Orang yang diam memang tidak akan tersandung dan terjatuh, tapi pasti tertinggal.
-Mario Teguh-
Kalau mendengar kata “politik”apa yang ada di pikiran kita? Rumit, ribet, nggak penting, cuma buat pejabat, korup, nggak beretika, atau malah kita akan bilang “males ahh ngomongin politik. Nggak ada gunanya juga buat kita. Bosan saya lihat kelakuan pejabat di Senayan”??
Pernyataan-pernyataan seperti ini menunjukkan ketidakpedulian kita pada politik. Kita bersikap masa bodo dan acuh tak acuh pada yang namanya politik. Padahal sebenarnya, politik itulah yang paling erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Secara tak langsung, apa yang kita lakukan setiap hari itu adalah hasil dari keputusan politik.
Misalnya, pemerintah menerapkan aturan bahwa tidak akan ada lagi beasiswa bagi para mahasiswa, maka keesokannya beasiswa kita dicabut dan terkatung-katung lah nasib kuliah kita selanjutnya. Beruntung bagi orang yang memiliki uang banyak, bagi yang tidak? Tentu kenikmatan pendidikan formal hanya bisa dinikmati oleh para pemilik uang dan semakin jauh lah jarak antar sikaya dan simiskin, karna yang kaya makin kaya dengan ilmunya dan yang miskin makin miskin karena tidak berilmu dan selalu dibodoh-bodohi oleh sikaya yang pintar.
Belum lagi jika pemerintah menerapkan aturan bahwa semua perempuan Indonesia dari balita sampai nenek-nenek harus membalut tubuhnya dengan pakaian yang dalam dan panjang sehingga tidak membentuk dan menampakkan lekuk tubuh mereka, karena dapat memancing nafsu laki-laki, maka keesokan harinya kita akan melihat pemandangan wanita dengan kain panjang yang membungkus seluruh permukaan tubuhnya. Begitulah sebenarnya, semua yang berkaitan dengan hidup kita sehari-hari merupakan hasil dari keputusan politik. Karena begitu pentingnya, seharusnya politik menjadi mata pelajaran di bangku sekolah dan menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi walaupun kita tidak mengambil jurusan politik.
Tapi kebanyakan dari kita malah mengambil jarak dengan politik itu sendiri. Sehingga kita tidak tahu jika kita sudah dibodohi dan dicurangi dengan keputusan politik yang diambil oleh pemerintah. Ketidakpedulian kita inilah yang menjadi penyebabnya.
Sebentar lagi akan diadakan Pemilu untuk memilih Presiden dan wakil-wakil rakyat yang katanya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang telah memilihnya. Akankah kita ikut merasakan euforia dan merayakan peristiwa yang disebut juga dengan “pesta demokrasi” ini?.
Dalam hidup ini kita memang selalu dihadapkan pada beberapa pilihan bahkan beberapa diantaranya merupakan pilihan yang sangat sulit. Tidak memilih apapun sebenarnya juga merupakan jawaban dari pilihan, tapi itu jawaban yang sangat mudah, yang tidak mengandung resiko sama sekali. Menurut saya, tidak memilih diantara beberapa pilihan itu merupakan sikap orang penakut dan pecundang. Lebih memilih untuk diam, bermain aman. Padahal, kedewasaan kita akan terlihat jika berani memilih dari beberapa pilihan yang berat. Seperti kata Mario Teguh diatas tadi orang yang diam memang tidak akan tersandung dan terjatuh, tapi pasti tertinggal.
Bisa dibayangkan jika setengah dari jumlah pemilih Indonesia tahun 2014 (190 juta, sumber: liputan6.com) tidak menggunakan haknya, apa yang telah mereka lakukan? Ya, mereka memang tidak melakukan apa-apa. Tapi, apa akibat dari tindakan tidak melakukan apa-apa itu? Sangat besar, kita bisa jadi menempatkan orang yang salah dan orang yang seharusnya layak (karena kompetensinya) menjadi tidak terpilih karena kekurangan suara. Dan lucunya, yang banyak golput (tidak memilih) itu malah pemuda (berdasarkan hasil polling di salah satu televisi swasta menunjukkan bahwa sebanyak 37% dari masyarakat berusia dibawah 30 tahun bersikap apatis terhadap politik). Pemuda yang demo menuntut segala perubahan itu malah tidak memilih dengan dalih “percuma, nggak bakalan ngaruh. Nggak ngerubah apa-apa”. Kita demo menuntut perubahan, tapi untuk membuat perubahan itu sendiri kita tidak mau. Artinya, kita cuma berani di mulut tapi tidak mau memberikan aksi nyata dan hanya menitiberatkan “beban” perubahan pada pemerintah. Padahal sejarah selalu mencatat bahwa perubahan itu dibuat oleh pemuda.
Untuk itu, mari kita menjadi pemilih yang bijaksana dengan memilih calon yang memang kompeten di bidangnya. Jangan dengan alasan tidak tahu dan tidak kenal calonnya lantas kita memilih untuk tidak menggunakan hak yang hanya bisa ditunaikan sekali lima tahun. Itu bisa diakali dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai calon, dari berbagai media (jangan jadikan televisi sebagai satu-satunya sumber referensi, karena propaganda televisi itu sangat besar sebab para pemilik stasiun televisi kebanyakan elit partai. Jadi bisa saja berita yang ditampilkan tidak bersifat netral yang terkadang dibuat untuk menguntungkan partainya).
Saya bukan simpatisan apalagi kader partai, saya juga bukan anggota KPU yang ingin menaikkan tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu tahun depan, dan saya juga bukan mahasiswa (tapi punya KTM) hanya saja terkadang datang, duduk dan dengar perkuliahan di Jurusan Psikologi UNP, saya cuma warga negara yang gerah dengan ketidakpedulian kita ini, tapi sangat getol untuk menuntut perubahan.