Dibanding Dahlan Iskan, Sebenarnya Lebih Baik ARB


Diantara Capres-capres yang ada, siapakah capres yang paling banyak melakukan Pencitraan? Untuk menjawabnya kita lihat dulu obrolan dibawah ini.


Dalam beberapa hari di Kompasiana khususnya di kolom Polhukam ada beberapa artikel yang lucu-lucu.dan membuat ane nggak tahan untuk tertawa. Dan 2 diantaranya adalah artikel tentang Dahlan Iskan yang dibuat oleh Cyber Army Dahlanis.


2 Artikel yang bikin ane merasa geli dan tidak tahan untuk tertawa adalah artikel dengan judul : Surat Kepada Bapak Dahlan Iskan dan artikel dengan judul j;lkj;lkj yang terasa sekali bahwa penulis-penulisnya mungkin masih remaja atau memang orang dewasa yang bersifat kekanak-kanakan.


Bagaimana tidak dibilang lucu karena artikel dengan judul Surat untuk bapak Dahlan Iskan itu penulisnya begitu polos sekali. Pada kalimat pertama dari artikel itu tertulis Surat Kepada Bapak Presiden RI ke 7. Hehehee… sang penulis begitu polos mengutarakan isi hatinya yang terdalam dan dia begitu yakin Dahlan Iskan akan menjadi Presiden tahun 2014. Hehehee.. Malah artikel itu berseri hingga 4 artikel dengan judul yang sama. Ck ck ck.. :D Nggak masalah siapapun boleh bermimpi meskipun realitanya sungguh sangat jauh.


Begitu juga artikel satunya yang berjudul Jokowi, Apalagi Ahok tidak sebanding dengan Dahlan Iskan. Pada artikel ini terlihat penulisnya begitu emosi menulis artikel karena ada satu artikel yang membandingkan Dahlan Iskan dengan Ahok. Uhuuyy.. Tepok Jidat dulu, Ternyata pendukung Dahlan Iskan tidak jauh-jauh sifatnya dari pendukung Luthfi Hasan Isaaq. :D


Dalam artikelnya si penulis Dedy Armayadi mengklaim habis-habisan bahwa Dahlan Iskan jauh lebih hebat dari Jokowi, apalagi dibanding Ahok. Hehehe. Si penulis menggambarkan bahwa Dahlan Iskan adalah seorang Menteri Koordinator sementara Jokowi hanyalah Gubernur DKI. Dahlan Iskan mengelola uang ratusan trilyun sementara Jokowi hanya mengelola puluhan trilyun. (ya iyalah kalau dari lingkup pekerjaannya kan berbeda, bagaimana cara membandingkannya, bos?).


Lalu Dedy Armayadi didalam membalas kolom komentar dibawah tulisannya sempat mengatakan Walikota Surabaya itu jauh lebih baik daripada Jokowi. Jadi kalau Jokowi mau bersaing dengan Dahlan Iskan sebaiknya Jokowi jadi Kepala Desa dulu. Hahahaa.. kalimat-kalimat begini yang bikin ane ngakak karena membayangkan pola logika sipenulis.


Sebenarnya kalau Jokowi mau dibilang lebih jelek dari Ibu Risma atau mau dibilang Gubernur Monyet pun nggak masalah karena fakta-fakta yang ada meskipun tidak pernah mencalonkan diri jadi Capres, Jokowi lah yang paling tertinggi Elektabilitasnya. Jadi kalau mau bicara banding-bandingkan, janganlah kita-kita yang mendukung si A atau si B yang berbicara kesana kemari dengan menghebat-hebatkan tokoh kita atau berdebat fakta yang nggak karu-karuan.


Cukuplah mendengar apa pendapat dari mayoritas masyarakat Indonesia. Dan faktanya adalah Elektabilitas Jokowi sangat jauh lebih tinggi dibanding Dahlan Iskan. Itu artinya di mata masyarakat Jokowi dipandang jauh lebih berprestasi dari Dahlan. Betul begitu kawan? Masa’ mau protes pendapat masyarakat banyak? Hehee..


Dahlan Iskan, ARB dan Pencitraannya.


Ane cuman ngikutin aja apa kata Dedy Armayadi diatas dimana menurutnya kalau ingin membandingan Jokowi, paling maksimal boleh dibandingkan dengan sesama Gubernur, jadi sekarang ane ingin membandingkan Dahlan Iskan dengan ARB dimana Dahlan adalah seorang Menko sedangkan ARB juga mantan Menko. Jadi sudah pas kan? Jangan diprotes lagi yaa.. hahaa.


Lagian keduanya memang sama-sama sangat berambisi jadi Presiden kok. Meskipun kedua-duanya menutup mata terhadap realita. (Dibaca Elektabilitas, boleh senyum dikit nggak yaa? :D).


Didalam dunia politik kita saat ini kalau tanpa prestasi bagaimanakah caranya untuk dapat meraih Elektabilitas yang tinggi? Katanya sih jawabannya adalah: Pencitraan. Jadi meski tanpa prestasi tetapi ingin meraih Elektabilitas maka yang perlu dilakukan adalah melakukan Pencitraan.


Pencitraan dianggap oleh banyak para politisi sebagai cara instan untuk meraih Elektabilitas. Sebenarnya prinsip itu nonsens belaka. Sampai saat ini hingga sampai 1 abad kedepan yang namanya Pencitraan itu tidak akan pernah efektif untuk dapat mengerek sebuah Elektabilitas. Jadi siapa saja yang berusaha melakukan Pencitraan demi Elektabilitas adalah Poltisi yang bodoh. (ini pendapat ane pribadi loh. Tapi kayaknya sih ane benar-benar yakin hal itu).


Lalu bagaimana dengan ARB dan Dahlan Iskan? Apakah keduanya juga melakukan Pencitraan?


Ya memang benar. Keduanya juga melakukan Pencitraan meskipun berbeda caranya. ARB melakukan pencitraan dengan iklan-iklannya di televisi yang menyentuh hati. Hal yang sama juga dilakukan Wiranto dan Prabowo. Bahkan sudah sekitar setengah tahun ARB dan Wiranto dengan rajin menayangkan iklan-iklan yang menyentuh kalbu pemirsa TV. Bolehkah itu? Ya sah-sah saja wong itu duit-duit mereka kok.


Lalu bagaimana dengan Dahlan, bagaimana seorang Dahlan melakukan pencitraan?


Inilah yang sebenarnya yang bikin ane dan banyak orang sudah lama tidak menyukai seorang Dahlan Iskan. Dahlan adalah seorang bisnisman sukses dan seorang Manager yang handal. Kemampuannya mengelola perusahaan media Jawa Pos menjadi buktinya.


Tetapi Dahlan juga sangat berambisi membangun image dirinya. Sayangnya ini mudah sekali terbaca oleh masyarakat. Dahlan menempuh cara-cara aneh untuk melakukan pencitraannya yaitu dengan bermain Sinetron, dengan menjadi bintang iklan produk minuman hingga kebut-kebutan dengan mobil listrik seharga Rp. 3 Milyar. Dahlan berpikir semua itu dapat mengangkat popularitasnya. Ck ck ck…


Dan yang paling parah dari pencitraan yang dilakukan oleh Dahlan Iskan adalah sudah dimulai pada tahun 2009 kemarin. Begitu menjadi seorang menteri Dahlan memulai action-actionnya. Dia membuat gebrakan hebat yang membuat semua orang berdecak kagum kepadanya. Bayangkan saja seorang Menteri Koordinator yang datang ke rapat Kabinet dengan menggunakan jasa Ojek. Lalu sang menteri BUMN itu juga membuat action dengan mengamuk di pintu Tol karena belum dibuka sementara lalulintas sudah macet. Dan kemudian satu lagi sang Menteri terhormat ini tiba-tiba diketemukan Wartawan sedang mencuci Toilet di Bandara Soekarno-Hatta. Ck ck ck..


Aksi-aksi heroic tersebut pada waktu itu benar-benar memukau banyak masyarakat. Dan mengingatkan ane kepada aksi seorang sahabat Dahlan yang bergaji Rp60 juta per bulan tetapi hobbinya naik Kereta kelas Ekonomi. Siapa lagi kalau bukan Rudi Rubiandini. Yang berbeda dari keduanya, Rudi terlalu rakus sehingga dengan mudah dicokok KPK sedangkan Dahlan sampai saat ini belum ketahuan melakukan korupsi. Baru ketahuannya adalah ternyata aksi-aksi heroic si beliau itu dengan naik Ojek, ngamuk di pintu Told an mencuci Toilet Bandara itu ternyata sudah memanggil wartawan duluan untuk merekam aksinya. Hehehe…


Soal Prestasi Keduanya Bagaimana?


Kalau prestasi ARB untuk masyarakat selama menjadi Menko Kesra rasanya tidak ada yang dapat diingat. Artinya adalah prestasinya tidak terlalu bagus jadi tidak dapat dikenang/ tidak dapat diingat masyarakat.


Kalau Dahlan Iskan sendiri di mata ane juga tidak berprestasi. Sebelum menjadi Menteri BUMN, Dahlan adalah Dirut PT.PLN. Dan sepanjang dibawah pimpinannya Dahlan hanya mampu membuat tariff Dasar Listrik menjadi naik. Tentu saja hal itu dipandang satu sisi menguntungkan bagi PT. PLN tetapi dalam sisi lainya malah memberatkan rakyat. (bandingkan dengan pasal 33 UUD 45).


Satu lagi mengenai posisinya sebagai Dirut PT.PLN, ternyata dibawah kepemimpinannya PT.PLN oleh audit BPK ternyata Dahlan telah dipandang melakukan pemborosan belanja PLN sebanyak Rp.37,5 Trilyun sementara pasokan Listrik untuk daerah-daerah tidak juga mengalami kemajuan. Betul untuk Jakarta ada perubahan pasokan listrik yang stabil tetapi didaerah malah semakin memburuk pasokan listriknya.


Selama 2 tahun ditangan Dahlan, PT.PLN mengalami kenaikan Hutang, kalau tidak salah sebesar Rp. 60 Trilyunan. Sementara pemborosan yang Rp. 37,5 Trilyun itu tidak jelas pertanggung-jawabannya. Sempat dipanggil DPR dimintai keterangannya tetapi malah Dahlan balik melaporkan beberapa anggota DPR telah melakukan kongkalikong dengan BUMN yang ada. Bukan main. Dan akhirnya yang terjadi adalah kedua kasus tersebut sama-sama tidak jelas penyelesaiannya. (mungkin saling menutupi dosa-dosa masing-masing).


Kemudian tentang PJKA dan Merpati sebagai dua dari BUMN yang dipegang oleh Dahlan. PJKA adalah perusahaan monopoli untuk jasa angkutan kereta api sama halnya dengan PLN yang memonopoli pasokan listrik masyarakat. Dan PJKA ditangan Dahlan telah berhasil menghapus tariff tiket kelas Ekonomi. Bayangkan hebatnya Dahlan kalau dalam upaya meningkatkan keuntungan perusahaan. Jelas bahwa dengan tariff yang naik, PJKA akan mengalami pertambahan keuntungan tetapi di sisi lainnya masyarakat banyak yang akan terbebani.


(jangan bandingkan dengan Jokowi loh yang berupaya membuat transportasi missal yang murah! Kalau bandingkan dengan Jokowi pasti ada yang marah! Hehee..).


Berbeda dengan PJKA dan PLN yang merupakan perusahaan monopoli, ternyata Dahlan kesulitan mengupayakan PT Merpati Nusantara.untuk dapat bersaing dengan para pesaingnya seperti Lion Air, Sriwijaya dan lainnya. Merpati Nusantara meskipun sudah disuntik dananya berulang-ulang oleh pemerintah tetapi kinerjanya tidak juga membaik. 4 tahun PT. Merpati dikoordinir Dahlan tidak ada juga kemajuan yang berarti meskipun suntikan dana sudah Trilyunan rupiah. Jadi Dahlan sukses dengan perusahaan Monopoli saja sementara BUMN yang harus bersaing kelihatannya Dahlan tidak mampu berbuat apa-apa.


Disisi lain yang juga membuat beberapa kali ane sangat kecewa dengan Dahlan Iskan adalah dia sering mengelak dari tanggung-jawabnya. Ane ingat ketika Dahlan ditanya wartawan soal PT. Telkom yang tiba-tiba memberlakukan tariff sepihak sebesar Rp.150 ribu per bulan kepada pelanggannya, jawaban Dahlan : ah itu masalah koorporasi. Begitu juga ketika ditanya kasus sengketa tanah Tol PT. Jasa Marga dimana Dahlan mengatakan itu urusan PT. Jasa Marga. Dan satu lagi ketika banyak kopor-kopor hilang di bandara Soekarno-Hatta dan jawaban Dahlan : Biasa saja itu. Di Bandara-bandara Amerika dan Eropa barang hilang itu sudah biasa. (Begitulah cara Dahlan menghindar dari tanggung-jawabnya).


Jadi kesimpulannya di mata ane antara Dahlan dengan ARB meskipun ane tidak suka keduanya tetapi kalau sangat terpaksa dimana Jokowi belum tentu Nyapres, maka pilihan jatuh kepada ARB dengan alasan-alasan tersebut diatas.


Bagaimana dengan anda?


Salam Blogger…@Galaxi2014






sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/13/dibanding-dahlan-iskan-sebenarnya-lebih-baik-arb-610238.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger