Jarum jam Stasiun menunjuk pukul 06.35. Saya masih berada di pintu masuk, sambil mengamati lalu-lalang penumpang yang semakin ramai. Para kuli pun mulai bekerja membantu mereka yang membawa banyak barang;
Seorang Bapak penjual Koran berbaju biru, sepertinya sudah sejak subuh berada di pintu masuk. Saya sering melihatnya berdiri di tempat yang sama. Dan apa yang membuat saya tergugah, adalah semangat untuk bekerja sepanjang hari, meskipun (maaf) tubuhnya penuh dengan benjolan. Akan tetapi, tidak ada satupun orang yang menghina ataupun menatapnya dengan pandangan mencibir. Bahkan banyak juga yang bersedia membeli koran dagangannya
Dan ini adalah kesederhanaan yang ditunjukkan oleh suatu keluarga, dimana keluarga selalu menjadi bagian utama dari geliat-geliat aktifitas di setiap ruang keberangkatan maupun kedatangan.
Di sisi yang lain, saya tertarik pada seorang turis perempuan yang berdiri seorang diri sambil menenteng ransel-ransel besar. Wajahnya agak murung dan bosan, mungkin juga karena masih mengantuk, ekspresi yang kurang lebih hampir sama dengan seorang pria berseragam warna kuning
Sebuah jam dinding menempel pada kaca-kaca berwarna kekuningan yang tampak lawas, menunjukkan pukul 06.55 WIB. Sepertinya, pagi ini saya melihat dominasi warna kuning di Stasiun Ini;
Saya tidak cukup tahu apakah di stasiun lain ada layanan loket khusus Difabel, tetapi yang jelas layanan khusus Difabel tersedia di loket ini;
Bagi mereka yang memasuki peron, diwajibkan untuk memiliki tiket kereta, sehingga untuk para pengantar hanya boleh melihat kepergian sanak-saudara dan kerabatnya dari ruanh tunggu saja
Dan akhirnya, penyusuran di Tugu diakhiri dengan memotret satu replika kereta favorit saya;