Sambil poop di toilet.
Aku: Selamat pagi, Pak Beye.
SBY: Selamat pagi juga.
Aku: Sudah update fesbuk dan twitter, Pak?
SBY: Ooh… Sudah dong….
Aku: Boleh tanya-tanya sedikit sambil aku be a be?
SBY: Tentu boleh….
Aku: Soal kebijakan impor mobil dan motor, apa lagi yang murah-meriah itu wilayah siapa? Pemerintah pusat atau daerah?
SBY: Harus pusat dong.
Aku: Di bawah kendali Presiden?
SBY: Pastinya.
Aku: Jika terjadi kemacetan atau kesemrawutan lalu lintas, siapa yang tanggung jawab?
SBY: Itu tanggung jawab gubernur atau kepala daerah yang bersangkutan.
Aku: Ooooo (mulai ora mudheng). Oke. Baca-baca berita, konon Bapak suka marah saat pidato ada peserta rapat dan sejenisnya tertidur?
SBY: Gak betul itu, saya gak marah. Cuma tersinggung.
Aku: Oke… Kita ke masalah nyantai. Konon, Bapak suka nyanyi, nggitar, dan bikin lagu?
SBY: Iyaaa…iyaa. Itu hobi dari muda.
Aku: Siiippp… Mangtaaaaff. Bisa menyanyikan kapan saja? Misal menjelang dan saat upacara atau acara kenegaraan?
SBY: Bisa dong. Memangnya kenapa?
Aku: Ok. Denger-denger Ibu suka motret atau fotogarfi?
SBY: Iya. Itu salah satu hobi Ibu Negara.
Aku: Owwwhh. Beliau boleh motret saat duduk mendampingi Bapak pada acara resmi atau kenegaraan? Seperti halnya menyanyikan lagu Bapak pada saat resmi?
SBY: Boleh lah.
Aku: Kok bisa Pak?
SBY: Ya bisa saja.
Aku: Alasannya?
SBY: Suka-suka saya. Saya kan presiden. Istri saya kan nyonya presiden.
Aku: Terima kasih wawancaranya pagi ini, Pak. Aku mau cebok dulu.
(Benar kata Cak Nun, dia gak paham mana tai mana roti)
*Ini adalah status FB-ku pagi ini. (Rakyat boleh gelisah, resah, miskin, menderita. Penguasa tetap jalan terus dengan gayanya.)