebebasan berpendapat. Semua silakan berpendapat dan mengkritik pemimpinnya. Rambunya hanya satu, jangan fitnah!


Definisi fitnah dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah perkataan bohong tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang).


Secara spesifik, SBY menyoroti fitnah kepada diri dan keluarganya yang diulang-ulang, bahkan dibuat berseri berbagai media massa. SBY menegaskan dirinya mendukung penuh kebebasan pers di Indonesia. Tapi ia mengingatkan dua faktor yang dapat merusak pers.


Pertama adalah kekuasaan politik manakala yang berlaku sistem otoritarian. Dan yang kedua, manakala pemilik modal melakukan intervensi yang tidak sehat sehingga pers kehilangan kemerdekaannya.


Betul juga kata SBY, lha kalau pemilik media massa orang politik, lalu mengintervensi medianya, ya apa yang dimuat, disiarkan hanyalah kepentingan kelompok politik pemilik media itu saja. Misalnya, mana mungkin TVone mau menjelekkan Aburizal Bakrie, kan?


Kembali ke soal fitnah, saya setuju dengan keputusan SBY tidak akan memberi lagi toleransi kepada para penyebar fitnah. Saya setuju jika SBY menunjuk pengacara untuk meng-counter semua fitnah itu.


Melawan fitnah dengan santun


Walaupun menyewa pengacara, saya yakin SBY tak akan dengan membabi-buta menuntut secara hukum pihak-pihak yang memfitnahnya. Jalan damai dan musyawarah akan menjadi prioritas utama.


Hal itu diamini oleh pengacara Palmer Situmorang dkk yang ditunjuk SBY. Palmer diminta SBY untuk menghadapi pemberitaan dan tudingan di berbagai media, termasuk media sosial yang menjurus fitnah.


Baca: http://news.detik.com/read/2013/12/18/170718/2445782/10/sby-dan-keluarga-tunjuk-pengacara-hadapi-tudingan-fitnah-di-media?991101mainnews)


Mereka yang membuat tudingan fitnah akan disurati oleh Palmer untuk dimintai kejelasan. Katanya, Palmer sudah menyurati beberapa orang dan pihak. Palmer juga diminta SBY untuk sebisa mungkin tak membawa ke ranah hukum. Pesan SBY, Palmer harus bersikap santun pada pihak-pihak yang memfitnah itu.


Sudah difitnah, masih juga SBY bersikap santun! Salut!



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/19/sby-lawan-fitnah-dengan-santun-619890.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger