Doa Para Wakil
Rana Karno dan Ratu Atut tidak Akur? Publik sudah tahu bahkan Rano Karno pernah mau mengundurkan diri sebelumnya.
Saat kampanye mereka begitu lengket, dana kampanye dibagi berdua, partai pendukung bahu membahu. Setelah menjabat? Bukan rahasia lagi karena besarnya ongkos kampanye tak jarang muncul para penyandang dana.
Tentu saja itu bukan uang gratis. Ketika sponsor menagih janji, hal ini menjadi hitung - hitungan ekonomi yang rumit antara pejabat dan wakilnya. Ratu Atut vs Rano Karno bukan yang pertama, ada Heryawan vs Dedi Yusuf di Jabar, Foke vs Prihanto di DKI, bahkan SBY vs JK walau tidak terbuka. Bukan tidak mungkin berikutnya Jokowi vs Ahok.
Sponsor bukan selalu orang luar, tetapi juga kas partai. Tidak mungkin uang partai dihamburkan untuk kampanye tanpa pernah diisi oleh yang berhasil menjabat.
Ini akan menjadi pelajaran ke depan. Saat elektabilitas tidak mendukung, menjadi wakilpun bukan pilihan buruk, apalagi jika mampu menumbangkan si ketua saat masa jabatannya belum berakhir.
Jika politik begitu mahal, mungkinkah ada politisi yang bersih di negeri ini? Menurunkan biaya politik itulah PR besar bangsa ini.