Kepala Kampungku Suka Galau


13841429201616106342Membangun desa tak terlepas dari campur tangan perangkat desa, masyarakat serta generasi muda. 3 elemen penting itu sangatlah dibutuhkan dalam bekerja sama untuk kemajuan desa. Ketika masyarakat ingin desanya maju, tetapi kepala kampung tak ada semangat untuk mengakomodir saran dan pikirian masyarakat, desa akan jalan ditempat, seperti kereta dengan penumpang banyak, bahan bakar cukup tetapi sang masinis malah tidur dan malas mejalankan kemudi. Hal berbalik juga bila Kepala Kampung semangat membangun desa tetapi masyarakatnya hanya hidup dalam keegoisan, tak ada rasa ingin membangun desa, maka sekali lagi kemajuan desa akan jalan ditempat.


Lalu apa hubungannya dengan “Galau”? Ya ketika semua elemen desa seperti masyarakat, kepala desa dan generasi mudanya tak bisa berembug dalam pembangunan desa secara nyata, harusnya dengan kecanggihan teknologi seperti facebook dan twitter, bisa menjadi ajang temu, sharing dan diskusi tentang kemajuan desa. Tak dipungkiri bahwa jejaring sosial seperti facebook, kini hampir semua orang sudah memiliki akun seperti itu. Tetapi terkadang Facebook acap kali malah dijadikan tempat curhatan isi hati, facebook sering digunakan untuk meluapkan kemarahan, ya facebook seolah-olah mewakili isi hati yang sedang kalut, dalam istilah kerennya “Galau”. Sah sah saja menumpahkan rasa seperti itu di facebook. Tua muda semua bermain facebook, tak ada yang melarang. Celakanya, bila pemimpin, yang notabene menjadi panutan didalam komunitas masyarakat, dalam hal ini adalah kepala desa, malah menggunakan jejaring facebook hanya untuk share kalimat-kalimat “Galau”. Ini sangat membahayakan generasi muda. Mengapa? Bagaimana menjadi teladan dan memberi semangat membangun desa bila sang pemimpin hanya bisa galau, tak semangat, selalu updates status seperti dizolimi, minta dikasihani dan dimengerti di jejaring sosial seperti facebook? Kasihan generasi mudanya, punya pemimpin seperti ini, yang selalu galau di facebook. Pemimpin adalah teladan, Pemimpin adalah contoh. Ketika tak bisa mempersatukan masyarakat, aparat desa serta generasi muda, mengapa tak menggunakan jejaring sosial seperti facebook sebagai sarana berdiskusi dan membangun desa? Malah seperti ABG yang patah hati dan galau di Facebook.


Pelajaran bagi kita, Jangan galau di jejaring sosial, karena Pemimpin adalah contoh.



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/11/11/kepala-kampungku-suka-galau-609642.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger