image: foreignpolicy.com
“Indonesia memasuki status darurat Perang Cyber” demikian salah satu judul headline sebuah media online hari ini. Kedengarannya menyeramkan; tetapi bila kita cerna, inilah bentuk patriotisme baru era cyber saat ini. Mendapati para pasukan cyber yang rata-rata anak muda adalah sesuatu yang membanggakan karena ternyata mereka tidak kalah pengetahuan dan penguasaan IT nya dari negara-negara lain.
Munculnya cyber war yang sedang berkecamuk saat ini dipicu oleh operasi spionase yang lancarkan oleh Amerika dan Australia terhadap negara Indonesia. Amerika dan Australia melancarkan operasi penyadapan pada instalasi komunikasi dan elektronik para pejabat, termasuk kantor presiden. Mereka sangat berkepentingan dengan Indonesia, terutama untuk memonitor apa yang dilakukan dan akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
Menyaksikan bahwa negaranya telah diacak-acak oleh orang asing, dalam hal ini Amerika dan Australia, anak-anak muda yang menamakan diri pasukan anonymus atau hacker melakukan perlawanan dibawah komando Om-Jin, co-founder The Indonesian Security Down, dengan cara menyerang situs-situs pemerintah Amerika dan Australia.
Dengan semangat patriotik dan heroik tinggi, para hacker Indonesia yang sedikitnya berjumlah 500 pasukan terus melakukan koordinasi komando, penentuan target sasaran, waktu serangan dan langkah-langkah lain serta tools yang dibutuhkan untuk terus memborbardir lawan. Mereka melakukan ini semua bukan untuk mencari ketenaran atau perhatian tetapi untuk menjaga kedaulatan negara.
Meskipun demikian, para pasukan hacker tersebut ternyata memiliki dan memegang teguh etika dan aturan bahwa mereka tidak serta merta men-deface situs-situs Australia atau Amerika secara acak demi menjaga nama Indonesia.
“Ini adalah protes kami, selagi Anda (bapak Presiden) tutup mata terhadap aksi spionase dan penyadapan yang dilakukan oleh negara lain, kami akan bertindak, kami akan terus bombardir lawan, dan kami melakukan ini tanpa merugikan keuangan negara, tidak korupsi, tidak memakan uang rakyat, dan tidak melakukan pencucian uang,” ungkap sang Komandan di laman grup Indonesia Security Down di Facebook.
Dapat kita baca bahwa apa yang dilakukan para anak muda tersebut adalah ekspresi dari kecintaaan yang tinggi mereka terhadap bangsanya. Lebih dari itu, untuk hal patriotisme orang Indonesia adalah jagonya. Setiap saat nama atau negara Indonesia dijadikan sasaran bullying, pelecehan apalagi ada aksi spionase, penyadapan atau bentuk invasi lainnya dari negara lain; tanpa dikomando oleh pemerintah, rakyat Indonesia akan bergerak membela martabat, marwah dan jati diri negaranya.
Tetapi sesungguhnya bangsa ini juga mengalami anomali di dalam tubuhnya dimana patriotic gap antara rakyat dan para pejabat semakin melebar. Bagi rakyat, membela tanah air dari serangan musuh adalah harga mati, jihad atau perang suci. Rakyat tidak pernah berhitung atau pamrih akan mendapat apa dari perjuangannya. Hal ini berbeda 180 derajat dari patriotisme para pejabat. Para pejabat negeri ini, mulai dari presiden, para menteri hingga para diplomatnya, lebih mengedepankan “saya dapat berapa” dari perjuangan yang mereka lakukan.
Oleh karena itu saat ini kita saksikan bagaimana Indonesia sering menjadi bulan-bulanan negara lain, terutama bila menyangkut diplomasi antar negara dan perjanjian-perjanjian bisnis. Kekayaan alam negeri ini lebih banyak dikuasai oleh pihak asing dan menjadikan kita sebagai penonton di negeri sendiri.
Berlangsungnya cyber war saat ini yang digelorakan oleh pasukan-pasukan muda Indonesia dalam melawan para penjajah modern harus menjadi cermin instropeksi, terutama bagi para pengelola negara yang sedang berkuasa. Patriotisme atas nama negara dan demi harga diri bangsa harus menjadi bendera tertinggi bila kita tidak ingin negeri ini menjadi bulan-bulanan dan bancakan negara lain.