Jika Media Masa sudah mengarahkan moncongnya pada seseorang, tidak tanggung-tanggung—orang tersebut dikupas, dikuliti, termasuk keluarga, kerabat dan teman-temanya tak luput dari perhatian nyamuk pers. Semua pernak-pernik dari tokoh tersebut disorot habis oleh para pekerja pemberi informasi ini. “kebebasan mengeluarkan pendapat,”kata orang pintar. Walaupun cara kerja wartawan sudah merambah zona privacy. Namun mereka tetap mencari tahu sedetil-detilnya tentang tokoh yang disorot.
Sudah banyak yang mengeluh soal kerja pers belakangan ini. Presiden SBY pada waktu lalu juga curhat tentang prilaku media masa terhadap dirinya dan partai democrat. Sebelumnya, Anas Urbaningrum, Akil Muchtar dan barubaru-baru media mengupas habis tentang Ratu Atut, Gubernur Banten yang adiknya ditangkap oleh KPK.
Pasca tertangkapnya Tubagus Chairil Wardana, Atut menjadi sorotan tajam nyamuk pers. Banten menjad Provinsi paling beken Republik ini. Saban hari, daerah yang dipimpin Gubernur wanita tersebut selalu dipajang di Koran-koran, Televisi dan media online. Bahkan para penggiat dunia maya seperti Facebook dan Twitter juga ikut menghujat Ratu Atut and Family.
Sebagai pesakitan oleh media, Ratu Atut bagaikan pendosa, kekayaannya disorot tajam. Ayahandanya juga ikut masuk dalam pemberitaan. Kerabat, tidak luput dari perhatian. Bahkan, cara berpakaian Ratu Atut juga menjadi santapan nyamuk pers. Sehingga, public tahu berapa harga parfum Atut, bajunya, celananya, sepatu lengkap dengan aksesoris yang dikenakan Gubernur tersebut semuanya kita tahu berapa harganya.
Lalu, media membandingkan dengan kondisi daerah Banten. Kemiskinan, kesenjangan, keterbelakangan Provinsi yang pisah dari Jawa Barat tersebut dipadukan dengan kehidupan dinasty Ratu Atut yang glamour. Sudah barang tentu pembaca akan mencak-mencak sehingga mengeluarkan umpatan, cacian dan makian.
Ratu Atut pun akhirnya angkat bicara, memberikan tanggapan seputar prilaku pers padanya. Dia juga menyebut seolah-olah media masa telah menghakiminya. Bahkan, dengan pemberitaan yang dituduhkan. Sedangkan dia tidak melakukan hal tersebut–Seperti Ratu Atut selingkuh dengan anak muda contohnya.
Lalu Sabtu kemaren datanglah kabar yang menyentakan. Suami Atut, Hikmat Tomet meninggal dunia, akibat stroke. Lengkaplah cobaan Atut yang diberikan Allah SWT. Anggota DPR itu menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Subroto. Sejaknya kabar wafat nya suami Atut di publish, seketika pemberitaan miring tentang dirinya berhenti. Mungkin Pers juga punya rasa simpati dan empati.
Namun, yang menjadi pertanyaan saya, apakah akibat pemberitaan tersebut Stroke Hikmat Tomet kambuh. Apakah lantaran istrinya jadi bulan-bulanan oleh media itu Hikmat tak kuasa lagi menahan jantungnya?apakah karena keluarganya di hakimi itu Hikmat Tomet harus dipanggil oleh oleh yang maha kuasa?. Kita tidak tahu. Jodoh, rezeki dan maut adalah rahasia Illahi.
Namun, jika memang karena pemberitaan media masa terhadap keluarganya, stroke Almarhum kumat. Wallahuallam.