Solusi Blok G Tanah Abang


Berita headline “Pedagang Blok G Tanah Abang vs Jokowi” menjadi perbincangan hangat masyarakat. Kejadian ini setidaknya membuat saya yg jokowi lover menjadi khawatir akan persepsi masyarakat yang mempertanyakan kemampuan jokowi dalam mengelola masyarakat yang menjadi parasit ketertiban umum untuk dicarikan pekerjaan pengganti atau setidaknya relokasi.


Jokowi memang pernah berhasil merelokasi pasar-pasar yg ada di Solo ketempat baru dan tempatnya barunya pun tidak menjadi masalah bagi pedagang dalam mencari keuntungan. Hal ini menurut saya karena di solo pasar dan mall tidak sebanyak dijakarta sehingga masyarakat Solo tetap akan berkunjung ke pasar yang telah direlokasi karena pasar substitusi bagi masyarakat terbatas. Inilah yang harus dipikirkan pak jokowi dalam mengelola pasar di jakarta. Saya mempunyai pengalaman dalam mengelola di trade mall sehingga saya setidaknya paham kenapa Blok G Tanah Abang tidak berhasil dalam mengelola pedagangnya.


Blok G Tanah Abang secara lokasi adalah lokasi yg strategis tapi ada 1 hal menurut saya yg belum berhasil diciptakan Jokowi yaitu crowd pasar Blok G tanah Abang. Saya mempunyai keyakinan jika pasar ini diserahkan ke swasta, pasti akan ramai dan menguntungkan. Pemirsa bisa liat blok A dan B tanah abang yg dikelola Agung podomoro.


Aspek promosi sebenarnya sudah dilakukan oleh media dan pak Jokowi. Pemberitaan di media tentang keberhasilan jokowi tidak secara langsung mempromosikan keberadaan pasar tersebut.


Berkaca sama trade mall dan ITC, solusi yang tepat menurut saya adalah

1. membagi jumlah kios untuk pedagang kecil dan pedagang mini anchor. Alasan Blok G butuh mini anchor adalah karena mini anchor mempunyai customer base yang kuat sehingga pasar blok G akan tetap ada transaksi. Setidaknya dengan adanya mini anchor pasar blok G kecipratan promosi yg dilakukan oleh mini anchor tersebut.

Pertanyaannya bagaimana jika para mini anchor tidak mau membuka lapaknya di Blok G?

Jawabanya ada pada pengalaman citos jakarta dalam membantu citos surabaya utk meningkatkan crowd dan eksklusivitas citos surabaya. Manajemen citos jakarta tidak melanjutkan kontrak sewa unit leasing untuk anchor-anchor yg tidak mau membuka cabang di citos Surabaya.

2. Membuat flow pengunjung sehingga semua kios bisa terlihat dan dilalui oleh pengunjung.


Saya akhiri karena akhir kalimat ini saya tulis, adzan maghrib berkumandang.


Salam.

Khariri



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/11/12/solusi-blok-g-tanah-abang-607335.html

Artikel Terkait:

 

Kompasiana Blog Copyright © 2014 -- Powered by Blogger